The Return of Mine

Cast: Onew, Kim Taeyeon

Genre : Romance

Length : Oneshot

Disclaimer : Onew (Lee Jinki) and Taeyeon belong to God, their parents and SME own him now. But this story is mine :3

Note: Pernah dilombain dan dipost di blog http://specialshin.wordpress.com/ tapi cuma jadi runner up. Dan cast awalnya adalah Sungmin-Yoonji tapi aku ganti dan aku repost :D Tulisan yang pake Italic itu flashback yah.

*          *          *

   Ketika jiwamu penuh terisi rasa bahagia, kau mungkin akan tersenyum pada segala hal. Ketika jiwamu mendapat kejutan yang menyenangkan, kau mungkin akan selalu melantunkan ucapan manis. Namun ketika semua berubah, ketika milikmu yang berharga telah menjauh, dapatkah kau tetap tersenyum dan berucap manis? Atau lebih baik menutupi segalanya, menjadi dirimu yang penuh binar bahagia, membiarkan hatimu terinjak dan terkurung dalam kepiluan?

Bahkan aku pun sering terperangkap dengan pikiran itu. Terbelit dalam pertanyaan yang menyesakkan. Mungkinkah milikku yang berharga itu kembali? Aku selalu ingat segalanya, aku ingat setiap detik waktuku bersamanya. Aku selalu ingat, betapa bahagia mendengar satu kata ajaib itu meluncur dari bibir manisnya.

   “Kau ingin boneka panda itu?”

   Aku menatap sosok di depanku dengan wajah terbaikku. Kuselipkan seutas senyum manis di bibirku, membiarkannya mengelus kepalaku dengan lembut.

   “Baiklah. Kau tunggu di sini, aku akan segera kembali.”

   Tak ada yang dapat kulakukan selain menatap punggungnya yang bergerak menjauh. Menunggunya kembali bersama boneka yang sudah lama kuinginkan. Namun pada akhirnya, ia kembali tanpa membawa apapun, bahkan sehelai bulu pun tak tampak dalam genggamannya.

   “Tutup matamu.”

   Masih sambil berusaha menutupi rasa kecewaku, kututup mataku perlahan. Kurasakan sesuatu bergerak di dekat kepalaku, di dekat leherku. Dan hanya butuh beberapa detik sebelum akhirnya sesuatu yang tipis dan dingin itu menggantung di leherku.

   “Buka matamu.”

   Aku selalu tak bisa menolak permintaannya. Maka dengan amat perlahan, kubuka mataku, langsung mengarahkan pandanganku pada leherku. Dan disanalah panda itu berada. Berukuran amat kecil, berlapis perak dengan kilau permata di tepian tubuhnya. Sebuah kalung dengan bandul panda menggantung manis di leherku.

   Kutatap sosok di depanku yang tengah tersipu malu. Namun ia menatapku lembut dan dalam. Ia kembali mengelus kepalaku lembut, mengalirkan kehangatannya. Dan dengan suara ringan yang menenangkan, kata ajaib itu mengalun dari mulutnya.

   “Saranghae…”

Bukan. Bukan berarti aku ini manusia lemah yang selalu menjebak diriku sendiri dalam kesedihan. Namun kenangan indah itu terus terekam dalam kepalaku, seperti kaset yang rusak, tidak bisa berhenti, hanya memainkan satu adegan yang sama.

“Ada apa, Kim Taeyeon?” pertanyaan Euna membuyarkan lamunanku.

Aku menatapnya kikuk dan menggeleng pelan. “Tidak ada. Aku hanya memikirkan anjingku yang sedang sakit. Ia mual-mual seperti orang hamil,” jawabku asal.

Kim Euna menatapku sesaat dan mengedikkan bahunya. “Baiklah. Selama kau tak memikirkan pria itu, kurasa kau dalam keadaan baik.”

Aku tersenyum simpul mendengar celoteh gadis berambut ikal itu. Ia memang tahu seluk beluk kisahku. Ia tahu bagaimana proses hubunganku dengan pria itu. Ia tahu mengenai kecelakaan dan kepergian pria itu. Ia tahu segalanya tentang pria itu; Onew.

“Sudah kubilang, kau hanya akan menyiksa dirimu saja,” Euna masih melanjutkan omelannya, “Melihatmu menunggunya dan memikirkannya seperti ini, sungguh membuat mataku sakit. Kau tahu, kau sangat buruk dalam berakting.” Ia sedikit mencibir dan melanjutkan, “Aku mengerti rasa bersalah atau sedih atau apapun itu yang kau rasakan, tapi jangan paksa dirimu seperti ini, menyembunyikan kegelisahanmu sendiri, padahal aku ada di depanmu, siap mendengar segalanya. Atau kau memang ingin melihatku membeku di sini tanpa berbuat apapun?”

Aku terkekeh mendengarnya. Kuaduk cappuccino di hadapanku untuk yang kesejuta kalinya. Udara dingin tampaknya sudah membuat bibirku kaku. Andai saja ia masih di sini, ia pasti akan mengomel dengan wajah bodohnya lagi.

   “Astaga, Kim Taeyeon… apa yang kau pikirkan? Pakaian apa itu?” omelnya.

   Aku mencibir. Baru saja datang, sudah marah-marah begitu. “Apa yang salah dengan pakaianku?” balasku tak kalah ketus.

   Ia balik mencibir, “Aisshhh… kau ini bodoh atau apa? Salju sudah turun dan kau tak memakai mantel? Kau pikir jaket putihmu itu bisa menahan dinginnya udara ketika bersalju?”

   Aku hanya diam menatap pakaianku sendiri. Memang, sudah dari tadi aku menggigil menahan dingin. Bagaimana tidak? Ia mengajakku bertemu di taman terbuka ketika bersalju, dan bahkan sempat-sempatnya datang terlambat. Mantelku belum kering sehabis dipakai hujan-hujanan kemarin. Kemudian, yang dilakukannya sekarang hanya mengomel?

   Masih sibuk dengan pikiranku, sebuah benda cokelat tiba-tiba menghalangi pandanganku. Mantel?

   “Pakai ini.” Onew menggoyangkan mantel cokelatnya di hadapanku. Ia membuang muka, tak mau menatapku. Tapi aku bisa melihat semburat merah di wajahnya. Apakah ia kedinginan? Atau ia malu?

   Aku terkikik melihatnya. “Ada apa? Mengapa kau tak mau menatapku? Kau malu?” godaku. Kutarik tangannya, berusaha membuatnya menatapku.

   Tapi wajahnya malah makin memerah. Ia menarik tangannya dan kembali membuang muka. “T-Tidak. Tentu tidak. Aku kedinginan,” elaknya kikuk. “Cepat pakai! Dasar bodoh!”

   Aku tak kuasa menahan tawa. Melihatnya merona begitu saja sudah membuatku cukup hangat.

“KIM TAEYEONI!!” teriakan Euna kembali menarikku ke alam nyata, meninggalkan lamunan indahku. “Kau ini kenapa, sih? Apa musim dingin selalu mengingatkanmu padanya?”

Musim dingin? Tentu. Musim dingin adalah waktu dimana kami menghabiskan banyak waktu bersama, mengukir berjuta kenangan manis yang kini malah menjadi pisau yang tajam.

Aku menggeleng pelan, “Tidak juga. Aku hanya memikirkan Daegeum. Kasihan kalau anjing kecil itu terus mu—”

“Taeyeon-ah…” Euna memotong ucapanku. “Berhentilah mengelak. Sudah lebih dari setengah tahun kau melakukan ini. Jangan menekan dirimu dan menyimpan semuanya sendirian. Ayo, cerita saja. Aku tak keberatan mendengar cerita yang sama untuk yang kesejuta kalinya.”

Kutatap gadis di hadapanku itu. Aku jarang mengakui semua ini—kecuali padanya, tapi sekarang rasanya aku memang harus menumpahkan pikiranku lagi. “Dia amat istimewa—tentu. Dia yang selalu menemaniku mengerjakan semua tugasku. Dia yang akan mengiringiku bernyanyi. Dia yang bernyanyi untukku ketika suaraku serak. Dia yang sering menatapku dengan matanya yang teduh. Dia yang tak pernah berhenti menyunggingkan senyum manis di bibir tipisnya. Aku tak bisa melupakannya begitu saja. Kau tahu, kejadian naas itu berlangsung di depan mataku… mungkin, aku ini penyebabnya…”

Kini Euna menatapku kasihan. Ia tersenyum sedikit dan mengelus bahuku lembut. “Jangan bicara begitu, Taeyeon-ah… Bukan kau yang menabraknya. Jangan bertingkah seperti ini. Sekarang ia pergi, mungkin demi kesehatannya, juga demi kau. Agar kau tak terlilit dalam perasaan bersalah…”

Aku menghela nafas panjang. “Aku sendiri tak mengerti, Euna-ya… Aku merasa… Entahlah… Aku yang menyuruhnya datang dengan cepat… tapi… Ahhh… aku bahkan belum menjenguknya. Ketika aku datang ke rumahnya, tetangganya bilang ia sudah pindah ke luar negri. Aku makin merasa tak enak…”

Euna kembali mengelus bahuku. “Aku tahu kau menderita dengan perasaan bersalahmu. Tapi aku akan selalu membantumu. Kau harus kembali seperti dulu, bagaimanapun caranya.”

Aku menatapnya lembut. “Gomawo…”

*             *             *

   “Eomma! Aku pergi dulu!” seruku seraya mengambil roti di meja dengan kasar. Tanpa menunggu jawaban dari ibuku, aku segera bergegas keluar.

Hari ini tepat 3 tahun sejak aku bertemu dengan Onew, nyaris 2 tahun sejak kami memiliki hubungan khusus, dan tepat 8 bulan sejak ia mengalami kejadian naas itu. Aku selalu melakukan rutinitas ini setiap bulan. Datang ke tempat kenangan kami. Tak ada kata terlambat! Ya, terlambat sedikit saja akan membuat waktu terpotong. Padahal aku harus berkunjung ke banyak tempat.

Kakiku melangkah cepat menuju halte bis, menyusuri trotoar yang ditutupi salju tipis berwarna kelabu. Tempat pertama yang harus kudatangi adalah bis. Ya, bis adalah tempat dimana kami tertidur dengan bodohnya.

Bis hijau yang kumaksud datang dengan cepat. Untunglah kali ini bis agak sepi, jadi lebih leluasa untuk bernostalgia.

Aku duduk di pojok belakang. Di sini, setahun yang lalu, aku dan Onew pulang malam dari pesta perpisahan kelas 3. Rasa lelah yang teramat sangat membuatku jatuh tertidur. Kemudian, ketika aku terbangun, aku mendapati Onew—yang duduk di sebelahku—tengah tertidur dengan kepalanya meyandar di bahuku.

Saat itu aku agak panik, takut ia terbangun karena degup jantungku. Tapi pada akhirnya ia dibangunkan oleh supir. Kami telah sampai di perhentian terkahir. Itu tandanya, kami telah kelewatan 3 halte. Ini terjadi gara-gara kami ketiduran saat itu.

Aku masih sibuk dengan kenangan manis itu ketika bis yang kunaiki berhenti di halte berikutnya. Namun aku masih belum mau turun. Kupandangi jalanan di luar yang penuh salju. Kuperhatikan tiap-tiap pejalan kaki yang lewat. Dan mataku terpaku pada sesosok pria bermantel cokelat. Ia memakai topi hitam dan syal abu-abu. Pria itu… Onew?

Aku menggeleng, berusaha menolak pikiranku sendiri. Tidak mungkin itu Onew. Ia seharusnya berada di luar negeri sekarang. “Taeyeon bodoh! Begitu besarkah rasa sukamu padanya? Bahkan kau berhalusinasi di siang bolong begini,” gumamku pelan.

Selanjutnya aku berkunjung ke restoran kimbab di dekat Myeong-dong. Restoran ini kecil namun ramai oleh pengunjung. Kimchi dan kimbab di sini memang luar biasa. Enak, banyak, dan murah.

Aku kembali mengingat segalanya. Disinilah Onew membuatku malu setengah mati. Ia tersedak tiga kali dan tertawa terbahak-bahak untuk menutupi kecanggungannya. Ia sok memesan kimchi tambahan untuk megalihkan kekikukkannya. Tapi sialnya, ia meninggalkan dompetnya di rumah. Saat itu semua pengunjung benar-benar menatap kami dengan pandangan merendahkan.

Aku mendesah pelan ketika ingatan itu mampir di pikiranku. Onew… kau benar-benar telah membuat ingatan yang tak terlupakan.

Aku terus berkeliling, mendatangi sekitar sepuluh tempat kenangan. Tempat kesebelas yang kudatangi adalah NST—N Seoul Tower. Tak ada warga Korea yang tak mengenal tempat ini. Di menara inilah terdapat pagar gembok cinta.

“Tofu Onew! Kau harus selalu bahagia. Jaga kesehatanmu…” gumamku, seraya menuliskan kata-kata itu pada kertas pink yang akan kusematkan di gembokku.

   Onew menatapku dan menuliskan sesuatu di kertasnya. Aku berusaha melihatnya, namun ia terus menghindar. “Setahun lagi, kalau kita ke sini lagi, baru kau boleh melihat pesanku.”

   Aku mencibir, “Kau curang! Padahal aku sudah membacakan pesanku!”

   Ia terkikik,” salahmu sendiri. Aku tak pernah memintamu membacakannya!” balasnya.

   Aku tak berkutik. Memang, aku sendiri yang dengan bodohnya membacakan pesanku. Dan akhirnya, setelah ia menyematkan pesannya, kami mengunci gembok kami bersama-sama dan membuang kuncinya ke bawah. Sebenarnya ada tulisan “DON’T THROW YOUR KEY”, tapi siapa peduli? Kebudayaan harus dijaga, bukan?

Aku menatap gembok pink yang masih terkunci rapat di salah satu sudut pagar. Gembok bulat besar ini dipasang di sudut yang agak kosong sehingga mudah ditemukan.

Kutatap pesan dari Onew: “Nae kwiyeopda Taeyeonnie, yeongwonhi saranghalge”. Onew mencintaiku selamanya… aku tak bisa menahan senyumku. Tepat setahun setelah kami memasang gembok ini, Onew terkena demam sehingga aku terpaksa mengintip pesan ini sendirian.

Aku selalu bahagia melihat pesan ini. Namun kali ini seperti ada sesuatu yang menyodok paru-paruku, membuatku merasa sesak. Aku berusaha menahan air mataku agar tak mengalir turun, membiarkannya menggenang di pelupuk mataku.

Aku mengangkat kepalaku, berusaha mendapat udara segar agar lebih tenang. Dan ketika aku menoleh, aku mendapati seorang pria berdiri tak begitu jauh dariku; hanya sekitar 6-7 meter. Lagi-lagi… Pria itu… Onew? Benarkah itu Onew?

Aku kembali menggelengkan kepalaku. Air mataku pastilah sudah membuyarkan pandanganku, membuat semua pria terlihat seperti Onew. Mengapa hari ini aku banyak berhalusinasi?

Dengan langkah berat, aku segera keluar, menuju tempat terakhir yang harus aku kunjungi. Memang cukup jauh dari NST, tapi aku harus datang ke tempat ini.

Bis hijau yang mulai penuh ini membawaku ke wilayah Gangnam-gu. Aku kemudian berhenti di halte dekat persimpangan. Kembali dengan langkah berat, aku menyusuri trotoar dan berhenti di tepi jalan, di depan zebra cross, tepat di persimpangan yang kumaksud. Persimpangan yang cukup besar namun tak begitu ramai.

Dan fuala! Ingatan itu kembali melayang dalam pikiranku.

   “Mangkanya, datang lebih cepat! Kau pikir aku tidak lelah menunggumu?” omelku pada Onew melalui ponsel yang tengah kugenggam.

   “Ya, ya… aku sudah ada di sekitarmu. Aku ada di sebrang. Kau bisa melihatku?” balasnya.

   Aku segera mengarahkan pandanganku ke sebrang jalan. Di sanalah pria aneh itu berdiri, dengan sweater bergambar ayam goreng dan topi putih, ia melambaikan sebelah tangannya. “Kau lihat aku? Aku sedang melambai. Tunggu di sana…”

   Aku terkikik melihat caranya menengok kiri-kanan. “Cepat, cepat… atau aku akan pergi…” ujarku, masih melalui ponsel.

   Aku bisa melihat tawa di bibirnya. “Ya, ya… hanya empat meter la—”

CKIITTT…

 BRUGH!!!

   Aku tak kuasa menggerakan tubuhku pada detik-detik pertama. Perkataan Onew terpotong ketika sebuah bis melaju dengan amat cepat dari jalan simpang, menghantamnya tanpa ampun.

    Kulihat dengan jelas, tubuhnya terpelanting keras. Ponselnya terseret dan terlindas roda bis sial itu. Air mataku mulai menggenang, mengiringi langkahku yang penuh gemetar hebat.

   “ONEW!!!”

   Kurasakan sesuatu mengalir di pipiku. Aku tak bisa menahannya. Melihat sosok yang amat kucintai terbaring di aspal keras itu… aku… aku…

Oh Tuhan… apakah ini salahku? Berjuta kali aku menanyakan ini. Apa karena aku memaksanya bergerak cepat? Saat itu dia masih hidup. Dia masih bernafas. Ambulans datang dengan cepat, memberikan pertolongan padanya. Bahkan ketika aku hendak menjenguknya di rumah, tetangganya pun telah menjelaskan kalau ia masih hidup. Tapi sungguh, bagaimana keadaannya sekarang, aku jugatak tahu.

“Yeong…won…hi… Sa…rang…hal…ge…”

Bisikan terakhir yang kudengar darinya kembali terngiang-ngiang di kepalaku. Andai aku bisa melihatnya… bisa mengetahui kondisinya…

Dan sial memang. Pandangan kaburku membawaku kembali melihat sosok laki-laki di sebrang jalan. Laki-laki yang mirip dengan Onew.

Aku segera melangkah pergi. Tidak bisa. Kalau aku terus berdiri di situ, aku akan merusak mataku dan mengacaukan pikiranku. Bayangan itu terus datang, membuatku makin gila saja.

Setelah lelah berjalan dan menangis dengan gamblangnya, aku memutuskan untuk beristirahat di sebuah kafe. Aku memilih tempat di tepi jendela, agar bisa leluasa memandang jalan. Setelah cappuccino favoritku dan moon-cake cokelat pesananku datang, aku segera mencicipi semuanya. Makan dan minum seperti ini sering membuatku merasa lebih tenang.

Masih sambil mengunyah moon-cake-ku, aku kembali melempar pandanganku ke luar jendela. Dan mataku segera bertabrakan dengan sepasang mata di luar sana. Mata cokelat tua yang menatapku dengan pandangan sendu.

Mata itu milik pria bertopi hitam yang dari awal telah menggangu pengelihatanku. Aku kembali menggeleng dan mengusap mataku lelah. Namun ketika aku kembali menengok, sosok itu masih berdiri di sana. Nyata.

Aku segera bangkit dan keluar, menghampiri pria itu.

Ia masih menatapku dengan matanya yang sendu. Ia tak berkata apapun, hanya diam dan menatap. Air mataku kembali mengalir tanpa dapat kutahan. “Onew…” bisikku lirih. Aku yakin pria dihadapanku ini adalah milikku yang pernah hilang.

“Onew…” panggilku lagi. Ia masih berdiam diri, tak menjawab panggilanku. “Onew-ya… mianhae…” tangisku benar-benar pecah sekarang.

Dan dalam hitungan detik, tubuh ramping di hadapanku itu menarikku ke dalam pelukannya, merengkuhku dengan kuat, seakan tak mau aku pergi.

“Bogosipeo…” bisiknya dengan suara rendah yang serak.

Aku terhenyak sebentar ketika mendengar suaranya. “Ya! Onew… apa kau baik-baik saja?” tanya sambil melonggarkan pelukannya.

*             *             *

(Onew’s POV)

Aku nyaris tak mempercayai mataku sendiri ketika aku melihat seorang gadis berambut panjang yang tampak familiar sedang berdiri di NST. Aku pikir aku hanya sedang berimajinasi, berhalusinasi, atau apapun itu namanya. Namun gadis itu nyata. Di sana ia berdiri, dengan mata sendu, menatap gembok bulat yang tergantung di sudut pagar. Sesaat ia menatap ke langit, mungkin untuk menahan air matanya.

Dan saat itulah ia menengok ke arahku. Pandangan kami bertemu untuk beberapa saat. Namun ia segera membuang muka dan pergi.

Aku bukan orang buta. Aku bukan seorang pelupa. Aku bisa melihatnya. Aku bisa mengenalinya. Aku ingat semuanya. Aku ingat debar jantungku yang sulit dikontrol tiap aku sedang bersamanya. Aku ingat betapa malunya aku ketika menawarkan mantel padanya. Aku ingat betapa gemetar tubuhku ketika memakaikan kalung panda padanya. Aku bahkan ingat, terakhir kali aku berada dalam pelukannya, di atas aspal yang dingin, aku melihatnya menangis untukku.

Kim Taeyeon…

Sungguh, aku tak dapat mengontrol degup jantungku setiap melihatnya. Melihatnya tersenyum, tertawa, bahkan marah sekalipun. Dan aku merasa tak nyaman, sakit, dan sedih ketika melihat sinar di matanya hilang, melihatnya mendesah, melamun, atau bergumam sendiri. Bahkan sampai saat ini, ketika aku akhirnya bisa kembali menatapnya, aku ingin segera masuk dan memeluknya, menghilangkan pandangan sendu itu darinya.

Namun kini, ketika ia berdiri di hadapanku dengan mata merah, ketika ia berbisik lirih, ketika ia memanggil namaku dengan pilu, aku tak dapat menjawabnya. Haruskah kubuka mulut sialku ini dan menyuarakan suara parau yang tak jelas?

Aku takut… aku takut ia akan membenciku ketika melihat perubahanku. Aku takut ia akan menjauhiku ketika aku tak dapat bernyanyi lagi untuknya. Aku takut ia akan menghilang selamanya ketika aku bahkan tak dapat mengiringinya dengan gitarku.

Aku takut… Aku…

Ah! Persetan dengan semua itu!

Kutarik tubuhnya ke pelukanku dan kurengkuh seerat mungkin. Aku tak peduli seberapa besar ketakutan yang aku rasa. Sudah cukup melihatnya menderita dan menangis begitu. Sungguh, aku tak kuat mendengar isak tangisnya ketika memanggilku.

“Bogosipeo…” bisikku sekecil mungkin, berharap ia tak mendengar suara kacauku. Meski aku tak berniat memamerkan suara parauku, aku tak dapat menahan lidaku sendiri untuk mengucapkan kata mutlak itu. Satu kata yang menggambarkan perasaan yang kutahan cukup lama. Ya, aku merindukannya.

Ia mendongak dan melonggarkan pelukannya kemudian bertanya, “Ya! Onew… apa kau baik-baik saja?”

Aku menatapnya dalam-dalam, masih bergumul dengan pikiranku. Kim Taeyeon… bisakah kau tetap di sini meski aku bukanlah Onew yang dulu? Bisakah kau tetap berada dalam pelukanku meski aku tak bisa mengalunkan melodi indah untukmu?

“Onew-ya… ada apa denganmu? Kau flu? Sakit tenggorokan?” tanyanya lagi.

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Flu? Sakit tenggorokan? Apakah tepat jika menanyakan hal polos begitu ketika sedang bertemu kekasihmu yang sudah tepisah beberapa tahun?

“Apa kau baik-baik saja? Kau sudah sehat? Kemana saja kau selama ini? Apa kau ‘kehilangan’ sesuatu?” ia terus bertanya dengan nada yang semakin khawatir. Ditatapnya seluruh tubuhku, memastikan tak ada organ yang hilang.

Aku tergelak sesaat. “Aku baik-baik saja,” jawabku singkat, masih berusaha menutupi suara parauku.

Aku yakin, Taeyeon ingin bertanya lebih jauh. Tapi ia mengundurkan niatnya. Ia menatapku dan memelukku lagi. “Aku tak tahu harus bagaimana sekarang. Aku senang kau ada di sini lagi…”

Aku kembali tertawa. Kubelai kepalanya lembut dan kulepaskan pelukkannya. Kutatap mata almond-nya yang telah mendapatkan kembali sinarnya. “Ayo ke dalam,” ajakku, dan kutarik ia kembali ke dalam kafe.

“Onew-ya… mianhae…” ulang Taeyeon ketika kami sudah berada di kursi kami. “Gara-gara aku memaksamu bergerak cepat, kau jadi mengalami kejadian menyedihkan itu. Sungguh, aku tak bermaksud jahat. Aku benar-benar tak menyangka akan ada bis gila yang menabrakmu seperti itu,” ia berhenti sesaat, berusaha mengatur nafasnya dan kembali melanjutkan, “Kau tahu, saat melihatmu terbaring tak berdaya begitu, hatiku benar-benar terkoyak. Onew yang kuat dan ceria, berbicara pun susah. Onew yang lembut namun lincah, bangkitpun tak kuat. Karena itu… maafkan aku… aku janji, aku tak akan menjadi bebanmu lagi.” Ia mengulurkan kelingkingnya.

Kulihat Taeyeon tengah memaksakan senyumnya. Namun matanya sudah kembali memerah. Aku balas tersenyum dan menarik tangannya. “Jangan salahkan dirimu. Yang penting, aku masih di sini, di hadapanmu, masih lengkap.”

Taeyeon terkikik sedikit mendengar kata-kata terakhirku. Namun wajahnya kembali serius. “Lalu, luka parah apa yang kau derita? Mengapa harus ke luar negeri segala? Mengapa kau tak memberitahuku? Mengapa kau tak menghubungiku? Dan, mengapa kau sakit lagi sekarang? Apa kau mendadak jadi tak kuat udara dingin? Suaramu bermasalah, Onew.”

Aku tersenyum mendengar semua pertanyaan yang ia lontarkan. “Tak ada yang parah. Hanya gegar otak ringan, keretakan pada tulang belikat dan telapak tangan, pergeseran sendi di lutut, luka-luka ringan… yah, begitu saja. Aku sudah baik-baik saja sekarang.” Aku mengedikkan bahu dan mendesah pelan.

Taeyeon melebarkan matanya. “Kau bilang itu ringan? Oh, sungguh… berterimakasihlah, Onew… kau bisa bebas dari semua itu. Lalu, bagaimana dengan pertanyaanku selanjutnya?” ujarnya lagi, seakan kami sedang dalam penyelidikan.

“Aku ke luar negwri agar bisa sembuh dengan cepat. Terutama karena masalah ini,” aku menunjuk leherku dan melanjutkan, “Kudengar bahwa pita suaraku bermasalah. Ketika dokter di sini berusaha mengoperasi, tampaknya sudah terlambat, aku kehilangan suaraku. Namun orang tuaku tak rela melihatku bisu. Maka mereka membawaku ke Jepang. Eh, Jerman. Mm… atau USA? Mungkin ketiganya? Entahlah, aku tak peduli. Aku hanya memikirkan suaraku… dan kau.

“Aku panik saat itu. Berjalan susah, menggerakan tangan sulit, kepala selalu pening, dan parahnya, tanganku sudah tak mampu memainkan gitar sebaik dulu. Lalu, apa aku harus kehilangan suaraku juga? Tapi yah, Tuhan memang baik. Beberapa dokter terpercaya yang ada di negara itu ikut menanganiku. Dan entah dengan alat atau bantuan apa, aku mendapatkan kembali suaraku. Suara ini. Suara parau yang rendah dan mengganggu.

“Aku berusaha lega dan bersyukur. Setidaknya aku masih dapat bicara. Dan aku masih hidup. Tapi kemudian aku kembali teringat olehmu. Bagaimana jika kau membenciku, menjauhiku, meninggalkanku, atau pergi selamanya karena aku tak bisa menemanimu bernyanyi? Aku mungkin tak bisa hidup normal lagi. Saat itu aku sungguh tak berani menghubungimu. Setidaknya, birapun kita jauh, aku berharap kita terpisah ketika kau menyayangiku. Maaf jika aku egois. Aku sendiri sudah sadar. Karena itu aku kembali. Apapun yang terjadinya, aku akan ambil konsekuensinya. Aku tak mau menjadi pecundang yang egois lagi.

“Sekarang, setelah kembali melihatmu, jujur saja, aku tak ingin melepaskanmu lagi. Tapi kemudian aku berpikir, kalau menjauhiku adalah hal terbaik untukmu, maka pergilah dan berbahagialah. Meski sulit, aku yakin, aku pasti bisa berbahagia melihat kepergianmu. Karena kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Dan kau perlu tahu, aku akan selalu mencintaimu kapanpun dan dimanapun kau berada.”

Aku berhenti dan berpikir sejenak. Dalam bayanganku muncul wajah Taeyeon yang bersedih dengan air mata menggenang di pelupuk mata. Taeyeon tampak tak rela namun terlihat tersentuh. Bayangan melankolis yang membuatku yakin akan pilihan jawabanku.

Namun yang kutemukan di depanku adalah Kim Taeyeon yang tengah menatapku dengan senyumnya yang lebar, nyaris tertawa. Terang saja aku bingung. Dikiranya aku bercanda?

Tampaknya ia mengerti pandanganku. Jadi ia berusaha menjelaskan, “Onew babo!” cecarnya. “Aku tersentuh mendengarnya. Tapi kau sungguh bodoh. Kau pikir aku ini wanita macam apa? Tak mungkin aku meninggalkanmu hanya karena suara dan gitar,” ia menepuk-nepuk punggung tanganku. “Tangan ini memang tampak sangat indah ketika sedang memetik gitar dengan merdu. Yah, mungkin sekarang tak bisa bermain seindah dulu. Tapi tangan ini selalu memiliki kehangatan yang sama. Tangan ini dapat merengkuhku dengan erat, sama seperti dulu. Tak ada yang benar-benar berubah.”

Aku menatapnya, masih terdiam. Ia kemudian mengarahkan telunjuknya ke mulutku dan melanjutkan, “Kemudian, dari mulut itu memang selalu mengalir suara merdu yang menenangkan. Tapi dari situ juga-lah keluar kata-kata indah, tak peduli bagaimanapun suaranya. Kau tahu, aku tak peduli bagaimana suaramu. Selama masih bisa melihatmu di hadapanku, bahkan mendengarmu bicara romantis begitu, aku sungguh tak dapat menahan senyumku. Onew-ku yang konyol telah kembali. Onew bodoh yang amat kusayang…”

Ah! Bikin malu! Wajahku memanas sekarang. Aku melihat senyum hangatnya yang tulus, membuatku kembali salah tingkah. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. “Jadi, kau tidak akan meninggalkanku?”

Ia kembali tersenyum. “Menurutmu?” ia tertawa sedikit, “Tentu tidak. Sudah cukup kegilaanku ketika milikku yang berharga hilang. Sekarang milikku itu sudah kembali. Bagaimanapun kondisinya, aku tak mungkin melepaskannya.”

Aku tak kuasa menahan senyumku. Debar jantungku kembali tak dapat kukontrol, perutku bergolak senang, dan wajahku kembali memanas. Kim Taeyeon bodoh. Apa sepanjang hidupnya ia harus terus membuatku gemetar dan malu?

Kulihat gadis itu bangkit dan mengahampiri salah satu petugas kafe. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah gitar di tangannya. Ia menyodorkan gitar itu padaku. “Mainkan satu lagu untukku,” pintanya tegas.

Aku meraih gitar itu tanpa segan. Aku sudah tak peduli lagi. Kupetik senarnya sebaik mungkin. Sejelek apapun hasilnya, toh, Kim Taeyeon masih tersenyum mendengarnya. Ia masih mau mendengarkan permainanku yang penuh kesalahan. Tangan kaku ini rasanya tak menjadi masalah lagi.

Dan yah… suaraku pun bukan masalah. Aku masih punya Taeyeon dengan suara indahnya. Taeyeon yang mulai menyanyi mengikuti alunan lagu yang kumainkan terlihat jauh lebih baik dibandingkan aku menyanyi mengikuti petikanku sendiri. Kutatap lagi dirinya yang selalu membuatku salah tingkah. Dirinya yang juga membuatku bahagia, membuat masalahku bagai angin lalu saja.

Ya, aku ini milik Kim Taeyeon. Dan pada akhirnya, aku kembali ke sisinya. Bukankah ini akhir yang baik?

**END**

 

Another notes: Well, agak geli yah baca cerita 100% romance plus diksi sok puitis? Sama, aku juga. Tapi yah, pasrah aja. Hahaha Well, I decided to change the character buat my classmate, sebut aja Pepes. Pes, biarpun aneh, semoga ga mengecewakan banget yah XD Teehee! Continue reading

She Doesn’t Like the Others (Part 8 – END)

Title: She Doesn’t Like the Others (END PART)

Author: newshawol a.k.a Irene

Main Cast: Lee Taemin, Kim Euna (OC)

Support Cast: SHINee

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: PG-15

Summary: Seorang gadis remaja yang gemuk dan merasa dirinya jelek (Kim Euna) berlibur ke Korea bersama temannya, sekaligus mencari beasiswa agar bisa sekolah di sana. Namun tak sangka, ia malah bisa bertemu dengan salah satu idolanya, Lee Taemin (SHINee).

Warning: Bukan warning sih… hanya saja… mm… FF ini pernah aku post di blog pribadiku yang sepi kayak hutan (?) di http://godsstar.wordpress.com jadi… ini bukan hasil plagiat 

Preview: Kini pandanganku terkunci padanya. Wajahnya.Hidungnya.Matanya.Bibirnya.Dorongan aneh dari dalam diriku membuat tubuhku maju secara perlahan.Kudekatkan wajahku ke wajahnya.Mataku sesekali melirik bibirnya yang terkatup rapat.Astaga… aku tahu ini tidak seharusnya terjadi.Tapi tubuhku tak bisa berhenti bergerak.Dan akhirnya, dengan perlahan, kusapukan bibirku ke bibirnya… lembut… berusaha membuatnya tak terbangun.Rasanya hangat… oh astaga… jantungku benar-benar melonjak sekarang.Baru kali ini aku merasakan perasaan seperti ini. Tidak lama, hanya 3 detik sebelum akal sehatku kembali…

***

   Terik matahari bersinar tanpa henti, membasahi jalanan Seoul yang tak pernah lepas dari hiruk-pikuk kegiatan orang-orang yang menetap di sana. Taemin menggerakan kakinya malas menuju mobil dan membukanya dengan kasar, mengambil beberapa hadiah dari para fans, dan membawanya naik ke dorm.

  “Aku kembali!” serunya lemas seraya membuka pintu dorm.

  Keempat hyung-nya menoleh sesaat, balas menyapa, kemudian kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

  Taemin melangkah masuk acuh-tak acuh. Ia meletakan bungkusan hadiah dari para fansnya asal dan melangkah menuju kamar. Dihempaskannya tubuhnya ke kasur empuk yang baru saja dirapikan oleh hyung-nya. Tangannya berusaha meraih ponsel putihnya dari kantung celana, kemudian ia membuka galeri foto di ponselnya.

   Dilihatnya gadis manis berambut ikal yang sedari tadi memenuhi kepalanya tersenyum manis. Foto itu diambilnya di taman bermain beberapa waktu lalu. Foto yang seharusnya membuatnya tersenyum atau bahkan terkekeh geli, kini malah menjatuhkan mood-nya.Ia rindu senyum itu. Juga tawa renyahnya yang penuh percaya diri.

  Berjuta penyesalan kembali membayangi dirinya.Taemin babo! Kau kehilangan semuanya hanya karena satu hal itu! Hanya karena kau tidak bisa mengontrol diri! Gila!! Rutuknya dalam hati.

  Kejadian tempo hari itu kembali terbersit di benaknya. Rangkaian kejadian yang merusak pertemanannya, membuatnya jauh dari gadis yang kini memenuhi relung hatinya. Ia ingat dengan jelas bagaimana Euna, gadis itu, menangis setelah ia cium. Ia ingat betapa sedih dan kecewanya wajah gadis itu. Hatinya nyeri mengingat itu. Di saat ia mulai mengenali “perasaan” yang menghantuinya, di saat ia mulai bisa menggapai apa yang dicintainya, ia malah menghancurkan segalanya. Hanya dengan kecupan selama 3 detik.

  Taemin mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia ingat bagaimana sosok yang disayanginya itu bergerak menjauh ke dalam bandara, menghilang dari hadapannya, dan entah kapan akan kembali. Atau mungkin malah tak akan kembali.

  Pintu kamar terbuka perlahan dan wajah Onew hyung terlihat mengintip di baliknya. “Taemin-ah… Boleh aku masuk?” pintanya pelan, mengerti keadaan Taemin yang sedang kacau.

  Taemin menoleh sesaat dan mengangguk lemah.Ia memang butuh teman cerita. Tepat setelah ia mempersilahkan Onew hyung masuk, ketiga hyung-nya yang lain ikut mengintil masuk dengan cengiran besar di wajah mereka. Taemin mengedikkan bahu tanda tak keberatan.

  “Bagaimana perjalanananmu ke bandara? Sukses? Kau bertemu dengannya? Sudah diperjelas?” sembur Jonghyun hyung tak sabaran.

  Taemin menghela nafas sesaat. Hari ini ia memang pergi ke bandara untuk mengejar Euna yang terburu-buru kembali ke negaranya tiga hari setelah insiden ciuman itu. Tapi semuanya sia-sia karena Taemin terlambat. Gadis itu sudah masuk ke ruang tunggu pesawat tanpa menoleh, meskipun Taemin telah berteriak memanggilnya.

  “Gagal, hyung.Aku terlmbat,” jawab Taemin singkat.

  “Ia sudah berangkat?” mata Minho hyung melebar.

  Taemin menggeleng. “Sebenarnya ia memang sudah bergerak menuju ruang tunggu. Tapi aku sudah memanggilnya dengan keras—cukup keras sehingga ia harusnya bisa mendengar—bahkan sampai menarik perhatian orang-orang di bandara.”

  “Ia menoleh tidak? Ia kembali? Ia masih marah?” sela Key hyung lebih tidak sabar.

  Taemin kembali menggeleng.“Menoleh pun tidak. Bagaimana mau kembali?” desahnya. “Ia malah mempercepat langkahnya dan tak menjawab apapun. Alhasil, yang datang ke arahku malah fans-fans wanita yang dengan sigap membeli hadiah untukku,” Taemin menunjuk ke luar kamar dengan dagunya. “Tapi aku sedang tidak mood menerima hadiah.”

  Keempat hyung-nya mengangguk mengerti. Mereka bisa merasakan kesedihan maknae mereka itu. Untuk pertama kalinya ia mengenal ‘cinta’, ia malah dihadapkan dengan kasus seperti ini.

  “Hyung…” gumam Taemin, membuat keempat hyung-nya kembali fokus. “Sepertinya aku terlalu banyak menonton film cinta-cintaan, ya? Di film yang kutonton, pasangan-pasangannya selalu berakhir bahagia setelah mereka berciuman.Tapi wanita di dunia nyata yang aku temui malah kabur sambil menangis. Film percintaan itu telah menipuku mentah-mentah hyung. Aku merasa konyol.”

  Keempat hyung-nya tertawa mendengarnya. Taemin memang selalu konyol. Bukan karena film. Tapi memang karena Taemin sendiri terlalu polos dan belum bisa mengontrol diri. “Sudahlah, ini pengalaman pertama. Dengan begini, ciuman pertamamu jadi terasa spesial bukan?” sahut Jonghyun hyung dengan cengiran lebar menghiasi wajahnya.

  Taemin mencibir, “Apanya yang spesial? Ahhh… Aku galau…” Taemin kembali mengacak-acak rambutnya.

  Onew hyung berusaha menunjukkan wibawanya dan menepuk-nepuk lengan Taemin perlahan. “Kalau kau memang jodoh, kalau kau mencintainya dengan tulus, kau pasti bertemu lagi dengannya. Kalian pasti bisa bersatu.”

  Taemin menatap hyungnya sesaat dan mengangguk pelan.Ia harap begitu. Ia harap ia akan memiliki kesempatan untuk memperjelas segalanya. Kalau beruntung, ia malah ingin bisa menghabiskan sisa waktunya bersama gadis itu. Ya… Kalau takdir mengizinkan.

***

   “Apa yang terjadi denganmu?” tanya seorang gadis berambut hitam panjang kepada seorang gadis berambut ikal yang tengah termenung menatap ponsel di tangannya.

   Gadis ikal itu tersentak dan mematikan ponselnya dengan cepat, kemudian menjawab, “Ah… Tidak ada. Memangnya kenapa?”

  Temannya mencibir, “Kau yakin? Kau jadi aneh sejak kembali dari Korea. Kau sedih karena tidak bertemu dengan Donghae oppa? Wajahmu selalu cemberut, seperti kekasih yang ditinggalkan. Dan lihat! Kau bahkan kurusan. Turun berapa kilo? 5? 8? 10? Kau diet?”

  Gadis ikal itu mengerucutkan mulutnya kesal dan mencubit pelan pipi sahabatnya. “Kau tidak tahu apa-apa, jadi jangan macam-macam!” ancamnya sambil mencibir.

Ia kemudian kembali sibuk dengan pikirannya. Berharap semuannya kembali. Berharap saat itu ia tidak kabur dan menangis. Berharap saat itu ia pasrah dengan perasaannya. Perasaan yang tumbuh cukup dalam. Dan kenyataan bahwa ia telah benar-benar jatuh cinta pada pria kurang ajar yang merebut ciuman pertamanya.

Ia harap, setidaknya sekali saja, ia bias bertemu pria itu lagi. Memperbaiki segalanya.

***

1 year later

  Seorang pria berambut coklat terang melangkahkan kakinya keluar dari van hitam yang terparkir rapi di pinggir jalan. Kaca mata hitam bertengger di hidungnya, nyaris menutupi sebagian besar wajahnya. Masker putih dan scarf coklat ikut mengaburkan wajahnya sehingga sulit untuk mengenali sosok di baliknya.

  “Hyung! Kau yakin ini sekolahnya?” tanya pria itu pada pria lain yang ikut keluar dari van.

  Pria tersebut mengangguk. Pakaiannya tak jauh beda dengan pria pertama. “Aku sudah melacak sedetil mungkin. Tidak mungkin salah. Seharusnya sebentar lagi bel pulang berbunyi, kita tunggu di sini saja.”

  Pria bermasker putih itu mengangguk setuju. Sesungguhnya ia benar-benar tak dapat menahan diri untuk tidak menyeruak masuk ke dalam sekolah dan mencari orang yang ditunggunya sendiri. Ia sudah menunggu sekiaannn lama untuk bisa datang ke Negara ini, bahkan mendapat kesempatan untuk menemui orang tersebut.

  “Hei, Taemin-wajah-tak-santai! Tenang sedikit, kau akan segera bertemu dengannya. Percayalah,” sahut seorang pria lain yang ikut menunggu bersama dua pria tadi.

  Pria bermasker putih yang dipanggil ‘Taemin’ itu meringis kaku dan mengangguk.Ya. Ia tahu bahwa ia akan segera bertemu dengan yeoja bernama Kim Euna yang sudah cukup lama mengambil potongan hatinya. Ia juga tahu bahwa hyung-hyungnya telah membantu amat banyak dan sangat bisa dipercaya. Hanya saja, perasaan seper…

TING TONG TING TONG….

  Bunyi bel dari dalam sekolah memotong pikiran Taemin. Bel usai sekolah! Sebentar lagi gerombolan murid akan keluar. Lantas, apa yang harus ia lakukan? Tetap berdiri di pinggir jalan begini? Atau mendekat ke gerbang sekolah? Atau menunggu di dalam mobil saja? Bagaimana kalau ternyata ia sudah berubah dan sulit dikenali? Bagaimana jika ia malah balik tak mengenali Taemin? Bagaimana kalau ternyata banyak SHAWOL di sini?

  Taemin dan keempat hyung-nya segera memperketat penyamaran dan berusah sebisa mungkin untuk tidak tampil mencolok.Dengan amat teliti, mereka memperhatikan tiap-tiap murid yang keluar dari sekolah. Namun setelah setengah jam mengamati, mereka tak melihat sosok Euna berjalan keluar sekolah.

   “Ah hyung… bagaimana kalau ternyata ia naik motor dan pakai helm, sehingga tadi kurang kita perhatikan?” bisik Taemin mulai merasa kecewa. Ia sungguh tak ingin kehilangan kesempatan satu-satunya.

  “Mungkin saja. Tapi menurut data yang sudah aku dapat dia itu tidak bisa…” ucapan Onew hyung tertahan ketika matanya menangkap sosok gadis yang berjalan riang bersama kelima temannya.

  Gadis berambut ikal dengan mata besar. Suara tawanya yang renyah dan nada bicaranya penuh ketegasan. Ia berjalan riang dengan tas belang-belang tersampir di pundaknya. Kim Euna. Masih mudah dikenali. Hanya saja ia terlihat lebih…. Kurus.

  “Itu dia!” pekik Taemin dengan suara tertahan. Ia dapat merasakan desiran hangat di dadanya ketika melihat senyum gadis itu. Kim Euna kembali hadir di hadapannya. Tapi tak urung, kepanikan dan ketakutan ikut berkelebat di kepalanya. Bagaimana kalau Euna benar-benar membencinya? Bagaimana kalau Euna menganggapnya pria aneh yang cepat jatuh cinta? Bagaimana kalau teman-temannya anti K-Pop dan mendoktrin pikiran Euna? Bagimana… bagaimana…

“Kau tidak menghampiri dia?” suara Minho memecah pergumulan di kepala Taemin. “Mereka semakin jauh, loh…”

 Masih ragu, Taemin berdiri mematung. Ia juga sadar kalau sosok yang dirindukannya itu bergerak semakin menjauh. Tapi ia masih bingung harus berbuat apa setelah sekian lama—

“Sana, cepat!” Jonghyun mendorong tubuh dongsaengnya tak sabar. Cepat, sebelum kita kehilangan jejak. Well, sebelum kau benar-benar kehilangan dia…”

Taemin menelan ludah, bimbang. Namun pada akhirnya, ia melangkah pelan, berusaha terlihat tidak mencurigakan, mulai mendekati Euna. Ketika jarak mereka semakin dekat, ia memperlebar langkahnya dan menjulurkan tangan, hendak menepuk bahu gadis itu.

Tapi salah satu temannya sudah terlanjur menengok kebelakang—menyadari keberadaan orang asing di belakang mereka. “Oh!” pekik gadis itu kecil. Ia sedikit tersentak, diikuti pandangan teman-temannya—termasuk Euna—menatap aneh ke arah Taemin.

Panik, Taemin menarik kembali tangannya dengan gelagapan. “Ah… Euna…” desisnya seraya menunjuk ke arah Euna dengan dagunya.

“Euna?” salah seorang gadis berambut panjang terurai memiringkan kepalanya bingung. Orang yang ditunjuk hanya diam dengan raut yang sulit terbaca.

“Ahh… no… no problem… nothing…” balas Taemin kalap. Ia meringis dan berbalik pergi.

Tidak bisa. Ia terlalu takut. Dan bingung. Tak memperdulikan apapun, ia bergegas masuk kembali ke vannya. Keempat hyungnya duduk tegak menatapnya dengan tatapan tajam.

Onew menghela napas kesal, “Kenapa kabur, sih? Payah!” cecarnya.

Yang lain ikut mencibir. Taemin mendesah bingung. Ia sendiri tidak mengerti, mengapa keberaniannya menguap begitu saja.

“Ahjussi, ikuti anak itu dong,” pinta Taemin pada supir mereka. Ia menunjuk Euna dan teman-temannya. Sang supir mengangguk dan mengikuti kendaraan umum yang dinaiki keenam gadis yang dimaksud.

Perjalanan sekitar 1 jam mereka tempuh sebelum akhirnya gadis ikal yang mereka kejar turun dari kendaraan umum tersebut dan berjalan pelan memasuki sebuah perumahan. Atas perintah Taemin, van hitam yang ia naiki mengikuti gadis itu perlahan.

“Sesungguhnya, kalau aku adalah Euna, aku akan seratus persen sadar ada van yang mengikutiku,” ujar Minho, masih menatap keluar jendela.

Taemin angkat bahu, “Sebenarnya aku juga berpikir begitu. Tapi ya sudahlah…”

Pembicaraan tidak dilanjutkan karena Euna tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah. “Ini rum—” Taemin tidak sempat melanjutkan kata-katanya ketika Euna dengan gerakan kilat menoleh ke belakang dan mengambil langkah cepat mendekati van.

Ia berdiri tepat di depan van. Menatap dalam diam. Benar-benar hanya berdiri dan menatap. Tidak tahan, Taemin kemudian turun tanpa menggunakan penyamarannya.

Berbagai imajinasi berkelebat di kepalanya. Rangkaian pertemuan setelah setahun berpisah, layaknya yang ia tonton di TV. Euna akan menangis, ia menjelaskan semuanya, Euna berusaha kabur, ia kejar, Euna menangis lagi, ia peluk, kemudian—

Long time no see!” suara Euna memecah keheningan. Jauh di luar perkiraan Taemin. “How’s life?

Taemin tercengang mendengarnya. Euna menyapanya benar-benar seperti tak pernah ada yang terjadi di antara mereka. Seperti tak pernah ada insiden di dorm SHINee. Seperti ia terkena amnesia. Seperti—

“Well, dari yang kulihat, kau tampak baik-baik saja, bukan?” tanyanya, terlihat santai.

Taemin menelan ludah bingung. Kecewa.

“Kau…”

Euna meringis sedikit, “I really miss that voice…

Taemin mengerjap-ngerjap tidak percaya. Berujung pada kekesalan, ia berseru geram, “Ya! Apa-apaan ini! Setelah beberapa lama tidak bertemu dengan cara yang dramatis, kau sekarang menyapaku seperti tak pernah ada apapun yang terjadi? Kau lupa padaku?”

Taemin merasa, imajinasi dramanya hilang sudah. Kalau begini ceritanya, malah terkesan Euna-lah pria yang tak bertanggung jawab, dan Taemin adalah wanita korban harapan palsu. Hal ini jelas membuat Taemin keki.

Euna terkikik geli, “Tentu saja tidak. Kalau aku lupa, mana mungkin aku menanyakan kabarmu?”

Taemin menganga tak percaya. Bahkan Onew, Minho, Key, dan Jonghyun yang mengawasi dari dalam van bergeming melihat Euna. “Hebat,” Onew bertepuk tangan pelan, “Memang dia itu anak aneh, atau dia ahli mengatur emosi? Bagaimana mungkin ia bisa bicara sedatar itu?”

Jonghyun meringis, “Pilihan kedua. Tampaknya ia memang jago akting.”

Masih dengan cengiran khas-nya, Euna kembali bertanya, “Bagaimana kau bisa ada di sini?”

“Menguntitmu,” jawab Taemin cepat, dengan perasaan yang campur aduk.

Gadis berambut ikal itu malah tertawa, “Babo! Maksudku, di sini, di tempat ini,” ia menghentak-hentakan kakinya, sama seperti dulu, ketika Euna dan Taemin bertemu dalam hujan di depan dorm SHINee setahun lalu.

Taemin mengehela napas. Ia jelas ingat kenangan itu. Raut wajahnya kembali menunjukan penyesalan. “Maaf,” bisiknya. Satu kata inilah yang seharusnya ia ucapkan dari dulu.

Kini ganti Euna yang tercenung mendengar bisikan itu. Susah payah ia mengatur perasaan dan ekspresinya. Akhirnya runtuh juga hanya dengan satu kata itu. Namun, bukannya menangis, ia malah mencibir kesal dan membuang muka.

“Kau tahu,” ia terdiam sesaat, kemudian kembali menatap Taemin. “Ternyata tidak mudah melupakan kejadian itu. Kupikir aku akan sangat membencimu. Tapi ternyata, menghapus fotomu saja aku tidak tega,” ia mengacungkan ponselnya sesaat dan tersenyum hambar. “Dan sejujurnya, aku sangat-sangat-sangat terharu ketika melihatmu di sekolah tadi. Dengan penyamaran konyol—”

Taemin tak membiarkan kata-kata Euna selesai. Ia melangkah cepat dan merengkuh Euna dalam pelukannya. “Bogosipeo…” tandasnya.

Tidak berusaha melepaskan diri, Euna mengangguk-angguk pelan, “Aku tahu,” ia terdiam sesaat kemudian menambahkan, “Aku juga.”

Taemin melonggarkan pelukannya dan menatap gadis di hadapannya, berusaha menelaah isi kepalanya. “Kau… tidak marah?”

“Yah… awalnya jelas aku marah. Tapi lama-lama aku malah sedih kalau ingat SHINee, Korea, atau apapun itu. Aku merasa, aku juga jahat, tidak berusaha memikirkanmu. Eng, maksudku, aku yakin kau pasti merasa tidak enak, jadi yah…” Euna mengedikan bahu dan meringis pelan.

Taemin kembali menatap gadis dihadapannya. Benar-benar di luar dugaannya. Kini ia bingung harus senang—karena Euna tampaknya tidak marah, atau kecewa—karena Euna tidak memberi respon dramatis seperti yang ia harapkan.

“Ah, ada satu hal,” lanjut Euna, kini tampak agak canggung, “Aku ingin tahu, kenapa kau harus jauh-jauh kesini, dan kenapa kau… ng…” ia berhenti sejenak, wajahnya sedikit bersemu ketika ia melanjutkan, “Kenapa kau… melakukan itu… dulu…”

Paham apa yang dimaksud, Taemin meringis, juga dengan wajah yang mulai memerah. Masih dalam pelukan longgar, ia menjawab, “Tentu saja karena aku menyukaimu, Bodoh!”

Kedua pasang mata itu bertemu dalam diam. Masing-masing menyadari sesuatu di rongga dada mereka berdegup lebih cepat. Merasa wajahnya terlalu panas, Taemin kembali mendekap Euna erat. “Bisa tidak, jangan tanyakan hal yang membuatku malu begitu?”

Euna tersenyum simpul dan mengangguk. Ia mengangkat kepalanya dan kembali menatap Taemin, “Tau tidak?”

“Hmm?”

“Aku terlalu senang. Saking senangnya, aku tidak bisa menangis. Aku bahkan masih merasa ini mimpi.”

Taemin melepaskan pelukannya dan mengetuk pelan puncak kepala Euna. “Ini nyata,” ia berkacak pinggang menatap gadis polos di depannya, “Dan percaya tidak, aku awalnya berharap pertemuan kita akan seperti di drama-drama. Kau menangis dan semacamnya. Ternyata setetes air mata pun tidak ada. Kau bahkan dengan santainya menyapaku.”

Euna terkekeh sesaat, “Apa boleh buat. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan bertingkah berlebihan seperti dulu itu. Saat itu aku menangis Karena kupikir kau bermain-main dengan ciuman tolol itu. Dan sudah kubilang, aku ingin melakukannya di altar pernikahan.”

“Tapi aku bersungguh-sungguh. Kalau main-main, untuk apa aku ke sini?” Taemin kembali mengetuk kepala Euna. “Intinya…” ia mengehela napas sesaat, “Nae kkeo haejulae?”

Euna terdiam sesaat, kembali bersemu, sebelum akhirnya tertawa dan mendorong pelan tubuh Taemin. “Cih. Sangat tidak romantis!” tapi kemudian ia mengangguk-angguk sebagai jawaban atas pertanyaan Taemin.

Melihat gadis di depannya tersenyum malu-malu begitu sungguh membuat Taemin gemas. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya, menatap wajah gadis itu dari dekat, “Kalau begitu, setidaknya sekali lagi saja, aku boleh melakukan ini, kan?”

Euna mengerutkan alis, “Apa?”

Taemin tersenyum sesaat, “Te amo!” bisiknya. Kemudian dengan gerakan super cepat, ia mengecup kilat Euna, tepat di posisi dimana ia mengecup gadis itu setahun lalu.

Sebelum dihajar, Taemin segera melarikan diri dan tertawa puas, menjauh dari Euna yang masih tertegun kaget. Detik ketika Euna berhasil mengumpulkan kesadarannya, ia beranjak dari tempatnya, mengejar Taemin yang masih terkekeh-kekeh.

“LEE TAEMIN!!! KEMARI KAU, DASAR SIAL!!”

***

“Aigoo… aku tak menyangka mereka akan berakhir begini,” Minho menggelengkan kepalanya, memperhatikan Taemin-Euna yang masih kejar-kejaran.

Key memperbaiki posisi duduknya dan meringis takjub, “Aku juga. Aku tak menyangka akan jadi sesimpel ini. Tapi sungguh, kupikir akan ada tangis-tangisan. Ternyata malah ditutup kecupan nakal dari maknae kita yang sudah dewasa.”

Onew tersenyum simpul melihat ulah dongsaengnya. “Dia yang cuek dan terus terang seperti itulah yang disukai Taemin. Berharap ada adegan romantis seperti di TV? Hahaha…”

Jonghyun mengangguk setuju, “Well, dia memang berbeda dari gadis lain. She’s indeed Kim Euna,” tandasnya.

 

*END*

                                

a/n: BAHAHAAHAHA Hai semua. Maaf telah membuat kalian menunggu setahun :’) Dua kali aku bikin part ini, dan selalu berujung pada laptop rusak dan data keformat. Akhirnya aku membuat sedikit twist effect pada pertemuan mereka. Maaf kalau jadinya fail, agak maksa, dan freak abis. I’ll do better next time. Jangan lupa comment :’D Hahahahaha THANKS A LOT<3

Bad Time=New Arts :D

Hello, I.Jealous! :)

hahaha.. aneh ya.. sebenernya “I.Jealous” itu nama fansclubkuuuuu~ *silahkan ngakak sepuasnya-_-* hahaha…

Well, berhubung udah lama ga ngepost… aku memutuskan untuk ngepost sesuatu. Tapi apaaaaa?? Aku punnya beberapa draft FF tapi ga ada yang cukup menarik untuk dilanjutin. Lagi pula otakku lagi mumet untuk ngurus gituan. Dan akhirnya… Aku ngeliat sesuatu di dashboard blog ini…

Ada yang search “graffiti lucu”… Well… Kok bisa ada yang nyari itu di blog-ku? Ah! mungkin gara-gara aku sempet masukin doodle graffiti sebagai main picture FF-ku di SF3SI. Jadi, aku berniat untuk ngumpulin semua hasil writing doodle-ku dan di scan. Ga ketemu semua sih… soalnya aku kalo ngedoodle random tempat. Hahaha

Nah nah… ini salah satu doodle yang kubuat waktu badmood… tapi akhirnya dipake buat AFF :D hohohoho

Ini doodle-ku buat FF application di AFF sebelum AFF dirombak :)

WELL YEAHHH… Lame, huh?

Pengen upload lagi tapi crunching-nya super lama… jadi males duluan… maybe next time, I’ll post some moreeeee :)

Do you guys also make doodle? Show meeee! :D

xoxo

Irene

Great Pose of My Little Sis-Bro

Well…

Ini bukan curcol sih… Cuma mau share foto-foto jadul yang aku temuin di album lama.  Menurutku, foto-foto itu udah cukup keren untuk ukuran tahun 2004-an… Hahaha…

Foto-foto ini adalah foto adek-dekku: Britania (Tania) dan Josiah (Jojo). Mereka waktu kecil unyu.. pas gede… -_- NGEKIIN -.-

Well, let’s check it these cute kids picture out! :D kkk~

Cute Jo, Smiling brightly just because of DONUT :3

Kids take a bath, Silly XD

Jo with his lovely Papuan twin :D

LUCU XD hahaha... Happy Sister and Brother :p

Menurut gue, ini COOL! Candid Kid yang gahol LMAO

CUTE!!! Kayaknya bahagia banget gitu, ngeliat timun digantung-_- hahaha

(Again) Jo playing with his Papuan friend. LOL

Sassy Tania :p Hahaha.. Gaya bener-_-

Background-nya Tembagapura!! <3 Coba Tania nengok, pasti keren! XD

Tania... Jo... main teruuuusssssss -,-

(Again) Sassy Tania -_- Bibirnya merah banget! ROFLMAO!

 

Okidoki…

Segitu aja kali yah… kasian, aib adek adek gue… diumbar semena-mena… hahahaha… lucu? lumayan… norak? BANGET!!!! Huahahahahaha…

Feel free to comment anything! Comment is always loved ;)

 

xoxo

-newshawol

heck it these cute kids picture out! :D kkk~

My Music

Title: My Music

Author: newshawol

Main Cast: Park Jungsoo (Leeteuk), Han Hyebyung

Support Cast: Super Junior

Length: Oneshot

Genre: Romance

Rating: General (G)

Credit: Poster by Alskey

   Menghadapi segala jenis manusia di dunia memang sulit. Menghadapi berbagai kondisi yang terus berubah malah lebih sulit lagi. Banyak orang yang bisa selamat dari kerasnya hidup. Beberapa memilih menjadi dirinya yang “lain”, beberapa menjadi hiperaktif agar mendapat perhatian, beberapa berusaha bertahan menjadi dirinya sendiri, dan sisanya mengalami kesulitan sehingga terpaksa harus mengunci mulut.

   Masih mengulum lollipop dengan tenang, Han Hyebyung berjalan cepat menuju sekolahnya. Bukan keinginannya untuk sepenuhnya diam. Hanya saja, situasi baru yang dihadapinya membuatnya harus menjadi tenang.

   Seoul…

   Setelah bertahun-tahun memimpikan kota ini, akhirnya ia bisa sampai di sini. Dinginnya udara pertengahan September ini membuatnya makin ragu untuk berjuang di kota indah ini. Dengan langkah cepat namun penuh paksaan, ia memasuki gerbang sekolahnya.

   “Annyeong haseyo, Seonsaengnim!” sapa Hyebyung ramah kepada Kim Seonsaengnim yang berjaga di gerbang.

   “Ye, annyeong haseyo,” balasnya datar.

   Setelah menghela nafas perlahan, Hyebyung melanjutkan langkahnya menuju kelas. Meski sudah seminggu ia berada di kelas ini, tetap saja ia merasa asing dengan ruangan yang didominasi warna abu-abu ini. Beberapa anak langsung menoleh begitu melihat Hyebyung masuk.

   Hyebyung menunduk dan mempercepat langkahnya menuju kursi. Menjadi anak pindahan di tengah semester memang bukan perkara mudah. Apalagi kalau tak menguasai bahasa Korea. Semua anak akan berpikiran aneh. Terus terang saja, hal itu cukup mengesalkan Hyebyung.

   Bukan salahnya ia tak fasih berbicara Korea. Biarpun ia anak Korea murni, tinggal di Wina membuatnya sama sekali tak pernah bicara bahasa Korea. Tapi setidaknya, ia sudah belajar keras selama setahun belakangan ini. Kenapa tak ada yang bisa menghargai?

   “Kau pikir, gara-gara kau pernah tinggal di Wina, kau bisa berbangga-ria?” tukas seorang yeoja secara tiba-tiba.

   Hyebyung mengangkat kepalanya dan mengerutkan kening. “Joiseonghamnida… mm… could you please speak a little bit slower?” pintanya dengan selembut mungkin. Bukannya ia menolak bicara Korea, tapi lafal yeoja di hadapannya terlalu kental dan bicaranya cepat sekali. Bagi Hyebyung, sama saja seperti berusaha mengerti bahasa Jerman yang diucapkan balita.

   Yeoja di hadapannya meringis. “Cih! Sombong benar! Sudah seminggu di sini, masih tak bisa berusaha berbaur? Kau pikir kami tak bisa bahasa Inggris?! Belagu!” tandasnya dengan wajah sangar. Dan dalam hitungan detik, yeoja itu pergi meninggalkan Hyebyung yang masih dalam keadaan terkejut.

   Oh Tuhan… bisakah aku bertahan di sini? Rintih Hyebyung dalam hati.

*MM*

   Dengan amat pelan, Hyebyung mengeluarkan kotak bekalnya. Zaman sekarang, tak banyak murid SMA yang membawa bekal. Mereka jelas lebih memilih membeli makanan di ruang makan. Tapi bagi Hyebyung, bekal-lah satu-satunya harapan untuk memulihkan mood-nya.

   Masih dikelilingi tatapan menusuk dari teman-temannya, Hyebyung berjalan cepat dengan kepala tertunduk. Ia harus pergi, ke mana saja, di mana saja, asal jangan di kelasnya. Dan langkah cepatnya membawanya ke taman belakang sekolah.

   Hyebyung terkikik sendiri ketika menyadari keberadaannya. “Ini seperti drama,” gumamnya. “Seorang yeoja datang ke taman belakang dan menemukan namja super tampan tertidur di sana. Kemudian si yeoja mengecup si namja, membuat namja itu terbangun. Namja tampan itu terkejut namun mereka mulai berkenalan… jatuh cinta… bahagia… selamanya…” Hyebyung melanjutkan imajinasinya.

   Ia terkikik lagi dan segera mencari kursi. Baru saja ia membuka kotak bekalnya, dentingan piano mengalun di sekelilingnya.

   “Eomo!” serunya terkejut. Ini horror… dentingan piano di tempat sepi… lebih baik kabur!!! Hyebyung hendak mengambil langkah seribu untuk meninggalkan tempat itu. Tapi entah kenapa, hatinya tak mau beranjak.

   Alunan lagu itu bukan alunan nada menakutkan seperti di TV. Alunan lagu ini begitu menenangkan, penuh perasaan, ah… mengapa ia bisa merasakan perasaan ini? Dari mana asal suaranya?

   Hyebyung menutup kembali kotak bekalnya. Ia berusaha mengikuti suara piano itu. “Berbunyilah… teruskan…” bisik Hyebyung. Dentingan itu terdengar semakin keras, seakan sedang menuntun Hyebyung agar tenggelam ke dalam pesonanya. Dan akhirnya, dentingan itu membuat Hyebyung memasuki ruang musik utama.

   Dengan amat perlahan, ia menapakkan kakinya satu per satu.  Di sudut ruangan ada seorang namja yang sedang memainkan piano. Tubuhnya membelakangi Hyebyung dan ia sama sekali tak menyadari kedatangan Hyebyung. Namja itu memakai seragam yang sama dengan Hyebyung, berarti ia juga murid sekolah itu.

   Namja itu terus memainkan lagu penghibur dengan tenang dan lincah. Tangannya menari begitu riangnya di atas tuts hitam-putih itu. Kakinya bergerak dan berpindah perlahan di atas pedal-pedal, memberikan efek menakjubkan pada lagu tersebut. Sesaat setelahnya, permainan berakhir. Ia masih terduduk di situ, menatap pianonya.

   Hyebyung yang sudah tergugah dengan lagu itu sontak bertepuk tangan. “Keren! Keren!” serunya senang. Namun sesaat kemudian ia menambahkan, “Joiseonghamnida, aku tak bermaksud kurang ajar. Hanya saja, I’m amazed with your song that I couldn’t avoid to follow it and arrived here. Sekali lagi, joiseonghamnida!” ia membungkuk.

   Namja itu menoleh dan menatap Hyebyung tenang. Ia menyunggingkan senyum ramah dengan tatapan matanya yang teduh. Poninya terurai rapi di keningnya, membuatnya terlihat berwibawa. “Gwaenchanha. Aku senang kalau ada yang suka lagu ini,” balasnya santai.

   Hyebyung tersenyum kikuk. “Ah… geurae… mm… anda kelas berapa? Mm… maksudku… Untuk formalitas, aku harus memanggil apa? Seonbae atau –ssi?”

   Ia terkekeh, “Aku kelas 2. Aku yakin, kau bukan anak seangkatanku. Jadi, panggil aku Seonbae. Oh ya!” ia mengulurkan tangannya. “Park Jungsoo imnida!”

   Hyebyung menyambut uluran tangannya dengan kaku, “Ah, ye. Han Hyebyung imnida!” balasnya.

   “Baiklah, karena aku jarang memiliki penonton, maukah kau mendengar permainanku sekali lagi? Bantu aku menilai permainanku. Aku akan ikut audisi musik dua hari lagi, dan aku harus berlatih di depan penonton,” pintanya pelan.

   Hyebyung mengangkat bahu tanda tak keberatan. Dengan tenang, didengarkannya lagi denting merdu piano itu. Kali ini diiringi suara lembut Jungsoo, membuat lagu ini semakin sempurna. Hyebyung merasa, mendengarkan semua ini sungguh lebih baik daripada sekedar makan bekal di taman belakang.

*MM*

   Hari ini Hyebyung masih menerima hinaan kejam dari teman-temannya. Tapi ia memilih diam. Ia hanya bisa menunduk dan mengambil kotak bekalnya. Pikirannya masih terus melayang kepada namja bernama Jungsoo kemarin itu. Mungkinkah ia bisa bertemu namja itu lagi? Mendengar musik indahnya lagi?

   Kali ini, dengan langkah dua kali lebih cepat, Hyebyung bergegas menuju ruang musik. Benar saja, ruangan itu kosong—hanya ada namja yangs sedang bermain piano; Jungsoo.

   “Hello!” sapa Hyebyung.

   Namja itu menghentikan permainannya dan menoleh. Sekali lagi, senyum ramah terukir di bibir tipisnya. “Kau lagi! Hahaha… apa hobimu itu menguntit orang?” dan ia terkekeh oleh ucapannya sendiri.

   Menguntit? Hyebyung merasa asing dengan kata itu. Ia belum pernah memperlajari kosakata jenis begitu. Jadi ia hanya angkat bahu dan meringis.

    “Karena aku orang baik, kau kuizinkan mendengar permainanku,” kata Jungsoo.

   Hyebyung tertawa mendengarnya. “Percaya diri sekali!”

   Ia meringis konyol dan memutar tubuhnya, kembali memainkan piano dan bernyanyi dengan tenang. Nada-nada lagu yang ringan namun tenang, tidak melankolis namun tidak menggebu-gebu. Luar biasa!

   “Besok, ya?” tanya Hyebyung.

   Jungsoo masih memainkan pianonya namun ia menjawab, “Apanya? Audisi? Ya, besok. Menegangkan!”

   Hyebyung mengangguk-angguk dan kembali terdiam. Tiba-tiba saja, rasa kesepian yang dipendamnya selama ini membuncah keluar. Ia mendesah dan tersenyum hambar. Lagu ini terlalu menenangkan. Rasanya, semua penat hendak pergi dari dirinya. Namun penat itu sempat mampir di otaknya, membuatnya kembali  merenungi nasib buruknya.

   “Kau tidak akrab dengan temanmu, ya?” tanya Jungsoo tiba-tiba, masih terus memainkan piano tersebut.

   “Mm? How do you know that?” balas Hyebyung sedikit terkejut.

   Jungsoo terkekeh lagi, “Aku tahu segalanya.”

   Hyebyung ikut terkekeh. Namja tenang dan antik seperti Jungsoo kadang kala bisa mengetahui hal yang tidak semestinya. Bagusnya, namja itu tidak ikut menghina Hyebyung.

   “Kudengar, mereka tidak suka kau bicara bahasa Inggris terus, padahal bahasa Korea-mu masih pas-pasan,” lanjut Jungsoo.

   “Eung,” gumam Hyebyung mengiyakan. “Aku sudah berusaha. Tapi bahasa Korea sedikit terlalu sulit untukku. Maksudku, yah… aku belum terbiasa. Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri.”

   Jungsoo mengakhiri permainannya dan memutar tubuhnya, menatap Hyebyung. “Kalau tak keberatan, boleh aku tahu kisahmu sebelum ini? Maksudku, dimana kau sebelumnya? Dan, mengapa kau sekolah di sini?”

   Hyebyung angkat bahu lagi. “Sebelumnya aku lahir di Korea, namun akhirnya pindah dan tinggal di Wina, di dekat Hochschule fur Musik und Darstellende Kunst (Sekolah musik dan seni teater Wina). Tapi aku sama sekali tak mudah bergaul. Hidupku terbawa pengaruh asia, sehingga sulit berbaur di sana. Setelah bertahun-tahun lumutan di sana, orang tuaku memaksaku pindah ke sini. Padahal sudah kutegaskan, akan sama saja akhirnya. Tapi mereka terus menuntutku—pekerjaan mereka memang menuntutku.

   “Aku masih kecil ketika tinggal di Korea. Ketika aku tinggal di Wina, ingatanku tentang bahasa Korea mulai memudar sedikit demi sedikit. Apalagi kedua orang tuaku terus-terusan menggunakan bahasa Inggris dan Jerman. Aku tak pernah mengenal bahasa Korea lagi. Namun tiba-tiba, aku dipaksa sekolah di sini. Alhasil, banyak murid merasa risih dengan keberadaanku. Selalu begitu. Kadang, aku merasa lelah, terus-terusan dipaksa oleh orang tuaku, membuatku makin sulit menyatu dengan dunia. Tapi selama aku masih hidup bergantung dengan mereka, aku tak bisa berbuat apapun. “

   Jungsoo mendengarkan dengan tenang. Sesekali ia mengangguk dan mengajukan pertannyaan singkat. Dan entah mengapa, Hyebyung tak dapat menahan dirinya untuk berbicara. Mungkin, ini pertama kalinya ia menemukan seseorang yang bisa diajak berbicara seperti ini. Jujur saja, Hyebyung merasa nyaman dan aman ketika berbicara dengan Jungsoo.

   “Maaf aku bicara terlalu panjang,” ujar Hyebyung kikuk di akhir ceritanya.

   Jungsoo terkekeh, “Tak apa. Aku bisa mengerti.”

*MM*

   Jungsoo menghela nafas dalam-dalam. Pelajaran hari ini tak sanggup diterimanya. Ia tak sedang memikirkan audisi yang akan berlangsung beberapa jam lagi. Ia sedang memikirkan seorang yeoja. Hubae-nya… Han Hyebyung.

   Entah mengapa, Jungsoo merasa bebas bernyanyi dan bermain musik di depan yeoja tenang itu. Dan kisahnya… sungguh… mengingatkan Jungsoo akan dirinya sendiri. Jutaan hinaan yang diterimanya beberapa tahun lalu.

   Jadi, perasaan tenang apa ini? Simpati? Mungkin karena mereka memiliki kisah yang serupa? Ataukah perasaan sungguhan yang bisa muncul secara tiba-tiba?

   Jungsoo menggeleng.

   Ia sendiri tak mengerti apa yang sedang berkecamuk di dadanya.

*MM*

   “Semangat, Jungsoo seonbae!!” Hyebyung mengepalkan tangannya dengan semangat membara. Belakangan ini ia mendadak jadi lebih ekspresif.

   Jungsoo tertawa melihatnya. “Terima kasih. Aku akan berusaha!” ia ikut-ikutan mengepalkan tangannya. Dengan wajah tegang, ia segera memasuki ruang audisi.

   Di luar, Hyebyung terduduk lemas menunggu seniornya itu. Setelah tiga hari melalui masa audisi, akhirnya hari ini Jungsoo ikut audisi terakhir. Peserta yang berhasil mencapai tahap ini berjumlah 60 orang dan yang akan dipilih hanya 8 orang. Hyebyung ingat, Jungsoo bercerita tentang para juri. Mereka menganggap Jungsoo sangat baik di bidang menyanyi. Padahal yang dibanggakan Jungsoo adalah permainan pianonya.

   Setelah setengah jam menunggu, Jungsoo keluar dengan cengiran di wajahnya. “Ah… tegang sekali!” serunya. ia tampak lega karena telah melewati masa menegangkan pertama.

   Mereka kemudian menunggu semua peserta menyelesaikan audisi, kemudian menuggu hasil penjurian selama satu jam. Hal ini sungguh membuat Jungsoo tegang. Ada puluhan peserta hebat yang sudah ia temui. Beberapa yang sudah sempat diajak kenalan adalah Kim Jonghyun dengan suara luar biasa, Cho Kyuhyun dengan gaya cuek namun suara dalam dan tenang, Lee Jinki dengan suara uniknya, Kim Jongwoon dengan suara rendah namun tinggi (?), dan Kim Ryeowook yang bersuara super keren.

   Hyebyung bisa melihat ketegangan di wajah Jungsoo. “Mm… kalau kau berhasil lulus audisi dan meraih hadiah—yang entah apa itu, I’ll treat you the best Bulgogi and Kimbab I’ve ever known!” janji Hyebyung, sekaligus untuk menenangkan Jungsoo.

   Jungsoo tersenyum lemah dan mengangguk. Akhirnya semua peserta di panggil masuk secara serempak. Hyebyung kembali menunggu dengan cemas. Apakah Jungsoo akan berhasil? Apakah ia bisa mengalahkan Si Super-tampan-bersuara-indah Cho Kyuhyun? Dan apa hadiahnya??

   Setelah satu jam yang terasa melelahkan, semua peserta keluar ruangan. Beberapa tertunduk sedih, beberapa menangis kecewa, beberapa terlonjak gembira, beberapa keluar dengan wajah kaku. Cho Kyuhyun keluar dengan wajah cuek, namun cengiran anehnya terukir di bibirnya. Kim Jongwoon keluar dan berjingkrak-jingkrak sambil berseru-seru tak jelas. Kim Jonghyun melompat senang dan tertawa puas. Kim Ryeowook tersenyum puas dengan wajah merah dan terkikik bahagia. Lee Jinki terkekeh puas dan segera bergumam tak jelas mengenai… ayam goreng…?? Huh! Namja aneh!

   Kelima namja yang dikenalnya barusan tampaknya berhasil lolos semua. Sudah lima orang, ditambah seorang namja tak dikenal yang tadi melompat senang—ia pasti lolos, berarti sudah 6 orang yang berhasil. Mata Hyebyung terus menelusuri puluhan orang itu. Dimana Jungsoo seonbae?

   Tiba-tiba Hyebyung merasa tangannya ditarik seseorang. Ia menoleh dan mendapati seorang namja yang amat dikenalnya sedang meringis lebar. “Ayo kita makan Bulgogi dan Kimbab!” ajaknya riang.

   Hyebyung menatap Jungsoo dan tersenyum. “Kau lolos?”

   Jungsoo mengangguk pelan. Ia tersenyum dan kembali menarik tangan Hyebyung. “Kau tahu, Kim Jonghyung, Cho Kyuhyun, Kim Ryeowook, Lee Jinki, dan Kim Jongwoon berhasil lolos. Tampaknya aku berkenalan dengan orang yang tepat,” ujar Jungsoo, “Ada satu yeoja yang berhasil lolos. Namanya… ah… lupa! Yeoja itu bertubuh agak gemuk dan agak pendek. Ketika namanya dipanggil dan ditanya-tanya, ia menjelaskan bahwa ia sedang dalam proses diet. Kau tahu, ia sempat disuruh menyanyi oleh para juri, dan suaranya… LUAR BIASA! Suaranya amat tinggi, sampai 5 oktaf! Dan terus terang saja, ia manis.”

   Jungsoo bercerita dengan penuh semangat namun tetap menjaga tempo sehingga Hyebyung bisa mengerti dengan baik. Gadis luar biasa berwajah manis dan bersuara super merdu… tampaknya bukan ide yang bagus untuk Hyebyung. Gadis itu kini memasang wajah datar dan hanya tersenyum sedikit sebagai tanggapan terhadap cerita Jungsoo. Entahlah… Hyebyung sendiri tidak mengerti mengapa perasaannya bisa begini.

*MM*

   “Hyebyung-ah… gomawo. Aku kenyang sekali…” kata Jungsoo sambil menepuk-nepuk perut datarnya.

   Hyebyung yang telah kembali mood-baiknya berkat sepiring bulgogi membalas dengan tertawa. “You’re welcome. This is the first time I treat someone,” balasnya.

   Jungsoo tersenyum hangat dan menepuk-nepuk kepala Hyebyung pelan. “Aku senang kau bisa tertawa seperti itu. Sudah mulai merasa nyaman di Korea?”

   Mendengar itu, Hyebyung jadi salah tingkah. Ia hanya bisa mengangguk dan menunduk, membiarkan seniornya itu menepuk-nepuk kepalanya. Darahnya mengalir lebih cepat sekarang, membuat pipinya memanas, menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya.

   “Mm… oh ya, apa hadiahnya, Seonbae?” tanya Hyebyung mengalihkan pembicaraan.

Kini giliran wajah Jungsoo yang berubah. Ia mendadak tegang dan terdiam, tampak memikirkan sesuatu.

   “Apa hadiahnya? Tak begitu bagus? Kau diterima di manajemen mana?”

   Jungsoo sedikit menunduk dan seutas senyum tipis terbentuk di wajahnya. “Aku diterima di SM Entertainment. Hadiahnhya…” ia menghela nafas sejenak dan melanjutkan, “Beasiswa musik di Swiss. Di Wina. Selama 5 tahun.”

   Hyebyung terkesiap mendengarnya. Jantungnya seakan berhenti sejenak. Di Wina? Di kota masa kecilnya? 5 tahun? Mendadak segalanya terasa hambar. Pahit bahkan. Hyebyung tak dapat leluasa bernafas. Sesuatu telah mencekiknya. Menggecat paru-parunya dan memaksa jantungnya bekerja lebih keras. Mengapa jadi begini?

   Hyebyung memaksakan seulas senyum simpul. “Mm… bagus sekali. SME kan, amat terkenal. Chukhahae, Seonbae!”

   “Gomawo,” balas Jungsoo singkat. Wajahnya masih terlihat kaku.

   Hyebyung menarik nafas sejenak sebelum kembali bertanya, “Kau benar-benar akan pergi ke Wina?”

   Jungsoo mengangkat kepalanya dan menjawab,  “Mm… aku bebas menerimanya atau tidak. Kalau aku terima, aku akan belajar di sana dan bergabung dengan SME. Jika menolak, aku akan kembali seperti biasa. Entahlah… aku belum bisa menentukan. Wina… jauh sekali…”

   Hyebyung tersenyum sedikit. Ada harapan. Ada sedikiiittt harapan agar Jungsoo tak pergi.

   “Aku disuruh memberi kepastian seminggu lagi. Aku harus berfikir baik-baik. Kesempatan ini merupakan kesempatan emas. Namun aku masih punya keluarga di sini. Maksudku… entahlah. Sekarang kita jangan pikirkan ini. Kita… ke Taman Ria saja! Aku yang traktir sekarang!”

   Hyebyung tersenyum puas. Mendengar kata “Taman Ria” telah membuatnya kembali bersemangat. “Ayo!!!”

*MM*

   “Ya! Han Hyebyung! Dengarkan aku!” perintah seorang yeoja pada Hyebyung. “Jelaskan dengan cepat, apa maksudmu mendekati kakak kelas?!”

   Hyebyung melirik yeoja pengganggu itu dengan malas. “Kami itu teman. Aku tentu bebas berteman dengan siapapun. Kau tak ada urusan denganku!” tandas Hyebyung sebelum meninggalkan teman-temannya.

   “YA! HAN HYEBYUNG! MICHYEOSSEO!” jerit yeoja itu.

   Hyebyung tak peduli. Kakinya sudah asik berlari ke ruang musik. Belakangan ini, ia selalu mengobrol dengan Jungsoo di ruang musik. Kadang makan bersama, dilatih bermain piano, menyanyi asal, pokoknya melakukan segala sesuatu yang membuat Hyebyung berdebar-debar.

   Tapi kali ini ruang musik kosong. Dimana Jungsoo? Dengan cepat Hyebyung mencari-cari keberadaan Jungsoo. Mulai dari toilet, perpustakaan, koridor, dan… taman belakang. Ada seseorang yang sedang berbaring dengan mata terpejam di atas kursi kayu itu.

   Hyebyung mendekatinya. “Jungsoo seonbae?” panggilnya. Orang tersebut segera membuka matanya dan bangkit. Ia menggosok matanya sebentar dan menatap Hyebyung. “Ada apa? Mengapa Seonbae tiduran di sini?”

   Namja itu menghela nafas sesaat dan menatap Hyebyung dengan serius. “Hyebyung-ah… aku sudah membulatkan tekadku.”

   “Tekad?”

   Namja itu mengangguk. “Hari ini aku harus memberi kepastian kepada SME. Aku akan mengambil beasiswa musik ke Wina. Orang tua dan kakakku sudah setuju. Dan kini aku sudah siap.”

   DEG.

   Hyebyung tak dapat berkata-kata lagi. Ia menatap Jungsoo nanar. Ia tak bisa bernafas dengan leluasa lagi. Ini bahkan lebh parah daripada saat audisi. Wajahnya memanas dan sesuatu di dalam rongga dadanya terasa sakit. Matanya terasa perih dan tenggorokannya terasa kering.

   Kosong.

   Perasaannya mendadak kosong. Penjelasan Jungsoo berlalu bagai angin. Hyebyung terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. “Kapan kau berangkat?” sela Hyebyung lemah.

   Jungsoo menatap yeoja di depannnya ragu. “3 hari lagi.”

*MM*

   Hyebyung meneggelamkan wajahnya di atas bantal. Sudah pukul 11.29 malam, namun ia belum tertidur. Pikirannya masih kacau. Berbagai emosi berkecamuk di dadanya. Sudah 2 hari ini ia malas-malasan. Ia tak bersemangat melakukan apapun. Semuanya terasa hambar dan kosong. Ia bahkan tak peduli dengan ocehan orang tuanya.

   Ditatapnya foto yang disimpan di sela buku hariannya. Foto itu didapatnya ketika pergi ke Taman Ria bersama Jungsoo. Di foto itu, baik Joongsu maupun Hyebyung tampak amat ceria memeluk maskot Taman Ria. Namun sekarang kenangan itu malah membuat hatinya perih.

   “Aku akan diantar ke bandara oleh kakakku. Aku harap kau juga bisa ikut mengantar kepergianku. Kalau kau datang, aku akan merasa sangat senang dan bisa pergi dengan tenang. Memang agak pagi, tapi kuharap kau bisa ikut mengantarku. Pesawatku berangkat jam 7 pagi.

   Permintaan Jungsoo kembali terbersit di otaknya. Kemudian senyuman ramahnya, denting piano penenang yang dimainkannya, suara lembutnya, sorot matanya yang teduh… Mengingat itu semua membuat mata Hyebyung basah tanpa dapat dikendalikan. Sesaat kemudian isak tangisnya mulai terdengar. Ia sudah tak kuat menahannya.

   Di simpannya kembali foto itu agar tak kotor. Ia kembali menenggelamkan kepalanya ke bantal. Dengan air mata yang terus berderai, ia kemudian jatuh tertidur.

*MM*

   Seorang namja berjaket coklat berdiri sambil menengok kesana-kemari. Matanya menjelajahi setiap sudut bandara. Orang yang dicarinya sejak tadi tak kunjung datang.

   “Tidak datang?” sahut seorang yeoja; kakaknya.

   Namja itu mengangguk, masih berusaha mencari.

   “Sudah hampir jam 7. Tuh, dengar! Panggilan pesawatmu! Ayo, kau harus bergegas!”

   Namja itu mendesah sedih. Ingin sekali ia melihat orang itu. Orang yang belakangan ini secara perlahan telah merayap masuk ke dalam hatinya, meninggalkan jejak yang cukup dalam di sana. Ini bukan rasa simpati atau iba. Ini murni dari hatinya.

   Digenggamnya sebuah kotak kecil yang sudah ia siapkan sejak kemarin. Dengan langkah gontai, ia segera masuk ke dalam, menuju tempat pemeriksaan paspor.

    “Hati-hati!” Sang Kakak melambaikan tangan dengan senyum lebar di wajahnya. Adiknya yang tampan akan menjadi orang sukses, tidak lagi dimusuhi seperti masa kanak-kanaknya dulu.

   Namja itu balas melambai. Setelah semua urusan selesai, ia segera masuk ke pesawatnya. Beberapa pembimbing dan teman-teman senasib asik berceloteh riang.

   Namun ia hanya bungkam dan menatap kotak yang masih ia genggam. Pesawat mulai bergerak perlahan dan lepas landas, meninggalkan Seoul yang penuh kenangan. Mata namja itu mulai panas. Ia menatap kotak itu dengan tubuh yang mulai gemetar. Seiring dengan helaan panjang nafasnya, ia berbisik, “Saranghae…”

*MM*

6 YEARS LATER

   “HYEBYUNG-AH!!! BBALLI!!!” jerit seorang yeoja berambut ikal, Kim Euna.

   Yeoja yang dipanggil hanya bisa meringis. Ia tahu betul bahwa temannya sedang terburu-buru. Tapi apa daya, sepatu kesempitan ini menghalangi segalanya. “Na…ddo… A… raaahhh…” jawabnya dengan desahan begitu kakinya berhasil masuk ke dalam sepatu sempit itu.

   “Geurae… ayo naik! Kalau aku terlambat, Manajer akan marah besar!” lanjut Euna.

   Hyebyung terkekeh dan segera menaiki sedan putih itu. Pekerjaan sampingan sebagai pianis memang sedikit menyulitkan. Apalagi ia harus menjadi pianis bagi sahabatnya sendiri. Kim Euna, yeoja yang ditemuinya di tempat les musik empat tahun lalu, kini menjadi sahabat karibnya. Latar belakang Euna yang merupakan gadis non-Korea pecinta Korea membuatnya nyaman-nyaman saja bicara dalam bahasa Inggris. Anehnya, ia tak mau dipanggil dengan nama aslinya. Ia menuntut untuk dipanggil ‘Kim Euna’. Alhasil, ketika ia lolos audisi dan terpilih menjadi solois, nama ‘Kim Euna’lah yang ia gunakan.

   Euna mengendarai mobil manajemen dengan sangat cepat. Hyebyung sendiri tak mengerti mengapa gadis ikal itu berani mempertaruhkan nyawa mobil perusahaan. Gila!

   Semuanya berjalan cepat dan lancar. Dengan suara Euna yang dalam dan tenang, juga pesona wajah non-Korea-nya, ia berhasil mengumpulkan gemuruh tepuk tangan. Euna menarik lengan Hyebyung dan membawanya ke tengah panggung.

   “Gamsahamnida!” seru Euna. Ia kemudian mengangkat sebelah tangan Hyebyung. “Tolong berikan tepuk tangan yang meriah untuk sahabatku yang sudah mengiringi laguku dengan musik yang indah!”

   Dan sekali lagi, gemuruh tepuk tangan menyambut. Euna tersenyum puas. “Kim Euna-ya! Michyeosseo! Kau berhutang malu padaku!” tukas Hyebyung dengan wajah merah menahan malu. Suaranya tenggelam dalam lautan jeritan fans.

   Euna terkekeh cuek. “Ini hadiah. Sebagai gantinya, kau akan kukenalkan pada temanku nanti.”

   Hyebyung menatap temannya itu. Gadis bermata almond itu memang sering mendadak gila. Sayangnya, Hyebyung tak bisa melawannya sama sekali.

*MM*

   “Bikin malu!!! Mau taruh dimana mukaku?? Ahhhh~ Euna gila! Mengapa harus membawaku ke tengah panggung??? Huaaaaaa…” Hyebyung mengerutu di depan kaca toilet. Ia membasuh wajahnya dan menghapus make-up-nya, kemudian menggerutu lagi.

   Untung saja, Euna itu sahabatnya. Kalau tidak, habislah gadis itu! Hyebyung malu sekali jika mengingat aksi panggung tadi. Masih terus mengusap-usah wajahnya frustasi, ia berjalan lunglai, keluar dari toilet.

   BRUGH!

   Tubuhnya yang sedang lemas segera terjatuh begitu sesuatu menabraknya. “Joiseonghamnida!” seruan dari ‘sesuatu’ itu terdengar. Tampaknya yang menabraknya adalah seorang namja. Hyebyung menerima uluran tangan namja itu dan bangkit dengan cepat.

   “Joiseonghamnida!” Hyebyung ikut-ikutan meminta maaf. Ia mengangkat dan menatap namja itu.

   Ia terkesiap begitu mengenali wajah namja itu. Tatapan matanya yang teduh, suaranya yang lembut… Jungsoo sedang berdiri di hadapannya sekarang!

   “Hye…Byung…ah…” gumam namja itu. Wajahnya juga tampak amat terkejut.

   Hyebyung masih diam menatap wajah namja itu. Menatap dirinya yang amat ia rindukan. Sosok yang selalu menjadi bayangan di hidupnya. Sosok yang sering menghantui mimpinya. Sosok yang membuatnya bisa diterima oleh dunia, namun sosok yang sama dengan orang yang telah membuatnya menangis meraung-raung.

   Tiba-tiba saja Hyebyung merasakan kehangatan di sekujur tubuhnya. Jungsoo telah memeluknya dan merengkuhnya dengan kuat. “Bogosipeoyo…” bisiknya tenang dan dalam.

   Mata Hyebyung memanas. Ia tidak menangis. Ia tak berkata apapun. Ia sedang berusaha kuat untuk tidak menjerit-jerit. “O…oraenmaniya…” balas Hyebyung lemah, masih berusaha membendung rasa rindunya.

   Namja itu masih mendekap erat Hyebyung. Hyebyung mendesah dan berusaha berbicara sedatar mungkin. “Kemana saja kau?”

   Jungsoo melepaskan pelukannya dan menatap Hyebyung lekat-lekat. “Aku belajar di Wina. Kau sudah lupa?”

   Hyebyung melengos. “Kau bilang 5 tahun. Ini sudah 6 tahun. Kau tak pernah lihat kalender?”

   Jungsoo menunduk sekilas dan kembali menatap Hyebyung. Kali ini wajahnya menampakan wajah yang merasa bersalah. “Memang 5 tahun. Setahun terakhir aku menjadi trainee bersama beberapa penyanyi SME lain di Korea,” jelas Jungsoo. “Mianhanda, Hyebyung-ah… aku tidak sempat mem—”

   “Selama setahun kau bersembunyi? Berusaha menghindariku yang selalu mengganggumu? Kau menghilang tanpa memberi kabar. Menelepon pun tidak. Kau bahkan belum mengucapkan selamat tinggal,” balas Hyebyung mulai terbakar emosi.

   “Kau yang menghindariku! Kau tidak ada di sisiku ketika aku harus meninggalkan Korea. Aku sudah menunggumu di bandara! Kakakku bahkan tinggal di bandara selama sejam lebih, berusaha menunggu dan mencarimu, hanya dengan berbekalkan fotokopian foto kita dulu! Kau pikir siapa yang lebih kejam?” balas Jungsoo dengan wajah merah.

   “Aku ingin meneleponmu, namun dilarang oleh pihak SME. Aku hanya bisa menghubungi keluargaku saja. Aku ingin mengirim surat, tapi aku takut aku akan ingin mendengar suaramu. Aku ingin diam-diam menghubungimu, tapi aku takut aku akan ingin melihatmu. Aku takut, begitu aku kembali berhubungan denganmu, aku akan terbang kembali ke Korea dalam hitungan detik, meninggalkan Wina, meninggalkan satu-satunya harapan keluargaku. Ini karena aku…… Aku menyukaimu!” tandasnya.

   Hyebyung menatap Jungsoo kaku. Ia masih tak bisa berkata apa-apa. “Aku tahu ini agak konyol. Betapa cepat aku menyukaimu. Tapi aku merasa, aku adalah diriku yang sesungguhnya ketika bersamamu. Aku selalu senang melihatmu tertawa. Aku selalu senang melihat perkembangan rasa sukamu pada Korea. Aku senang setiap kali kita bisa bertemu di ruang musik. Kau pikir, aku tidak menderita? Berhari-hari aku bingung akan perasaanku… ketika aku menyadarinya, aku malah harus menghadapi harapan keluargaku agar aku bisa belajar di luar negri.

   “Aku harus berusaha menahan perasaanku selama 5 tahun… Aku harus berkutat dengan guru vocal dan guru dance-ku. Aku mulai jarang memainkan piano yang amat kusuka. Dan bahkan, ketika akhirnya aku kembali ke Korea, aku masih harus ditekan sebagai seorang trainee. Aku ingin menyatakan perasaanku di bandara, tapi kau malah tidak datang. Kau pikir aku tidak pusing?”

   Hyebyung menatap Jungsoo lemas. Perkataan itu… penjelasan itu… “Mianhae, Jungsoo seonbae…” Ya. salahnya ia bangun kesiangan hari itu. Karena ia terlambat, ia tak bisa mendengar semua ini dari dulu. Salahnya sendiri, ia jadi harus menahan semua rasa sakit ini.

   Air mata Hyebyung mulai menetes. “Mianhae, Seonbae… aku… aku jahat sekali padamu… mianhae… mianhae…” ujarnya disela isak tangisnya.

   Junsoo kembali mendekapnya. “Uljima… bagaimanapun, harusnya aku yang minta maaf. Maaf aku telah membiarkanmu menghadapi teman-temanmu sendirian. Maaf aku tak menghubungimu. Maaf aku telah marah-marah padamu. Aku hanya… aku tak ingin kau hilang begitu saja…”

   Jungsoo melepas pelukannya dan merogoh sakunya. Ia menjulurkan kepalan tangannya ke hadapan Hyebyung. “Aku selalu menyimpan benda ini. Benda yang sejak 6 tahun lalu ingin kuberikan padamu.” Jungsoo membuka kepalan tangannya.

   Ada sebuah liontin perak di situ. Bandulnya berbentuk not balok quaver (setengah ketuk) dengan dua buah permata berwarna aqua marine di bagian benderanya. “Musik… lagu… nada…not… itu semua adalah hidupku. Dan kau adalah musik terpenting dalam hidupku.” Hyebyung menatap liontin di tangan Jungsoo. Diusapnya air matanya. Jungsoo babo! ia tak membantu Hyebyung mengusap air matanya. Ia bahkan memberikan liontin tanpa kotak. Dasar pelit!

   Jungsoo menatap mata Hyebyung lekat-lekat. “Would you be my girlfriend?”

*MM*

   “Hyebyung babo! Kau selalu merepotkanku. Kemana saja kau? Kenapa matamu sembap begitu? Apa yang kau lakukan?” tanya Euna bertubi-tubi begitu melihat Hyebyung kembali. Hyebyung hanya bisa meringis dan semburat merah terpancar di wajahnya. Ada apa sih? Euna jadi kesal sendiri.

   “Aku harus pergi lagi sekarang. Tapi aku sudah janji akan memperkenalkanmu pada seseorang. Eh… pada satu kelompok. Ah… sudahlah. Satu orang atau satu kelompok, ayo ikut aku!” Euna menarik lengan temannya itu.

   Dibawanya Hyebyung ke ruang ganti. Ada cukup banyak orang di sana. “Annyeong! Sesuai janjiku, aku ingin mengenalkan kalian pada pianis tercintaku, Han Hyebyung!”

   Seluruh namja di ruangan itu menoleh dan bangkit. “Teukki hyeong! Bballi ileona! Ayo kita perkenalkan diri!” ajak salah satu dari mereka.

   Orang yang dipanggil ‘Teukki hyeong’ itu segera menoleh dan bangkit. Mereka berbaris jadi satu dan tersenyum ramah. “Uri neun supeo juni…” si ‘Teukki hyeong’ memberi aba-aba. “EO-YEYO!” seluruh member melanjutkan.

   “Ini adalah Super Junior. Mereka BB baru. Kau bilang kau sudah dengar namanya tapi belum lihat orangnya. Jadi kubawa kau ke sini,” jelas Euna. Ia kemudian menarik tangan si leader. “Ini leader mereka. Namanya Leeteuk.”

   Hyebyung menatap orang bernama Leeteuk itu. Tawanya kemudian pecah. “Leeteuk? Kau yakin?” tanyanya di sela tawanya.

   Euna memandangnya dengan wajah bingung. “Eh? Iya. Kenapa? Ada apa? Kenapa kau tertawa?”

   Hyebyung menatap namja dihadapannya. Seorang leader Super Junior. Seorang namja yang baru saja menyematkan liontin perak di lehernya. Seorang namja tampan yang lebih dikenalnya sebagai Park Jungsoo.

   “Kalian sudah saling kenal?” tanya Euna lagi. Seluruh member ikut-ikutan memandang dengan wajah penuh tanda tanya. Sedangkan Leeteuk malah berjalan mendekat dan menggenggam tangan Hyebyung. Ia berkedip sedikit pada Hyebyung, sebelum akhirnya Hyebyung memberi penjelasan.

   “Ya. Kenalkan. Ini adalah Park Jungsoo, namjachingu-ku.”

**END**

A/N: Mbuahahaha.. this is the second failed requested FF -.- aku dedikasiin cerita ini buat my lovely chingu… Dewi  Chan :D maaf ya, ancur… Maklum, gue amatir :p Dan buat kalian, maaf ya, kepanjangan… ga bakat bikin Oneshot nih ._.a hahahaha…. Buat Ria, nih salah satu cerita Romance fail gue. Kalo mau taro di Padum, silahkan. Jangan lupa, tulis nama gue gede-gede: ISTRINYA DONGHAE #ehsalah Huahahaha…

    Oh ya…  EUMAG = MUSIC

Okidoki.. bagi yang udah nengok, ngintip, nginjek, dateng, numpang lewat, atau apapun ke post ini.. jangan lupa comment yah!!!!!! :) thankies :*

Beginning

Title: Beginning

Author: newshawol

Main Cast: Yesung, Jung Seorin

Support Cast: Super Junior

Length: Vignette

Genre: Romance

Rating: PG-13

(Seorin’s POV)

   Bukankah berada di altar itu merupakan suatu hal yang amat menyenangkan? Maksudku, di altar, dalam balutan gaun indah, berhadapan dengan namja yang kau cintai, harusnya menjadi saat paling bahagia, bukan? Aku juga merasa begitu. Tapi entahlah, aku merasa, keteganganlah yang mendominasi pernikahanku. Maksudku… Ahhh… aku terlalu gemetar.

   Dan kini, masih dalam balutan gaun putih penuh renda berkilau, aku menghempaskan tubuhku ke kasur. Sesekali kupijat tumitku yang lecet akibat sepatu hak sial itu. Dari awal aku sudah menolak memakai sepatu hak. Aku bukan tipe orang senang menjadi tinggi berkat sepatu. Aku memakai sepatu sial dan gaun merepotkan ini hanya demi orang itu. Demi seorang namja yang kini berdiri kikuk di depanku.

    “Mwo?” tanyaku singkat seraya membetulkan posisi dudukku.

    Ia menggaruk lehernya, masih dengan wajah kikuk. Dengan perlahan ia menggelengkan kepalanya dan meringis konyol. Mata sipitnya seketika tenggelam dibalik pipinya itu. “A-Ani…”

   Aku terkikik melihatnya. Namja yang kini menjadi nampyeonku… Namja yang konyol dan sedikit tidak waras… Namja yang bisa berubah 180 derajat ketika malu… Namja itu adalah Yesung… satu-satunya namja yang benar-benar merasuki hatiku.

   “Geudae… Kau lapar tidak? Aku ingin buat makanan,” ujarku padanya.

   Seketika itu juga wajahnya berubah menjadi wajah bahagia-konyol-bodoh khas-nya. “NE!!!!” jawabnya penuh semangat, layaknya anak kecil. Tapi kemudian ia memandangku dan menarik gaunku, “Babo! Harusnya kau ganti dress ini dulu. Kalau kau masak dengan pakaian begitu, bisa-bisa masakanmu hancur semua karena tercampur renda-renda ini,” dan ia terbahak oleh banyolannya sendiri.

   Aku menyipitkan mataku, “Kau yang babo! Itu tak lucu,” desahku. Manusia yang menjadi nampyeonku ini memang sering aneh. Kadang aku berfikir, bagaiman mungkin aku bisa menyukainya?

   Aku mengganti gaunku secara tergesa-gesa. Yesung sudah mulai ceramah sok tahunya mengenai makanan. Ia duduk di sofa, bahkan sudah menyiapkan serbet dan tisu. “Masak yang banyak!!! Nan neomu neomu baegeopayooo~!” desaknya.

   Aku mencibir mendengarnya. Dia sudah lupa atau apa, sih? Masakan yang bisa kumasak kan hanya makanan cepat saji sejenis mie instan, telur goreng, dan sebangsanya. Dengan sisa kesabaranku, kuambil semua bahan di kulkas yang telah dipersiapkan Eomma sebelumnya. Mm… Bawang… Kecap…

   Yah… makanan tersulit yang bisa kubuat hanya nasi goreng. Aku tidak yakin Yesung akan benar-benar menyukainya. Tapi sungguh, hanya dengan cara ini aku bisa sedikit menyenangkannya. Aku bukan yeoja yang sempurna. Aku bukan yeoja manis yang romantic. Aku sendiri sering bertingkah konyol seperti Yesung.

   Masih dalam kondisi mengiris bawang, kulirik nampyeon gilaku itu. Ia kini sibuk mengutak-atik remote TV dengan serius. Geli sekali melihatnya. Konyol!

   Sungguh, entah perbuatan apa yang telah kuperbuat, harusnya aku berjuta-juta kali berterimakasih pada Tuhan. Kini, aku tak perlu memandang Yesung dari belakang. Tak perlu menunggunya menoleh untuk menatapku. Kini ia bahkan ada di satu ruangan yang sama denganku. Aku tak perlu lagi berletih-letih menunggu tatapannya. Karena ia akan selalu siap menatapku sekarang.

   Dan tepat, karena sekarang ia sedang menoleh dan tersenyum hangat. Senyuman itu untukku, milikku. Astaga… adakah yang lebih indah dari ini?

(Yesung’s POV)

   Melihatnya di sini sungguh membuatku bahagia. Sangat sulit menahan diriku untuk tidak memperhatikan tiap gerak-geriknya. Jung Seorin babo! Dengan semena-mena masuk ke hidupku, membuatku tak bisa berpaling. Aku sendiri heran mengapa bisa gila begini. Rasanya, aku bukanlah aku ketika bersamanya.

   “Ahhh… akhirnya!!!” serunya senang. Dibawanya semangkuk besar makanan… umm… entah apa itu. “Jjajan!!!” ia menyodorkan mangkuk itu dan sebuah sendok.

   Aku menatap benda di mangkuk itu. Nasi goreng? Kenapa warnanya hitam sekali? “Ige… mwoya?” tanyaku ragu-ragu.

   Ia mencibir mendengarnya, “Wae, wae, wae??? Kau mau menghina lagi? Jelas-jelas itu nasi goreng!” tukasnya dengan wajah cemberut.

   Ia membanting dirinya di sofa dan melipat tangan dengan kasar. “Tidak usah dimakan kalau kau tidak suka!” sahutnya sebal.

   Aku balas mencibir, “Terserah aku mau makan atau tidak!” dan dengan cepat kusendokkan nasi hitam itu ke mulutku. Rasanya… ternyata tak begitu buruk. Agak sedikit terlalu manis… tapi lumayan.

   Dari ujung mataku, dapat kulihat Seorin sedang menatapku lekat. Jantungku berdetak lebih cepat sekarang, membuatku tak dapat mengunyah dengan baik. Astaga… mengapa aku salah tingkah begini?

   “Wae?” tanyaku, masih dengan mulut penuh nasi, berusaha mengalihkan perhatiannya.

   “Aaaaa!!!! Yesung-ah!!! Nasinya jatuh ke celanaku!!! Jorok!!! Aaaahhhhaaaaa…” ia merengek kesal. Bahkan dengan wajah begitu ia terlihat lucu.

   “Ne… ne… sini, kubersihkan,” kataku di sela tawaku. Kupunguti beberapa butir nasi kotor itu. Seketika wajahnya kembali tenang. Seorin babo! Bagaimana mungkin mood-nya berubah secepat itu? Haha… konyol!

   Ia kemudian bangkit dan mengambil album lomografi dari atas lemari. Album berwarna merah tua itu adalah album berisi foto-foto dari kamera lomo yang diambil saat pernikahan kami beberapa jam lalu. Eomma dan Abba bergerak cepat dengan mengalbumkan kumpulan gambar amatir itu.

   “Mbuahahahaha!!! Yesung-ah… lihat ini! Matamu hilang!” seru Seorin semangat. Ia nyaris tak bisa berhenti terbahak.

   Aku mencoba melihat foto yang dimaksud. Foto itu diambil setelah resepsi pernikahan. Itu pasti Abba yang memotretnya. Wajahku kelihatan aneh sekali!!! Harusnya jangan diambil dari sudut begitu. Mataku jadi terlihat makin sipit! Aku menatap Seorin kesal, “Waeyo? Mending mataku… coba lihat… Mana hidungmu? Sudah begitu…” aku menunjuk foto lain, “Lihat! Matamu sedang terpejam setengah begini!” dan tawaku pecah.

   Kini giliran Seorin yang memasang tampang kesal. “Hidungku, mataku, semua milikku lebih baik daripada milikmu!” ia menjulurkan lidahnya dan kembali mendengus. “Kau memang bagus dalam memotret, tapi kau sangat jelek ketika dipotret!”

   Kuperhatikan wajah kesalnya bak-baik. Sudah kuduga, melihatnya adalah kegiatan terbaik sepanjang masa. “Ne. Kau benar. Kau memang memiliki segala sesuatu yang terbaik. Karena itulah aku tak bisa berhenti menyukaimu.”

   Ia tertegun mendengarnya. Air mukanya berubah, wajahnya mulai memerah, dan ia tak berani menatap mataku. Ia meringis sedikit, “Ah… geurae…” bisiknya salah tingkah.

   Aku tersenyum melihatnya. Yeoja bawel yang moody ini sering mendadak diam karena malu. Dan di saat seperti itulah aku sadar, betapa aku menyukainya. Aku meletakkan album itu dan mengelus kepala Seorin.

   “Hari ini hari bahagiaku. Harusnya kau juga tersenyum untukku,” ujarku lembut.

   Ia melirikku sedikit dan tersenyum kikuk, “Ne. Aku sudah tersenyum.”

   Sekali lagi kuelus kepalanya pelan. Rambut lurusnya sedikit bergoyang, sebelum akhirnya kuputar badanku mengahadapnya. Secara perlahan, kugerakkan tubuhku mendekatinya. Pandangan kami bertemu dan terkunci. Kulirik bibirnya yang masih terkatup rapat. Sedikit lagi. jarak kami hanya terpaut 5cm sekarang.

   “HYEONG!!!” seruan seseorang membuat tubuhku terpaksa mundur kembali. Seorin terkesiap begitu melihat pendatang tak diundang. Wajahnya seketika memerah malu.

   Aku menatap orang itu kesal. Juga orang-orang yang berada di belakangnya. Namja sial itu! Berani sekali masuk tanpa mengetuk?!?!

   “Cho Kyuhyun!!! Kapan kau berhenti menggangguku, hah???” seruku geram.

   Ia tertawa lebar, “Tidak akan. Hyeong tetap saja milikku. Ini, aku bawa semua Hyeong Super Junior… dan ini ada jus jeruk dan kimbab buatan Euna. Seorin pasti rindu makanan buatan sahabatnya, kan? Ayo!!! Kita pesta!!!!”

   Aku menatap seluruh member Super Junior plus gadis gembul yang kini nyengir lebar tanpa dosa. Euna sial! Kau sudah punya Donghae di sampingmu! Kenapa harus mnggangguku??? Kulihat Seorin hanya bisa tertawa lebar. Ia masih sedikit salah tingkah, namun tampak lebih tenang sekarang.

   “Jangan pelit-pelit, hyeong! Kau punya jatah nanti malam. Sekarang kita rayakan dulu pernikahanmu!” seru Ryeowook sambil menepuk-nepuk pundakku.

   Kutarik rambutku penuh frustasi. Ya, ini memang sebuah awal untukku dan Seorin. Tapi ini juga awal kehancuran karena member Super Junior tak akan segan menggangguku. “ARRGGHHHH!!!” jeritku sebal.

*** END ***

A/N: Wuaaa… selesai!!! Aku mendadak kepikiran ide cerita ini jam 11 malam, dan aku selesaikan dalam waktu 1 jam! :D Hahaha… karena bingung cast-nya siapa, aku pake Yesung dan Seorin aja. Sekalian, bayar janjiku. Hahaha… Berarti, bisa dibilang, cerita ini aku dedikasikan untuk Serista!!! J Gimana cerita abal ini? Maaf ya, awalnya aku ga mau tentang perkawinan. Tapi sudah terlanjur. Hahaha… buat semua yang udah mapir, jangan lupa tinggalin jejak kalian di sin! J Hohoho… Gomawo~!!!

 

xoxo

-newshawol

She Doesn’t Like the Others (Part 7)

Title: She Doesn’t Like the Others (Part 7)

Author: newshawol a.k.a Irene

Main Cast: Lee Taemin, Kim Euna (OC)

Support Cast: SHINee

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: PG-15

Summary: Seorang gadis remaja yang gemuk dan merasa dirinya jelek (Kim Euna) berlibur ke Korea bersama temannya, sekaligus mencari beasiswa agar bisa sekolah di sana. Namun tak sangka, ia malah bisa bertemu dengan salah satu idolanya, Lee Taemin (SHINee).

Warning: Bukan warning sih… hanya saja… mm… FF ini pernah kirim ke SF3SI, tapi belum di publish. Jadi, ini bukan plagiat! :D

 

(Taemin’s POV)

   Aku melirik gadis itu untuk yang kesekian kalinya. Mulutku masih mengunyah perlahan. Pada akhirnya kami hanya memesan sup delivery. Euna sendiri tidak memesan apa-apa. Jadilah, aku makan sendiri, ia menonton TV.

   “Uhukk!” aku terbatuk keras. Dengan bodohnya aku tersedak di saat seperti ini. Bikin malu!

   Euna menoleh dengan cepat dan bergegas mengambilkan minum. “Hati-hati,” hanya itu yang diucapkannya.

   Dengan masih sedikit terbatuk, aku meminum air itu. Cairan bening itu mengalir di tenggorokkanku. Dingin. Astaga… “Ya! Kau mau membuat sakitku makin parah?”

   “Eo?” ia menoleh bingung.

   Aku mengacungkan gelas itu, “Kenapa kau beri aku air dingin begini?”

   Ia tersentak dan menepuk keningnya. “Aishh.. babo! Mianhae Taemin-ssi, aku lupa. Habis, air dingin itu favoritku,” ia meringis dan mengambil gelasku, hendak menggantinya.

   Namun dengan cepat aku menahan tangannya. Entah apa yang kupikirkan, tapi ada firasat ia akan pergi jauh. Ia menatapku bingung. Sejenak pandangan kami beradu. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Hanya menatap. Menatap mata coklatnya yang besar.

   Tampaknya Euna juga merasakan keheningan ini. Ia menarik tangannya perlahan dan meringis, “Mwo?”

   Aku berkedip-kedip canggung dan berdehem, “A-Ani…”

   Ia meringis lagi dan segera menuju dapur. “Mm… Kim Euna!” panggilku.

   “Ne?” ia menjulurkan kepalanya dari balik pintu dapur.

   “Eh… Ehm… Kau agak kurusan, ya?”

   Ia tertawa mendengarnya. “Jahat!”

   Aku meringis, “Sungguh. Aku bukan tipe orang yang suka menyanjung tanpa kenyataan yang benar. Aku serius.”

   Ia keluar dari dapur, membawa segelas air untukku. “Hm… yah… di penginapan aku makan cukup banyak, tapi makanannya mengandung sayur semua!” ia terkekeh, “Sebelumnya aku sangat benci sayur. Karena itu, sejak di sini, pencernaanku semakin baik.”

   Ia tertawa mendengarnya, “Joha! Kalau kau langsing betulan pasti manis!”

   Aku tersentak sendiri mendengar ucapanku. Apalagi Euna. Keningnya berkerut bingung dan matanya terbelalak. Hening lagi, canggung lagi. Belakangan ini tampaknya aku terikat dengan suasana seperti ini.

   Tapi Euna terlihat lebih ahli dalam urusan mencairkan suasana. Ia terkekeh dan angkat bahu. “Yah… kau orang ke sejuta satu yang bilang itu padaku.”

   Kali ini keningku yang berkerut, “Sejuta satu?”

   Ia terkekeh lagi, “Ne. teman-temanku selalu bilang begitu. Tampakanya mereka hanya punya satu alasan agar aku mau diet. Katanya aku akan terlihat manis. Padahal mereka sudah tahu kalau aku tak peduli begituan. Menguras tenaga saja,” ia mendengus. Namun selanjutnya ia kembali tersenyum, “Hajiman… kalau Taemin yang bilang begitu, aku merasa tersanjung!”

   Aku menatapnya bingung. Kaku. Canggung. Aishh… yeoja babo! Terus terang sekali!

   “Taemin-ssi!” panggilnya. Ia mengambil posisi duduk senyaman mungkin di sofa.

   “Mm?”

   “Kau ini pecinta nuna?”

   “Mwo?!”

   Ia meringis melihat keterkejutanku. “Ahaha… m-maksudku… kau hanya suka pada nuna-deul? Tipemu itu seorang nuna? Karena seingatku kau amat perhatian pada SHAWOL nuna-deul.”

   Ah… aku mengerti. “Mm… bagaimana ya? mungkin karena aku tergolong muda—tidak seperti SuJu hyung, banyak penggemar yang lebih tua dariku. Karena itu, aku juga memperhatikan para nuna. Tidak adil kan, kalau hanya dekat dengan fans sebaya? Aku pribadi suka-suka saja. Baik dongsaeng, seumuran, maupun nuna, selama dapat merebut hatiku, kenapa tidak?”

   Ia menggangguk-angguk mengerti. “Taemin-ssi!” panggilnya lagi.

   “Mm?”

   “Kau sudah sehat?”

   Bagaimana ya? Entah sejak kapan, rasa pusingku mulai hilang. Aku juga mulai merasa ringan. Bahkan aku makan cukup banyak tadi. “Kurasa begitu,” jawabku akhirnya.

   Ia mengangguk-angguk lagi, lalu kembali fokus menonton TV. Aku yang bingung harus berbuat apa memilih merapikan bekas peralatan makanku dan meletakkannya ke bak cuci piring. Tampaknya yeoja yang satu ini tak berminat untuk membantuku.

   Dasar yeoja cuek! Apa sih yang ditontonnya? Sampai senyum-senyum begitu. Aku ikut duduk di sofa dan menatap TV itu. Ah~ SuJu hyung sedang perform di MuBank.

   “Kau benar-benar penggemar berat SuJu?” tanyaku.

   “Mm!” ia mengangguk, masih fokus pada TV. Mulutnya sesekali ikut melantunkan lagu Mr. Simple itu.

   “Siapa member favoritmu? Aku lupa.”

   “Donghae!” ia menjawab yakin. Caranya menyebut ‘donghae’ lucu sekali. Tidak seperti orang Korea. Lafal huruh ‘H’ dan ‘D’-nya amat kental. Di Korea, nama Donghae dibaca cepat sehingga terdengar seperti ‘Tong-e’. Tapi yeoja ini menyebutnya ‘Dong-he’.

   “Whuaa!” ia sedikit memekik ketika penampilan SuJu berakhir. Bibirnya masih saja menyunggingkan senyum. “Donghae oppa keren sekali~!!!”

   “Lebih keren daripada aku?”

   “Ne! Beda jauh!” ia terkekeh, “Di negaraku, tiap kali temanku menanyakan orang yang kusuka, pasti kujawab ‘Donghae’. Kalau mereka menanyakan orang yang kucintai, pasti kujawab ‘Nampyeon masa depanku, Donghae’,” Ia terkekeh lagi dengan wajah yang mulai bersemu merah. “Donghae oppa neomu johahaeyo!”

   Begitukah?-_- Parahnya, aku mendapati diriku tidak menyukai kenyataan itu. Sebagus itukah Donghae hyung? Padahal seingatku, sifat kami tak beda jauh. Wajahku juga tak kalah keren. Suaraku manly sekali. Dance-ku apalagi. Lalu apa? Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Gila! Kenapa aku bisa aneh begini?

   “Waeyo?” tanya Euna. Ia menatapku bingung.

   Aku meringis salah tingkah. “Aniyo. Lanjutkan saja menontonnya!”

   Ia angkat bahu dan kembali menonton. Ia langsung bersemangat ketika melihat BEAST di TV. Dia juga suka BEAST? Siapa biasnya? Jangan bilang, si cute Yeosob yang bersuara indah itu? Aku mencibir kesal.

   “Mm… Taemin-ssi!” panggilnya tiba-tiba.

   Aku segera menormalkan posisi bibirku. Untung saja ia tak melihat. “Mm… Ne?”

   “Aku tiba-tiba berpikir mengenai suatu hal…”

   “Mm? Apa itu?”

   “Ciuman pertamamu benar-benar kau berikan pada robot?” tanyanya. Matanya masih fokus melihat penampilan BEAST.

   “Hmm… iya!” aku terkekeh. “Tapi sebenarnya itu kan main-main. Ciuman yang sesungguhnya harus dengan wanita asli. Jadi… aku belum pernah.”

   “Hmm…” ia manggut-manggut, masih menatap TV.

   “Kau sendiri? Ciuman pertamamu kau berikan pada siapa?”

   Ia menggeleng, “Eobseo…”

   Tidak ada? Belum pernah? Wuah… ia masih bersih(?)! “Ingin kau berikan pada siapa? Donghae hyung?” lagi-lagi nama itu. Babo! Untuk apa kusebutkan? Ck!

   Ia kini menoleh dan menatapku. “Donghae oppa? Ah… amin!” ia terkekeh. Amin? Ia serius? “Kalau Donghae oppa adalah suamiku nanti, maka ciuman pertamaku akan kuberikan padanya.”

   “Eo?”

   “Yah… ciuman pertamaku hanya akan kuberikan pada namja yang menikahiku nanti, di altar pernikahan, setelah melantunkan janji suci.”

   Kening berkerut, “Tapi zaman sekarang ciuman itu lazim. Hal umum. Malah aneh kalau tidak melakukannya.”

   Ia terkekeh untuk yang ke sejuta kalinya. “Jeongmal?” ia berpikir sesaat, “Aniyo… aku tidak mau menjadikan ciuman sebagai pemuas hawa nafsu. Maksudku… ya… begitu… aku juga tidak ingin sama dengan orang lain. Lagipula kalau benar-benar cinta, kita tidak akan menuntut apapun. Jadi, tidak ciuman juga tidak apa-apa.”

   “O…” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

   “Waeyo? Aku terlihat aneh? Atau malah keren?” ia mulai menyunggingkan senyum percaya dirinya.

   “Aniya! Kau yang mulai!” balasku, “Ah… jangan-jangan kau yang yang tertarik padaku, sampai-sampai membahas tentang ciuman. Suka? Kau suka padaku, kan?”

   Ia tersenyum lebar, “Ne! Neomu neomu joha!” jawabnya bersemangat.

   Aku mati kutu lagi. Aku yakin wajahku telah seutuhnya menjadi tomat. Rambutku bagai jamur, wajahku bagai tomat… lengkap sudah.

   “Siapa yang tidak menyukaimu, Taemin? Apalagi para Taemints!” tambahnya. “Aku juga cinta mati pada Donghae oppa, seperti penggemarnya yang lain.”

   Aku terdiam dan tersenyum… pahit. Entahlah… rasanya tidak enak didengar. Maksudku bukan suka begitu. Yang aku maksud itu suka sungguhan sebagai pri… tunggu! Apa tadi aku berharap Euna benar-benar menyukaiku? Ahhh!!! Gila!!!

   “Aku mau mandi!” aku bangkit, salah tingkah akibat pikiranku sendiri.

   “Eo! Kau kan masih tak enak badan!” ia berusaha menahan.

   Tapi aku sudah terlanjur kesal dan malu. “Ani! Aku sudah sembuh!” dan dengan cepat, aku berjalan menuju kamar mandi. Babo yeoja!!

~~ @ ~~ @ ~~

(Key’s POV)

   “Apa yang kau lakukan di sini, Mihyun-ssi?” tanyaku kaget. Apa yang dilakukan yeoja itu di ruang dokumantasi Soo Man Ahjussi?

   “Mm… a… mmm…”

   Ia belum sempat menjawab karena pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Soo Man Ahjussi masuk ke dalam. “Ah! SHINee!” serunya. Sesaat kemudian matanya tertuju pada Mihyun. “Aigo… Mihyun-ah? Ada masalah apa? Kenapa kau di sini?”

   “Eh??” kami berlima—aku, Minho, para hyung, dan manajer—berseru kaget. “Anda mengenalnya, Ahjussi?”

   Ia tertawa dan berjalan mendekati Mihyun, kemudian menepuk-nepuk pundak yeoja itu. “Perkenalkan, ini adalah salah satu keponakanku, Jung Mihyun.”

   “Keponakan???” kami berlima terkejut. SANGAT.

   “Ye. Saya ini 3 bersaudara. Sunny adalah anak dari adik laki-laki saya, dan Mihyun adalah anak dari adik perempuan saya.”

   “M-Mwo???” Kami benar-benar tak kuasa menahan pekikkan kaget.

   Soo Man Ahjussi tertawa lagi. “Nah, Mihyun, apa yang kau lakukan di sini?”

   Yeoja itu terlihat panic. Tangannya bergerak-gerak tak nyaman, berusaha melindungin tasnya. Ada apa di tas itu? Benda apa yang ia masukan tadi? Berkas? Berkas apa? Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang amis di sini.

   “A-aku hanya berkunjung…” balasnya kaku.

   “Berkunjung? Tumben sekali…” Soo Man ahjussi terkekeh. Namun tampaknya ia menyadari kegelisahan Mihyun dan sikap protektifnya terhadap tasnya. “Waeyo, Mihyun-ah?”

   “Ada apa di dalam tasmu?” tanyaku tak tahan. Aku yakin ia telah menyembunyikan sesuatu.

   “Ne! Aku melihatmu memasukkan sesuatu ke dalam tasmu tadi, “ tambah Minho. Ia juga salah satu penegak keadilan rupanya.

   “Mm? Jinjjaro?” Soo Man ahjussi berusaha meyakinkan. Ia melirik ke arah tas Mihyun.

   Yeoja itu mulai panic, “Ani, ani! Tidak ada apa-apa…”

   “Mm…” Soo Man ahjussi hanya bergumam seraya mengulurkan tangan, hendak meminta tas Mihyun.

   “Ahjussi…” bisik Mihyun lemas.

   “Gwaenchanha. Untuk apa panik? Aku hanya ingin periksa.”

   Mihyun tampak benar-benar pucat sekarang. Butir-butir keringat mulai mengalir di pelipisnya. Dengan tangan gemetar, diserahkannya tas itu.

   Soo Man ahjussi menerima tas itu dan memeriksa isinya. Ada sebuah berkas SME di situ. Soo Man ahjussi membuka berkas itu dan tersentak kaget. “Ige…”

   “Mph! Aku mulai mengerti apa yang telah terjadi,” bisik Manajer. Kami—aku, Jonghyun hyung, Onew hyung, dan Minho—menoleh. “Trouble Maker…” bisiknya Manajer lagi.

   Trouble Maker? Apa maksudnya?

~~ @ ~~ @ ~~

(Taemin’s POV)

   Aku mengenakan celana panjang putih dan kaus biruku. Rasanya segar sekali. Kurasa aku sudah benar-benar sembuh sekarang. Air hangat tadi membuat tubuhku nyaman. Sungguh, baru kali ini aku mandi sampai setengah jam.

   Setelah mengeringkan rambut dan menyisirnya hingga rapi, aku kembali ke ruang tamu. Langkahku terhenti ketika melihat Euna terbaring di sofa dengan posisi lengan kanannya digunakan untuk menutupi matanya. Tidurkah ia?

   Aku mendekatinya perlahan namun ia tak bereaksi. TV masih dalam keadaan menyala; menayangkan wawancara bersama Super Junior. Euna melewatkan acara ini?

   Aku terus mendekatinya dan duduk di bawah, tepat di depan sofa. “Kim Euna…” bisikku, “Ya…! Kim Euna…! Kau tidur?”

   Masih tak ada jawaban. “Kim Euna!” panggilku dengan suara normal. Ia tak bergeming. Dengan hati-hati aku mengangkat tangannya dan meletakkannya ke atas perutnya, dengan begitu wajahnya Nampak jelas sekarang.

   Aku memperhatikan wajahnya baik-baik. Mata bulatnya terpejam, hidungnya bernafas pelan, bibirnya terkatup rapat. Kembali terbersit ingatan-ingatan sebelumnya. Aku merasa seperti di drama-drama, namun ini sungguhan. Entah apa alasannya, tapi mendadak aku mengingat semua kejadian bersamanya.

   Saat pertama kali bertemu, yeoja ini sungguh terlihat babo. Tapi ia sungguh ramah dan pengertian. Ia tidak memburuku dengan berjuta pertanyaan gila. Walau begitu, ia tetap menunjukan sikap antusias yang menyenangkan. Kemudian ketika berkenalan dengannya… ia dungguh polos dan bawel. Dan rupanya, ia adalah pelari yang cukup baik. Lalu caranya menjelaskan makna ‘wanita’ sangat mengesankan.

   Kemudian saat kami ke Taman Ria… jaemisseoseo! Neomu johahaeyo! Dengan penyamaran gila yang aku kenakan, naik wahana pengocok perut, kehilangan payung, naik Biang Lala… entah apa yang merasukiku saat itu, telah membuat jantungku berdegup kencang. Hajiman… aku menyukainya.

   Aku kembali menatap wajah yeoja itu. Sedetik kemudian, sesuatu di dalam rongga dadaku kembali bergolak liar. Itu jantungku. Dan jantungku mulai berdetak lebih cepat, menimbulkan sensasi berbeda. “Ciuman pertamamu benar-benar untuk suamimu?” gumamku, terdengar seperti… penyesalan.

   Kini pandanganku terkunci padanya. Wajahnya. Hidungnya. Matanya. Bibirnya. Dorongan aneh dari dalam diriku membuat tubuhku maju secara perlahan. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Mataku sesekali melirik bibirnya yang terkatup rapat. Astaga… aku tahu ini tidak seharusnya terjadi. Tapi tubuhku tak bisa berhenti bergerak. Dan akhirnya, dengan perlahan, kusapukan bibirku ke bibirnya… lembut… berusaha membuatnya tak terbangun. Rasanya hangat… oh astaga… jantungku benar-benar melonjak sekarang. Baru kali ini aku merasakan perasaan seperti ini. Tidak lama, hanya 3 detik sebelum akal sehatku kembali.

   Aku tersentak dan menarik diriku menjauh. Tanganku reflek menyentuh bibirku sendiri. Debar jantungku masih belum mereda. Kurasakan pipiku memanas. Astaga… apa yang telah kulakukan? Mengapa aku menciumnya?

   Kulihat Euna mengerutkan keningnya—berusaha menahan sesuatu, dan bulir-bulir bening mengalir dari sudut matanya. Ia menangis?? Apa ia sudah terbangun??

   Kedua tangannya bergerak menutupi wajahnya, “Mwo… mwohaneun geoya?” tanyanya dengan suara halus, nyaris berbisik. Kudengar nafasnya mulai bergetar dan air matanya terus megalir melewati pinggir jarinya. Tak lama setelahnya ia bangkit dan menatapku sekilas… dengan air mata masih mengalir, kemudian mengambil langkah seribu menuju pintu—keluar.

   Aku tidak mencoba mengehentikannya, memanggilnya, atau bahkan bangkit berdiri. Aku masih terlalu terkejut melihatnya menangis seperti itu.

   Tepat ketika ia keluar, para hyung-ku masuk dengan wajah bingung. Mereka pasti berpapasan dengan Euna tadi.

   “Wae geurae?” tanya Key hyung, terlihat terkejut.

   Aku menatap mereka lemas dan mengacak-acak rambutku frustasi, “Aigooooooooooo!!!”

TBC

A/N:  PART 7!!!! Demi apapun!!!! Maaf ya… setelah luaaaammmmaaa nggak update, sekarang harus uspate lame chapter kayak gini -_- mianhanda!! Btw, untuk pertama kalinya, aku bikin adegan romance!!! Yeah!!! Maaf ya, ini fail romance banget. Maklum, author sama sekali nggak berbakat di bidang beginian :p hahaha.. oh ya, harap sabar menunggu part 8 yah. Soalnya part itu sebenernya merupakan gabungan part 8 dan 9, tapi aku gabung, jadi SANGAT PANJANG dan lama ngetiknya :p huehehehe.. btw, happy reading!! Oh… and give me much oxygen :D

Super Junior’s World Tour “Super Show 4″ in Singapore Moved to February 18

newshawol:

Cool… I wonder… if I can go there :’)

Originally posted on Scholar Kyu Indonesia:

Due to a slight change in schedules, concert organizers Running Into The Sun and Conceptual announced that Super Junior will perform their latest world tour “Super Show 4″ in Singapore on February 18, instead of February 17 as confirmed previously. Ticket sales will start in early January 2012, with further details to be announced shortly.

“As everyone knows, Super Junior’s touring schedule is formidable. With the slight change in schedules, we hope this is a blessing for fans as the show is now on a Saturday,” said Beatrice Chia-Richmond, Creative Director of Running Into The Sun.

Super Junior has led the Korean Wave to reach a global phenomenon. “Super Show 4″ was launched in Seoul on November 19 and 20. Singapore will be their fourth stop, after Osaka and the upcoming Taipei show. Singapore audiences can expect an up-close performance on a stage that is “even more dynamic and on…

View original 160 more words

She Doesn’t Like the Others (Part 6)

Title: She Doesn’t Like the Others (Part 6)

Author: newshawol a.k.a Irene

Main Cast: Lee Taemin, Kim Euna (OC)

Support Cast: SHINee, Jung Seorin (OC’s friend)

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: PG-13

Summary: Seorang gadis remaja yang gemuk dan merasa dirinya jelek (Kim Euna) berlibur ke Korea bersama temannya, sekaligus mencari beasiswa agar bisa sekolah di sana. Namun tak sangka, ia malah bisa bertemu dengan salah satu idolanya, Lee Taemin (SHINee).

A/N: Woot! Part 6!!! Arrgghh!! *frustasi Jujur, aku ga nyangka cerita ini bakal jadi kacau dan berlarut-larut :’( jeongmal mianhae, readers… aku akan berusaha untuk namatin secepatnya. Jadi mungkin alurnya agak ga jelas dan berantakan. Sorry juga buat beribu typo yang ada. Hehehe… but still, happy reading :D

Warning: FF INI AKU KIRIM JUGA KE SF3SI! NO PLAGIARISM! :D

(Euna’s POV)

Aku menatap fotoku bersama Taemin untuk kesekian kalinya. Aku sungguh merasa bersalah. Gara-gara aku… ini juga tak lepas dari ke-SKSD-an-ku (?). Pagi tadi aku dan Seorin menonton salah satu acara gossip di TV. Kebetulan, acara itu sedang menayangkan berita tentang SHINee.

~~~Flashback~~~

   SHINee bersama SM Entertainment sedang terlibat skandal. SME melakukan kecurangan yang diduga hanya demi SHINee. Yeoja manis di TV itu menjelaskan mengenai uang dan surat yang didapatnya. Ada tanda tangan Taemin di situ. Apa lagi sih?? Hanya untuk membujuk para yeoja agar mem-vote SHINee, harus mengeluarkan uang sogokan. Jinjja babo-ya! SHAWOL mana yang tak mau mem-vote nampyeon-nampyeon mereka??

   Selanjutnya, tanpa menunggu berita itu selesai, aku dan Seorin segera menuju dorm SHINee. Tapi kami tak bisa melakukan apapun. Jalan masuk menuju apartemen penuh. Puluhan wartawan sibuk membujuk satpam agar diizinkan mengunjungi dorm SHINee. Di belakang mereka ada belasan SHAWOL yang ikut-ikutan. Hanya belasan sih. Mungkin mereka adalah SHAWOL nekat yang tidak berpikir bahwa mereka akan ditendang keluar oleh satpam galak itu.

   “Silyehamnida!” ujarku pada seorang yeoja yang membawa buntalan kertas (?)

   “Ye?” ia menengok dan menjawab sopan.

   “Mm… ada apa ini? Mengapa penuh sekali?” tanyaku.

   “Kau tidak tahu?” yeoja itu tampak kaget. “Gossip! Gossip SME dan SHINee!”

   Aku dan Seorin saling melempar pandang, “Ah… Nado ara. Hajiman, berita itu katannya sudah tersebar cukup lama. Apa lagi? Harusnya tak seramai ini.”

   Ia mengerutkan dahi, tampak bingung. Ia membolak-balik buntalan kertas yang dibawanya dan menyodorkannya pada kami. “Itu foto terbaru. Taemin bersama seorang gadis! Berbicara berdua saja! Ada yang menduga mereka memiliki hubungan spesial. Tapi kalau dikaitkan dengan kasus SME, gadis ini diduga korban SME selanjutnya. Kau tidak nonton beritanya? Sejak tadi malam sudah diekspos. Ditambah lagi Taemin dikabarkan sedang sakit. Sontak saja semua mengira ia stress karena masalah ini. Kabarnya ia sudah 2 hari sakit.”

   Aku tersentak melihat kertas itu. Tampaknya itu hasil print dari sebuah website. Dan foto yang tertangkap kamera adalah fotoku! Kami sedang berhadapan dan berjabat tangan. Foto ini tampaknya diambil di hari yang sama ketika aku dan Taemin tersesat.

   “Itu kau?” bisik Seorin, menunjuk kertas itu. Aku mengangguk lemah, meski foto itu buram dan diambil dari belakang, aku bisa mengenali diriku. Aku bisa kenal “tubuh”ku.

   “Lihat ini! Di sini juga Taemin sedang bersama seorang yeoja,” ia menjukkan halaman lain dari buntalan itu. “Kali ini temanku yang memotretnya dari kejauhan. Ia sedang jalan di tengah hujan ketika melihat seseorang yang familiar. Ternyata Taemin. Sayangnya hujan, jadi agak buram. Dan lagi, wajah gadis itu tertutup payung! Tapi lihat ujung rambutnya! Ikal, seperti gadis yang pertama.”

   Aku tercengang lagi. Ini juga fotoku ketika berbicara di sebrang apartemen; sebelum ia menyamar dan kita pergi ke taman ria.

   “Saat itu temanku benar-benar terburu-buru. Ia hanya sempat memotret sekali. ternyata hasilnya buram. Yah… setidaknya sudah dapat sih…” jelasnya lagi. “Kurasa Taemin sakit juga karena pengaruh main ke luar bersama gadis ini di tengah hujan. Apalagi suhu udara sedang tidak menentu.”

   Aku mengembalikan kertas itu dan berterimakasih. Dengan cepat aku dan Seorin kembali pulang. Untung saja yeoja ramah itu tidak mengenaliku.

~~~

Eotteokhae?

Benar kan! Kemarin-kemarin itu Taemin benar-benar flu! Harusnya aku meolak pergi ke taman ria. Dan lebih baik lagi kalau aku tidak menerima mantel pinjamannya. Kalau perlu aku tidak usah menghampiri apartemennya!

Jinjja~ Eotteokhae??

Ah!

Dengan satu-satunya ide yang muncul di otakku, aku segera mengambil sebuah kertas. Ya, hanya berbekalkan kertas dan pensil, aku akan memberikan tulisan terbaikku untuk menghibur Taemin. Aniyo!!! Maksudku, untuk SHINee.

(Taemin’s POV)

“Kau yakin? Tidak perlu kami temani?” tanya Onew hyung kesekian kalinya.

Aku mengangguk pelan. Sudah 2 hari tepatnya aku jatuh sakit; flu, demam, meriang, dan sebangsanya. Suhu tubuhku naik-turun, ingusku selalu ingin kabur dari kandangnya, dan badanku rasanya berat untuk kugerakan—meski sebenarnya sekarang aku sudah membaik.

Padahal malam itu; 3 hari yang lalu, aku masih sehat-sehat saja. Meski agak sedikit bersin-bersin… tapi kenapa aku tidak sembuh-sembuh? Memalukan. Aku lemah sekali.

“Kau hafal semua gerakkannya tidak?” Key hyung berusaha memastikan.

Aku mengangguk lagi.

“Geuraeyo… kalau ada apa-apda, telpon kami. Arassji (baca: aratji)?” lanjut Onew hyung.

Untuk keseribu kalinya aku mengangguk. Tepat sedetik kemudian, pintu dorm kami terbuka. Manajer masuk dengan tergopoh-gopoh. Tangannya membawa beberapa barang.

“Hadiah. Dari para SHAWOL di luar,” jelas Manajer tanpa ditanya. Key hyung dan Onew hyung segera bergerak menuju jendela, berusaha melihat SHAWOL yang tersisa di depan apartemen. “Kalian siap-siap. 10 menit lagi segera turun ke lobi! Saya akan urus para wartawan dulu,” dengan cepat ia meletakan semua hadah itu ke meja di sampingku dan pergi ke luar.

Aku yang sedari tadi berbaring di sofa berusah menegakkan tubuh. Dengan gesit Onew hyung dan Minho hyung membantuku duduk.

Kami berlima menatap benda-benda itu. Rasa pusingku mendadak berkurang drastis. SHAWOL membagikan cinta untuk kami lagi! Aku mengambil sebuah kotak dan membuka tutupnya. Tampak olehku lima boneka kecil dijejerkan di dalamnya. Itu boneka SHINee. “Aigoo~ Neomu kwiyeopda~” gumamku pelan.

Jonghyun hyung tersenyum senang, “Ne! Lihat! Bonekaku hanya memakai kaus dalam!” dan ia segera terbahak.

“Wuah… aku sedang memegang ayam!” lanjut Onew hyung, “Punya Key sedang memakai piyama pink! Dan aduh… punya Minho memeluk bola basket. Mbuahaha! Mirip kepalanya Taemin!” ia tertawa lagi, “Punyamu sendiri amat eksotis~ Bibirnya pink sekali!”

Aku meringis. Benar, hanya bibir bonekaku yang berwarna pink. Aku menatap ke dalam kotaknya dan ada pesan penyemangat di situ.

Minho mengambil balon biru yang digambari wajah, “Nampyeon Minho, saranghae~” ia membaca pesannya dan terkekeh, “Sejak kapan aku sudah menikah?”

Kami membaca cepat semua pesan dan suratnya. Ini saja cukup banyak. Di gedung SM nanti pasti lebih banyak lagi.

“Wuah… yang ini sederhana…” sahut Onew hyung. Ia mengambil gulungan kertas yang diikat dengan karet. Dengan cepat kami melepas karetnya dan melihat isinya.

“Whoa~” hanya kata itu yang terlontar. Kertas itu berisi… eum… tulisan… pesan… graffiti… atau apalah itu. Intinya… tulisannya neomu kwiyeopda~

   “Annyeong haseyo! Nan danji malhigo sip-eun… GEON GANG-EUL YUJI!!! (arti: halo! Aku hanya mau bilang… stay healthy!!!)” Onew hyung membaca kalimat pertamanya, “Benar! Belum lama Minho sakit, sekarang Taemin yang sakit. Harusnya kita saling menjaga kesehatan.”

Kami mengangguk cepat sebagai balasan. “Hmm… Oppa-deul… yeongwonhi saranghalge~ aja-aja hwaiting! (arti: kakak-kakak… aku cinta kalian selamanya~ terus berusaha dan semangat!)” kini Key hyung yang membacanya, “Hmm… eo!”

“Mwo?” yang lain tampak bingung.

“‘Kim Euna’. Pengirimnya Kim Euna! Dan ada gambar kecil perempuan berambut keriting! Jangan bilang, ini Kim Euna temanmu?” Key hyung menatapku.

Aku melihat kertas itu. Yah, tampaknya pengirimnya memang dia. Baru kali ini ada yang membuat tulisan lucu begini. Aku suka huruf ‘H’ dan huruf ‘e’. Lucu sekali!

    “Ah!” seruan Minho hyung mengejutkan kami semua. “Aku baru baca. Lihat! Di bagian kanan bawah, ditulis agak kecil; ‘Taemin-ssi… get well soon, okay?^^’ Wuah… Taemin dibuat spesial…”

“Benar! Juga ini…” Key hyung menunjuk bagian nama-nama kami. “Nama kita diawali gambar bintang, hanya nama Taemin diawali gambar hati.”

Aku menatap kertas itu. Benar, hanya namaku yang diawali gambar hati. Astaga… perasaan apa ini? Rasanya ada kupu-kupu di perutku, menimbulkan sensasi aneh. Senang? Tersanjung? Mungkin.

“Astaga… wajahmu merah~” goda Onew hyung.

Aku membuang muka, berusaha menutupi salah tingkahku, “Erm… aku kan sedang demam, hyung!”

Keempat hyung-ku tertawa. “Ara… Uri kanda, Taemin kwiyeowo~!” setelah mencolek daguku, mereka bergegas pergi. Cepat sekali perginya.

Aku kembali menatap meja, menatap hadiah dan surat dari para SHAWOL. Lho? Itu kan, ponsel Key hyung? Babo! Masa’ ditinggal begitu saja?

Aku segera mengambil ponselku dan berusaha menelpon ponsel Minho hyung. Terdengar suara wanita berbicara. Arrgghh! Sial! Pulsa tak cukup untuk menelepon. Akhirnya, aku hanya bisa mengirim pesan. Bagaimanapun, kasihan kalau Key hyung tak bawa ponsel.

Sesaat kemudian, aku menerima balasan dariminho hyung.

FROM: Minho hyung<3

Arayo! Key hyung sedang bergegas ke sana. Oh ya, kami akan berusaha menyelesaikan masalah SME. Kau  istirahat saja. Kalau bosan, kau boleh panggil temanmu untuk berkunjung. Manajer yang mengusulkan.

Astaga! Mereka ini mikir apa? Mereka lupa kalau nyaris semua temanku masih suka mem-bully-ku? Temanku hanya para yeoja! Tapi… kalau aku memanggil teman yeoja ke mari… akan lebih menyenangkan? Tapi… yeoja yang datang ke mari akan terkesan…… aish! Panggil saja lah! Setidaknya aku akan ada teman bicara. Dan kalau lapar, tinggal suruh masak! Hahaha… sedanh sakit begini, otakku benar-benar telah menjadi licik! ;)

Aku membuka kontak ponsel Key hyung. Memeriksa nomor-nomornya. Tampaknya, satu-satunya nomor temanku yang ia miliki adalah nomor ponsel                    . Dia memang baik, bertanggung jawab, dan yang pasti… pintar masak!

Otakku mendadak memikirkan sesuatu.

Sesuatu yang membuatku agak malu.

Tanganku bergerak, keluar dari kontak, membuka daftar panggilan, dan mendapati sebuah nomor tanpa nama. Aku memilih nomor itu, kemudian memilih mode send to, memasukan nomor ponselku, dan menekan pilihan SEND. Tepat, ketika pintu terbuka dan Key hyung bergegas masuk.

(Euna’s POV)

“Ah… Kim Euna?” resepsionis itu berusaha meyakinkan.

“Mm… ne…” jawabku kaku.

Wanita itu tersenyum dan menemaniku menuju dorm SHINee. Aku SANGAT kaget ketika Taemin mengirim pesan dan menyuruhku datang. Bodoh memang, tapi aku percaya. Yah… bisa dibilang, aku tahu, itu nomor Korea, dan nomor orang Korea yang kupunya hanya nomor anak pemilik penginapan. Mungkin saja orang yang meneleponku dulu benar-benar Kim ‘Key’ Bum SHINee dan Taemin minta nomorku dari hyung-nya itu.

Kerennya, ia bahkan sudah menghubungi satpam apartemen, petugas resepsionis, dan bodyguard SHINee untuk mengizinkanku masuk. Masih ada beberapa wartawan di luar, sehingga pengawasan masih ketat.

“Annyeong haseyo!” sapaku, bercicit pada para bodyguard penjaga dorm SHINee. Tak disangka, mereka malah tersenyum hangat dan membunyikan bel untukku.

“Masuk saja. Magnae kita sedang sakit,” kata salah satu bodyguard.

Aku mengangguk, tersenyum, dan membungkuk sebagai rasa terima kasih, kemudian masuk dengan perlahan.

Kulihat Taemin sedang duduk di sofa dengan piyamanya. Aishhh… neomu kwiyopda~!!! “Annyeong!” aku memberi salam.

Ia tersenyum kecil, “Santai saja, aku hanya mengundangmu untuk main, “ balasnya, “Whoa~ pakaianmu keren!”

Aku meringis canggung, “Kau yang menyuruhku menyamarkan diri.”

Ia tersenyum lagi, membuatku makin canggung. “Lepaskan saja penyamaranmu. Di sini tidak akan ada yang menyerangmu.”

Aku mengangguk dan melepaskan penyamaranku; kacamata (milik Seorin), mantel tua (milik Ahjussi pemilik penginapan), topi sulap (milik Ahjussi juga), dan menghapus make-up-ku (anak pemilik penginapan yang meriasku).

“Di luar panas, ya?” tanya Taemin.

Aku mengangguk dan meringis, “Padahal waktu itu hujan seharian.”

Ia tertawa kecil. “Kau keren! Tidak sakit!”

Mendengar itu membuatku merasa benar-benar bersalah. “Jeongmal mianhae… Na taemune…” aku mendesah, “Harusnya aku tak usah datang ke depan dorm SHINee… Padahal hari itu sedang hujan…” Benar. Harusnya aku saja yang sakit.

Ia tertawa kecil lagi, “Gwaenchanha. Jangan pikirkan. Toh, aku yang menghampirimu.”

Aku mengangguk lagi. hening kemudian. Astaga… canggung sekali. Ayolah Taemin… bicara sesuatu… Ini sungguh tidak nyaman… aku bahkan bisa mendengar bunyi jarum jam… bahkan bunyi helaan nafas!

“Kim Euna!” panggil Taemin pelan.

“Hm?”

Ia menunduk dan tersenyum, “Gomawo,” ia mengangkat kepalanya, masih tetap tersenyum , “Kemarin itu, di Taman Ria… Neomu neomu neomu jaemiseosseo.”

“Jinjja?” aku rasa mataku benar-benar berbinar sekarang.

“Ne,” Taemin terdengar tulus.

Aku tersenyum kikuk. Hening lagi. Sungguh, aku ini manusia biasa, pikiranku juga bisa melayang-layang kea rah yang salah. Aigo… sekarang aku berada di dorm SHINee! Bersama Taemin! Berdua!!! Aku merasakan panas di wajahku. Oh… ini kondisi yang kurang bagus… terlalu… terlalu menegangkan… bunyi jarum jam terdengar lagi… astaga…

“Kau tegang?” sahut Taemin tepat sasaran. Ia tertawa kecil, “Dalam kondisi normal, kau sedang dalam posisi bahaya. Ingat, aku ini namja normal, dan kita hanya berdua di sini.”

DEG! EOMMA!!! Ini menjadi menakutkan. Bagaimana ini? Taemin menatapku dengan tatapan aneh. Ia bangkit dan berjalan mendekatiku. Ia tersenyum aneh… astaga… astaga… eotteokhae?!?!?

“Tapi aku sedang sakit, “ ia berhenti mendekat dan angkat bahu, “Jadi kau yang berbahaya. Tolong jangan berbuat macam-macam padaku, ya!” lanjutnya. Aku hanya bisa tercenung.

Dan tawa Taemin pecah. “Ternyata menggoda orang itu menyenangkan! Wajahmu sampai pucat begitu!” ia berhenti sesaat untuk tertawa, “Rasanya sakitku sudah benar-benar sembuh!”

Aku mengerutkan kening dan mendengus. Kupikir Taemin sudah ketularan yadong. Aigo…

“Mm… Jeomsim meogosseo (sudah makan siang, belum)?”

Aku menggeleng, “Ajig.”

Taemin mengangguk-angguk, “Nado. Kau bisa masak?”

Aku meringis, “Aniyo~ aku pernah mencoba masak Indonesian fried rice tapi terlalu asin. Rasanya sungguh kacau… hanya asin… tidak pedas, tidak manis, aneh!”

Taemin tertegun, “Jeongmal?”

“Ne!”

“Aih… benar-benar tidak bisa masak apapun?”

“Ne~”

“Tidak bisa buat kimchi juga?”

“Ne…”

“Aigo…” Taemin tampak lemas seketika.

“Ah! Aku bisa masak mie instan!”

Ia menyipitkan matanya kesal, “Ehem… aku sedang kurang sehat…”

“Ah… geurae…”

(Key’s POV)

“Kita batalkan saja latihan hari ini,” tukas Manajer, masih menatap ponselnya. “Mr. Soo Man mengajak diskusi.”

Kami berempat hanya bisa mengangguk. Pasti mengenai masalah SME dan SHINee. Minho mendesah dan kembali menatap jalanan. Jonghyun hyung dan Onew hyung kembali sibuk dengan i-Pad mereka. Dan aku kembali menguping percakapan dua pria gaul di depan; Manajer dan Minsuk hyung—supir kami.

Begitu sampai di gedung SME, kami segera menuju ruangan Lee Soo Man. Manajer memisahkan diri karena ingin ke toilet.

“Silyehamnida!” ujar Onew hyung sopan setelah mengetuk. Ia membuka perlahan pintu kaca itu. Ruangannya kosong. “Annyeong haseyo!” bisik Onew hyung, berusaha memastikan bahwa ruangan benar-benar dalam keadaan kosong.

“Kosong?” gumam Manajer, yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang kami.

Dan secara tiba-tiba juga, salah satu pintu di ruangan itu terbuka. Ada orang? Itu kan tempat penyimpanan dokumen? Seorang yeoja bercelana pendek, memakai tanktop, dan jaket melangkah keluar. Ia tampak sibuk memasukan sebuah berkas ke tas selempangnya. Ketika ia mengangkat kepalanya dan melihat kami, ia tersentak dan mematung. Kami juga mematung.

Siapa yang tak kenal yeoja manis itu? Artis baru yang diramalkan akan sukses nantinya. Salah satu teman sekolah Taemin yang cukup dekat dengannya.

“Jung Mihyun?! Seru kami berempat.

TBC

Never Ending Love

Title: Nver Ending Love

Author: newshawol

Main Cast: Taemin, Yu-Mi

Rating: General

Genre: Friendship, Sad (?)

A/N: Hello! Ini oneshot pertama-ku.. dan udah pernah aku post di AFF. Maaf ya, grammar-nya ancur… Ini aku buat waktu SMP… jadi.. ancur. Hahaha.. jangan lupa.. yang udah mampir.. tinggalin jejak yah :D

“…Love from everyone never change who you are. Love never makes you weak. Even thought love made you hurt… it always makes you stronger. Love from your couple bring you happiness, love from family bring you strength, but love from best friend bring you all; happiness, strength, adventure, and lesson. And that love will always be in your heart…”

Taemin P.O.V

I first saw the girl in one hospital in Seoul. I got injured after performed in one country. When I went to the hospital’s library (cool… it was the first time I saw library in hospital), I met this girl. I took a comic when I saw this girl was listening to the music with earphone and read the novel. She sat on one read-chair.

The girl used same clothes with me; nursing clothes—light blue with soft brown lines. So, the girl was had nursing too, like me. I walked to the girl and sat in front of her. She looked me and didn’t say anything for a while. I smiled to her and then she gasped. Her brown eyes were getting bigger.

“Gosh… You must be Taemin from SHINee!” she shouted with very soft voice. Okay, she had an alto voice but she still can whisper. I smiled again to her and say hello. She smiled back and stuck her hand, “I’m Gloria. My Korean name is Jung Yu-Mi. I thought my name is like Japanese name but that’s real Korean name.”

“Yumi? Yeah… my fans from Japan sent me a letter. Her name is Yumi,” I replied.

She smiled and stopped listen the music. “When everyone write their name with alphabet, they combine they name—example your name ‘Tae-Min’, but you wrote it ‘Taemin’—as they like. But I never combine my name. I always write it ‘Yu-Mi’ not ‘Yumi’,” she explained.

Seriously, I didn’t really understand what she talking about. But I understood that I must call her ‘Yu-Mi’, not ‘Yumi’.

She was the weirdest girl I’ve ever met. She talked about many weird things like how your mole grow, why we have different shapes of fingers, how long your hair can grow a day, etc. After about half hour she talked about weird things—but actually that were interesting—she talked about boy-band, example SHINee.

Because I knew many things about boy-band, I talked much and she laughed loudly. She said that she was shock when knowing that I love to talk much. I laughed loudly when heard that silly things.

Yu-Mi was an Indo-Holland girl. She went to Korean because she must get better nursing. She got a bad illness. She didn’t tell me what kind of illness is that. The only one I knew was she got the nursing in this hospital for one year. Oh my… one year!

I told about Yu-Mi to other SHINee’s members that got injured too like me. Yu-Mi and other members were getting closer easily. We spent our time together. This day, was the day for me to go back to my home. I’ve been here for a week, but I never feel bored because I got new fantastic friend like Yu-Mi.

“So, do you still here after this day?” I asked her.

She smiled to me and sighed, “I always here. I never go out since I got nursing.” She looked at me and grinned, “What’s wrong? Do you longing for me?” she laughed again.

“Of course no…” I disputed. But then I laughed, “But maybe yes…”

“I’m right! Well, visit me if you are longing for me. I will still here so that we can meet again.”

I nodded, “By the way, actually… what kind of illness that you’ve got?”

She thought a while, “Must I tell you?” she asked with bright face. I nodded. “Okay… mm… I got a cancer; lungs cancer. And, because when I was a child I had overweight, my lungs—not my heart—have been weak.”

 I startled. I eyed her with unbelievable gaze. She looked at me with weird face and laughed. “Why you show that silly face? Relax…” she laughed again.

Seriously, is this girl being crazy? How can she laugh when she has a dangerous tumor in her body? I eyed her confused, “Yu-Mi-ssi… why do you laugh? There’s nothing funny. Don’t you feel afraid of your illness?”

“Your face is definitely funny!” she laughed again, “Mm… Scared? I don’t know… I have God who always support me… and also my family. I live not for sad. I live for share my love to others.” Suddenly, a nurse came to us and spoke with Yu-Mi. I could hear what the nurse talks about. Yu-Mi must get an injection like usual.

“Whoa… I must go now, Taemin. I really hope that you will always healthy. Bye!” she stood up and waved to me. She bowed her head when followed the nurse.

Though she bowed her head, I could see her gaze. Sadly gaze. I was really-really sure that what’s in her feling or mind was different with what she said. She said that she don’t scared, but she still a young girl that didn’t want to get any illness.

Key P.O.V

I heard from Taemin that Yu-Mi, our new friend had a cancer. What the hell?! She was really a nice and smart girl. She was young and polite. She was funny and love to laugh. But why she must get that silly-crazy-weird illness?

Taemin seriously changed after that. He looked sad and she smiled rarely. He always visits Yu-Mi in his spare time. After done our schedule, he always visits Yu-Mi. Then, he always tell the others how’s Yu-Mi’s condition. Taemin tried his best to make Yu-Mi happy.

I knew, thought there’s a medicine for cancer, Yu-Mi’s cancer was too dangerous and I thought Taemin wanted to make all memorable experience in Yu-Mi’s life.

Taemin P.O.V

“Let’s play the Scrabble! I’ve bought the newest and hardest scrabble ever!” I shouted to Yu-Mi when visited her room.

She laughed, “Stupid! All scrabble is same! Okay… let’s play it!” and we played together. After played the Scrabble, we played Truth or Dare. She always wins so that I must be honest to her or do something weird—because she always asks me to do a terrible thing.

Once, I won. She chose ‘truth’ and I asked her about her feelings now. “Mm… I must tell the truth, right?” she smirked, “I’m afraid. Three days again, I must do a surgery. If the surgery is fail, we can’t meet again…”

I startled again. Now, I really could see a frightened in her eyes. She inhaled and smiled again, “Long time didn’t have a walk… I really want to have a walk… see the buildings… play in playground…”

“Just go for walk now…” I said and smiled to her.

“But Doctor said that if I go outside, my tumor will get worse… and my lungs will get more pain. I don’t want to die faster. But… that will make me sadder if I can’t go outside…”

“I will accompany you…” I said sudden. I didn’t know why I can say that thing.

She gasped and smiled happily, “Are you sure? Oh really… that’s one of some way that friend can do to show his or her love to others… Do you understand it?” she smiled, “Let’s go now!”

“Now?”

“Yes, we are!” she nodded happily. She held my hand and pulled me. She looked happily, made me happy too. We had a walk in park. We bought four bowls of sundaes. We played at playground on one kindergarten. We played at sands-box. We played until sunset. That all were fun!

We went back to hospital when the sky was getting dark. One nurse was angry with Yu-Mi because she went without any permission. Yu-Mi smiled innocently to the nurse and followed the nurse. Then, she turned around her head and winked to me.

That’s crazy. I brought a sick people went out without any permission. We had a very nice day. Yeah… very nice last day… Because Yu-Mi passed away in the afternoon, one day after that day; after we went outside.

One day after the fun day, I went to the hospital again. I had a schedule so that I visited the hospital at night. But when I asked the nurse, the nurse just sighed and shook her head. Two people beside her—a woman with short hair and a man with tired face—were Yu-Mi’s parents. They cried loudly and made my eyes blur.

“What’s wrong?” I asked confusedly. I had a bad feeling.

“Are you Yu-Mi’s friend?” the woman with short hair asked me.

I nodded. “So you are the person, handsome guy. We’re Yu-Mi’s parents. She… she gave this to us and asked us to give it to you.” She gave a letter to me.

“What? What’s wrong with her?” I started to be afraid.

“She passed away, meet The God,” Yu-Mi’s father explained shortly.

I really cried then. Yu-Mi’s tumor seriously got worse. And her lungs were weaker after went outside and made her passed away early.

I went to the park and cried alone. I opened the letter and read it.

My dearest friend, Taemin…

I knew before that we had not much time to go together. But we still went outside together. I wrote this letter after went with you. I knew that I will ‘go’ faster. Don’t be sad because I’m happy here, beside my God. Don’t feel guilty because you didn’t make any mistake

You know… you really change my life. I almost always feel lonely in the hospital. But since I know you, I learned to make my life precious. I tried my best to make a great memory. Thanks for helping me.

Because of you, I can eat ice cream and play with sands. Because of you I can see many people walk near me. Because of you I feel respectable. You know, your love makes me stronger. Your love helps me prepare for the death. Your love teaches me many things.

Ah! I remember something! When the storm of my life came, I can pass it safely because I have a great family and a friend like you. But the most important is because I have a great God. You know, in your every problem, God shows you His mighty. So, never give up and never get angry to God.

One of the greatest thing of my life isn’t I can go out side with you. The greatest thing is that I can meet you. Thanks for everything… I will never forget you…

   Your memorable friend,

                Yu-Mi

 

  Again, I cried. But the days after that, I really get stronger. Yu-Mi… you thought that I taught you many things, so did I. I always thought that your love taught me many things. I promised I will be like you—that struggled for the life—and make my life be a better life. Because your love will never ends. Your love is safe here, in my heart.

***