Bad Time=New Arts :D

Hello, I.Jealous! :)

hahaha.. aneh ya.. sebenernya “I.Jealous” itu nama fansclubkuuuuu~ *silahkan ngakak sepuasnya-_-* hahaha…

Well, berhubung udah lama ga ngepost… aku memutuskan untuk ngepost sesuatu. Tapi apaaaaa?? Aku punnya beberapa draft FF tapi ga ada yang cukup menarik untuk dilanjutin. Lagi pula otakku lagi mumet untuk ngurus gituan. Dan akhirnya… Aku ngeliat sesuatu di dashboard blog ini…

Ada yang search “graffiti lucu”… Well… Kok bisa ada yang nyari itu di blog-ku? Ah! mungkin gara-gara aku sempet masukin doodle graffiti sebagai main picture FF-ku di SF3SI. Jadi, aku berniat untuk ngumpulin semua hasil writing doodle-ku dan di scan. Ga ketemu semua sih… soalnya aku kalo ngedoodle random tempat. Hahaha

Nah nah… ini salah satu doodle yang kubuat waktu badmood… tapi akhirnya dipake buat AFF :D hohohoho

Ini doodle-ku buat FF application di AFF sebelum AFF dirombak :)

WELL YEAHHH… Lame, huh?

Pengen upload lagi tapi crunching-nya super lama… jadi males duluan… maybe next time, I’ll post some moreeeee :)

Do you guys also make doodle? Show meeee! :D

xoxo

Irene

Great Pose of My Little Sis-Bro

Well…

Ini bukan curcol sih… Cuma mau share foto-foto jadul yang aku temuin di album lama.  Menurutku, foto-foto itu udah cukup keren untuk ukuran tahun 2004-an… Hahaha…

Foto-foto ini adalah foto adek-dekku: Britania (Tania) dan Josiah (Jojo). Mereka waktu kecil unyu.. pas gede… -_- NGEKIIN -.-

Well, let’s check it these cute kids picture out! :D kkk~

Cute Jo, Smiling brightly just because of DONUT :3

Kids take a bath, Silly XD

Jo with his lovely Papuan twin :D

LUCU XD hahaha... Happy Sister and Brother :p

Menurut gue, ini COOL! Candid Kid yang gahol LMAO

CUTE!!! Kayaknya bahagia banget gitu, ngeliat timun digantung-_- hahaha

(Again) Jo playing with his Papuan friend. LOL

Sassy Tania :p Hahaha.. Gaya bener-_-

Background-nya Tembagapura!! <3 Coba Tania nengok, pasti keren! XD

Tania... Jo... main teruuuusssssss -,-

(Again) Sassy Tania -_- Bibirnya merah banget! ROFLMAO!

 

Okidoki…

Segitu aja kali yah… kasian, aib adek adek gue… diumbar semena-mena… hahahaha… lucu? lumayan… norak? BANGET!!!! Huahahahahaha…

Feel free to comment anything! Comment is always loved ;)

 

xoxo

-newshawol

heck it these cute kids picture out! :D kkk~

My Music

Title: My Music

Author: newshawol

Main Cast: Park Jungsoo (Leeteuk), Han Hyebyung

Support Cast: Super Junior

Length: Oneshot

Genre: Romance

Rating: General (G)

Credit: Poster by Alskey

   Menghadapi segala jenis manusia di dunia memang sulit. Menghadapi berbagai kondisi yang terus berubah malah lebih sulit lagi. Banyak orang yang bisa selamat dari kerasnya hidup. Beberapa memilih menjadi dirinya yang “lain”, beberapa menjadi hiperaktif agar mendapat perhatian, beberapa berusaha bertahan menjadi dirinya sendiri, dan sisanya mengalami kesulitan sehingga terpaksa harus mengunci mulut.

   Masih mengulum lollipop dengan tenang, Han Hyebyung berjalan cepat menuju sekolahnya. Bukan keinginannya untuk sepenuhnya diam. Hanya saja, situasi baru yang dihadapinya membuatnya harus menjadi tenang.

   Seoul…

   Setelah bertahun-tahun memimpikan kota ini, akhirnya ia bisa sampai di sini. Dinginnya udara pertengahan September ini membuatnya makin ragu untuk berjuang di kota indah ini. Dengan langkah cepat namun penuh paksaan, ia memasuki gerbang sekolahnya.

   “Annyeong haseyo, Seonsaengnim!” sapa Hyebyung ramah kepada Kim Seonsaengnim yang berjaga di gerbang.

   “Ye, annyeong haseyo,” balasnya datar.

   Setelah menghela nafas perlahan, Hyebyung melanjutkan langkahnya menuju kelas. Meski sudah seminggu ia berada di kelas ini, tetap saja ia merasa asing dengan ruangan yang didominasi warna abu-abu ini. Beberapa anak langsung menoleh begitu melihat Hyebyung masuk.

   Hyebyung menunduk dan mempercepat langkahnya menuju kursi. Menjadi anak pindahan di tengah semester memang bukan perkara mudah. Apalagi kalau tak menguasai bahasa Korea. Semua anak akan berpikiran aneh. Terus terang saja, hal itu cukup mengesalkan Hyebyung.

   Bukan salahnya ia tak fasih berbicara Korea. Biarpun ia anak Korea murni, tinggal di Wina membuatnya sama sekali tak pernah bicara bahasa Korea. Tapi setidaknya, ia sudah belajar keras selama setahun belakangan ini. Kenapa tak ada yang bisa menghargai?

   “Kau pikir, gara-gara kau pernah tinggal di Wina, kau bisa berbangga-ria?” tukas seorang yeoja secara tiba-tiba.

   Hyebyung mengangkat kepalanya dan mengerutkan kening. “Joiseonghamnida… mm… could you please speak a little bit slower?” pintanya dengan selembut mungkin. Bukannya ia menolak bicara Korea, tapi lafal yeoja di hadapannya terlalu kental dan bicaranya cepat sekali. Bagi Hyebyung, sama saja seperti berusaha mengerti bahasa Jerman yang diucapkan balita.

   Yeoja di hadapannya meringis. “Cih! Sombong benar! Sudah seminggu di sini, masih tak bisa berusaha berbaur? Kau pikir kami tak bisa bahasa Inggris?! Belagu!” tandasnya dengan wajah sangar. Dan dalam hitungan detik, yeoja itu pergi meninggalkan Hyebyung yang masih dalam keadaan terkejut.

   Oh Tuhan… bisakah aku bertahan di sini? Rintih Hyebyung dalam hati.

*MM*

   Dengan amat pelan, Hyebyung mengeluarkan kotak bekalnya. Zaman sekarang, tak banyak murid SMA yang membawa bekal. Mereka jelas lebih memilih membeli makanan di ruang makan. Tapi bagi Hyebyung, bekal-lah satu-satunya harapan untuk memulihkan mood-nya.

   Masih dikelilingi tatapan menusuk dari teman-temannya, Hyebyung berjalan cepat dengan kepala tertunduk. Ia harus pergi, ke mana saja, di mana saja, asal jangan di kelasnya. Dan langkah cepatnya membawanya ke taman belakang sekolah.

   Hyebyung terkikik sendiri ketika menyadari keberadaannya. “Ini seperti drama,” gumamnya. “Seorang yeoja datang ke taman belakang dan menemukan namja super tampan tertidur di sana. Kemudian si yeoja mengecup si namja, membuat namja itu terbangun. Namja tampan itu terkejut namun mereka mulai berkenalan… jatuh cinta… bahagia… selamanya…” Hyebyung melanjutkan imajinasinya.

   Ia terkikik lagi dan segera mencari kursi. Baru saja ia membuka kotak bekalnya, dentingan piano mengalun di sekelilingnya.

   “Eomo!” serunya terkejut. Ini horror… dentingan piano di tempat sepi… lebih baik kabur!!! Hyebyung hendak mengambil langkah seribu untuk meninggalkan tempat itu. Tapi entah kenapa, hatinya tak mau beranjak.

   Alunan lagu itu bukan alunan nada menakutkan seperti di TV. Alunan lagu ini begitu menenangkan, penuh perasaan, ah… mengapa ia bisa merasakan perasaan ini? Dari mana asal suaranya?

   Hyebyung menutup kembali kotak bekalnya. Ia berusaha mengikuti suara piano itu. “Berbunyilah… teruskan…” bisik Hyebyung. Dentingan itu terdengar semakin keras, seakan sedang menuntun Hyebyung agar tenggelam ke dalam pesonanya. Dan akhirnya, dentingan itu membuat Hyebyung memasuki ruang musik utama.

   Dengan amat perlahan, ia menapakkan kakinya satu per satu.  Di sudut ruangan ada seorang namja yang sedang memainkan piano. Tubuhnya membelakangi Hyebyung dan ia sama sekali tak menyadari kedatangan Hyebyung. Namja itu memakai seragam yang sama dengan Hyebyung, berarti ia juga murid sekolah itu.

   Namja itu terus memainkan lagu penghibur dengan tenang dan lincah. Tangannya menari begitu riangnya di atas tuts hitam-putih itu. Kakinya bergerak dan berpindah perlahan di atas pedal-pedal, memberikan efek menakjubkan pada lagu tersebut. Sesaat setelahnya, permainan berakhir. Ia masih terduduk di situ, menatap pianonya.

   Hyebyung yang sudah tergugah dengan lagu itu sontak bertepuk tangan. “Keren! Keren!” serunya senang. Namun sesaat kemudian ia menambahkan, “Joiseonghamnida, aku tak bermaksud kurang ajar. Hanya saja, I’m amazed with your song that I couldn’t avoid to follow it and arrived here. Sekali lagi, joiseonghamnida!” ia membungkuk.

   Namja itu menoleh dan menatap Hyebyung tenang. Ia menyunggingkan senyum ramah dengan tatapan matanya yang teduh. Poninya terurai rapi di keningnya, membuatnya terlihat berwibawa. “Gwaenchanha. Aku senang kalau ada yang suka lagu ini,” balasnya santai.

   Hyebyung tersenyum kikuk. “Ah… geurae… mm… anda kelas berapa? Mm… maksudku… Untuk formalitas, aku harus memanggil apa? Seonbae atau –ssi?”

   Ia terkekeh, “Aku kelas 2. Aku yakin, kau bukan anak seangkatanku. Jadi, panggil aku Seonbae. Oh ya!” ia mengulurkan tangannya. “Park Jungsoo imnida!”

   Hyebyung menyambut uluran tangannya dengan kaku, “Ah, ye. Han Hyebyung imnida!” balasnya.

   “Baiklah, karena aku jarang memiliki penonton, maukah kau mendengar permainanku sekali lagi? Bantu aku menilai permainanku. Aku akan ikut audisi musik dua hari lagi, dan aku harus berlatih di depan penonton,” pintanya pelan.

   Hyebyung mengangkat bahu tanda tak keberatan. Dengan tenang, didengarkannya lagi denting merdu piano itu. Kali ini diiringi suara lembut Jungsoo, membuat lagu ini semakin sempurna. Hyebyung merasa, mendengarkan semua ini sungguh lebih baik daripada sekedar makan bekal di taman belakang.

*MM*

   Hari ini Hyebyung masih menerima hinaan kejam dari teman-temannya. Tapi ia memilih diam. Ia hanya bisa menunduk dan mengambil kotak bekalnya. Pikirannya masih terus melayang kepada namja bernama Jungsoo kemarin itu. Mungkinkah ia bisa bertemu namja itu lagi? Mendengar musik indahnya lagi?

   Kali ini, dengan langkah dua kali lebih cepat, Hyebyung bergegas menuju ruang musik. Benar saja, ruangan itu kosong—hanya ada namja yangs sedang bermain piano; Jungsoo.

   “Hello!” sapa Hyebyung.

   Namja itu menghentikan permainannya dan menoleh. Sekali lagi, senyum ramah terukir di bibir tipisnya. “Kau lagi! Hahaha… apa hobimu itu menguntit orang?” dan ia terkekeh oleh ucapannya sendiri.

   Menguntit? Hyebyung merasa asing dengan kata itu. Ia belum pernah memperlajari kosakata jenis begitu. Jadi ia hanya angkat bahu dan meringis.

    “Karena aku orang baik, kau kuizinkan mendengar permainanku,” kata Jungsoo.

   Hyebyung tertawa mendengarnya. “Percaya diri sekali!”

   Ia meringis konyol dan memutar tubuhnya, kembali memainkan piano dan bernyanyi dengan tenang. Nada-nada lagu yang ringan namun tenang, tidak melankolis namun tidak menggebu-gebu. Luar biasa!

   “Besok, ya?” tanya Hyebyung.

   Jungsoo masih memainkan pianonya namun ia menjawab, “Apanya? Audisi? Ya, besok. Menegangkan!”

   Hyebyung mengangguk-angguk dan kembali terdiam. Tiba-tiba saja, rasa kesepian yang dipendamnya selama ini membuncah keluar. Ia mendesah dan tersenyum hambar. Lagu ini terlalu menenangkan. Rasanya, semua penat hendak pergi dari dirinya. Namun penat itu sempat mampir di otaknya, membuatnya kembali  merenungi nasib buruknya.

   “Kau tidak akrab dengan temanmu, ya?” tanya Jungsoo tiba-tiba, masih terus memainkan piano tersebut.

   “Mm? How do you know that?” balas Hyebyung sedikit terkejut.

   Jungsoo terkekeh lagi, “Aku tahu segalanya.”

   Hyebyung ikut terkekeh. Namja tenang dan antik seperti Jungsoo kadang kala bisa mengetahui hal yang tidak semestinya. Bagusnya, namja itu tidak ikut menghina Hyebyung.

   “Kudengar, mereka tidak suka kau bicara bahasa Inggris terus, padahal bahasa Korea-mu masih pas-pasan,” lanjut Jungsoo.

   “Eung,” gumam Hyebyung mengiyakan. “Aku sudah berusaha. Tapi bahasa Korea sedikit terlalu sulit untukku. Maksudku, yah… aku belum terbiasa. Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri.”

   Jungsoo mengakhiri permainannya dan memutar tubuhnya, menatap Hyebyung. “Kalau tak keberatan, boleh aku tahu kisahmu sebelum ini? Maksudku, dimana kau sebelumnya? Dan, mengapa kau sekolah di sini?”

   Hyebyung angkat bahu lagi. “Sebelumnya aku lahir di Korea, namun akhirnya pindah dan tinggal di Wina, di dekat Hochschule fur Musik und Darstellende Kunst (Sekolah musik dan seni teater Wina). Tapi aku sama sekali tak mudah bergaul. Hidupku terbawa pengaruh asia, sehingga sulit berbaur di sana. Setelah bertahun-tahun lumutan di sana, orang tuaku memaksaku pindah ke sini. Padahal sudah kutegaskan, akan sama saja akhirnya. Tapi mereka terus menuntutku—pekerjaan mereka memang menuntutku.

   “Aku masih kecil ketika tinggal di Korea. Ketika aku tinggal di Wina, ingatanku tentang bahasa Korea mulai memudar sedikit demi sedikit. Apalagi kedua orang tuaku terus-terusan menggunakan bahasa Inggris dan Jerman. Aku tak pernah mengenal bahasa Korea lagi. Namun tiba-tiba, aku dipaksa sekolah di sini. Alhasil, banyak murid merasa risih dengan keberadaanku. Selalu begitu. Kadang, aku merasa lelah, terus-terusan dipaksa oleh orang tuaku, membuatku makin sulit menyatu dengan dunia. Tapi selama aku masih hidup bergantung dengan mereka, aku tak bisa berbuat apapun. “

   Jungsoo mendengarkan dengan tenang. Sesekali ia mengangguk dan mengajukan pertannyaan singkat. Dan entah mengapa, Hyebyung tak dapat menahan dirinya untuk berbicara. Mungkin, ini pertama kalinya ia menemukan seseorang yang bisa diajak berbicara seperti ini. Jujur saja, Hyebyung merasa nyaman dan aman ketika berbicara dengan Jungsoo.

   “Maaf aku bicara terlalu panjang,” ujar Hyebyung kikuk di akhir ceritanya.

   Jungsoo terkekeh, “Tak apa. Aku bisa mengerti.”

*MM*

   Jungsoo menghela nafas dalam-dalam. Pelajaran hari ini tak sanggup diterimanya. Ia tak sedang memikirkan audisi yang akan berlangsung beberapa jam lagi. Ia sedang memikirkan seorang yeoja. Hubae-nya… Han Hyebyung.

   Entah mengapa, Jungsoo merasa bebas bernyanyi dan bermain musik di depan yeoja tenang itu. Dan kisahnya… sungguh… mengingatkan Jungsoo akan dirinya sendiri. Jutaan hinaan yang diterimanya beberapa tahun lalu.

   Jadi, perasaan tenang apa ini? Simpati? Mungkin karena mereka memiliki kisah yang serupa? Ataukah perasaan sungguhan yang bisa muncul secara tiba-tiba?

   Jungsoo menggeleng.

   Ia sendiri tak mengerti apa yang sedang berkecamuk di dadanya.

*MM*

   “Semangat, Jungsoo seonbae!!” Hyebyung mengepalkan tangannya dengan semangat membara. Belakangan ini ia mendadak jadi lebih ekspresif.

   Jungsoo tertawa melihatnya. “Terima kasih. Aku akan berusaha!” ia ikut-ikutan mengepalkan tangannya. Dengan wajah tegang, ia segera memasuki ruang audisi.

   Di luar, Hyebyung terduduk lemas menunggu seniornya itu. Setelah tiga hari melalui masa audisi, akhirnya hari ini Jungsoo ikut audisi terakhir. Peserta yang berhasil mencapai tahap ini berjumlah 60 orang dan yang akan dipilih hanya 8 orang. Hyebyung ingat, Jungsoo bercerita tentang para juri. Mereka menganggap Jungsoo sangat baik di bidang menyanyi. Padahal yang dibanggakan Jungsoo adalah permainan pianonya.

   Setelah setengah jam menunggu, Jungsoo keluar dengan cengiran di wajahnya. “Ah… tegang sekali!” serunya. ia tampak lega karena telah melewati masa menegangkan pertama.

   Mereka kemudian menunggu semua peserta menyelesaikan audisi, kemudian menuggu hasil penjurian selama satu jam. Hal ini sungguh membuat Jungsoo tegang. Ada puluhan peserta hebat yang sudah ia temui. Beberapa yang sudah sempat diajak kenalan adalah Kim Jonghyun dengan suara luar biasa, Cho Kyuhyun dengan gaya cuek namun suara dalam dan tenang, Lee Jinki dengan suara uniknya, Kim Jongwoon dengan suara rendah namun tinggi (?), dan Kim Ryeowook yang bersuara super keren.

   Hyebyung bisa melihat ketegangan di wajah Jungsoo. “Mm… kalau kau berhasil lulus audisi dan meraih hadiah—yang entah apa itu, I’ll treat you the best Bulgogi and Kimbab I’ve ever known!” janji Hyebyung, sekaligus untuk menenangkan Jungsoo.

   Jungsoo tersenyum lemah dan mengangguk. Akhirnya semua peserta di panggil masuk secara serempak. Hyebyung kembali menunggu dengan cemas. Apakah Jungsoo akan berhasil? Apakah ia bisa mengalahkan Si Super-tampan-bersuara-indah Cho Kyuhyun? Dan apa hadiahnya??

   Setelah satu jam yang terasa melelahkan, semua peserta keluar ruangan. Beberapa tertunduk sedih, beberapa menangis kecewa, beberapa terlonjak gembira, beberapa keluar dengan wajah kaku. Cho Kyuhyun keluar dengan wajah cuek, namun cengiran anehnya terukir di bibirnya. Kim Jongwoon keluar dan berjingkrak-jingkrak sambil berseru-seru tak jelas. Kim Jonghyun melompat senang dan tertawa puas. Kim Ryeowook tersenyum puas dengan wajah merah dan terkikik bahagia. Lee Jinki terkekeh puas dan segera bergumam tak jelas mengenai… ayam goreng…?? Huh! Namja aneh!

   Kelima namja yang dikenalnya barusan tampaknya berhasil lolos semua. Sudah lima orang, ditambah seorang namja tak dikenal yang tadi melompat senang—ia pasti lolos, berarti sudah 6 orang yang berhasil. Mata Hyebyung terus menelusuri puluhan orang itu. Dimana Jungsoo seonbae?

   Tiba-tiba Hyebyung merasa tangannya ditarik seseorang. Ia menoleh dan mendapati seorang namja yang amat dikenalnya sedang meringis lebar. “Ayo kita makan Bulgogi dan Kimbab!” ajaknya riang.

   Hyebyung menatap Jungsoo dan tersenyum. “Kau lolos?”

   Jungsoo mengangguk pelan. Ia tersenyum dan kembali menarik tangan Hyebyung. “Kau tahu, Kim Jonghyung, Cho Kyuhyun, Kim Ryeowook, Lee Jinki, dan Kim Jongwoon berhasil lolos. Tampaknya aku berkenalan dengan orang yang tepat,” ujar Jungsoo, “Ada satu yeoja yang berhasil lolos. Namanya… ah… lupa! Yeoja itu bertubuh agak gemuk dan agak pendek. Ketika namanya dipanggil dan ditanya-tanya, ia menjelaskan bahwa ia sedang dalam proses diet. Kau tahu, ia sempat disuruh menyanyi oleh para juri, dan suaranya… LUAR BIASA! Suaranya amat tinggi, sampai 5 oktaf! Dan terus terang saja, ia manis.”

   Jungsoo bercerita dengan penuh semangat namun tetap menjaga tempo sehingga Hyebyung bisa mengerti dengan baik. Gadis luar biasa berwajah manis dan bersuara super merdu… tampaknya bukan ide yang bagus untuk Hyebyung. Gadis itu kini memasang wajah datar dan hanya tersenyum sedikit sebagai tanggapan terhadap cerita Jungsoo. Entahlah… Hyebyung sendiri tidak mengerti mengapa perasaannya bisa begini.

*MM*

   “Hyebyung-ah… gomawo. Aku kenyang sekali…” kata Jungsoo sambil menepuk-nepuk perut datarnya.

   Hyebyung yang telah kembali mood-baiknya berkat sepiring bulgogi membalas dengan tertawa. “You’re welcome. This is the first time I treat someone,” balasnya.

   Jungsoo tersenyum hangat dan menepuk-nepuk kepala Hyebyung pelan. “Aku senang kau bisa tertawa seperti itu. Sudah mulai merasa nyaman di Korea?”

   Mendengar itu, Hyebyung jadi salah tingkah. Ia hanya bisa mengangguk dan menunduk, membiarkan seniornya itu menepuk-nepuk kepalanya. Darahnya mengalir lebih cepat sekarang, membuat pipinya memanas, menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya.

   “Mm… oh ya, apa hadiahnya, Seonbae?” tanya Hyebyung mengalihkan pembicaraan.

Kini giliran wajah Jungsoo yang berubah. Ia mendadak tegang dan terdiam, tampak memikirkan sesuatu.

   “Apa hadiahnya? Tak begitu bagus? Kau diterima di manajemen mana?”

   Jungsoo sedikit menunduk dan seutas senyum tipis terbentuk di wajahnya. “Aku diterima di SM Entertainment. Hadiahnhya…” ia menghela nafas sejenak dan melanjutkan, “Beasiswa musik di Swiss. Di Wina. Selama 5 tahun.”

   Hyebyung terkesiap mendengarnya. Jantungnya seakan berhenti sejenak. Di Wina? Di kota masa kecilnya? 5 tahun? Mendadak segalanya terasa hambar. Pahit bahkan. Hyebyung tak dapat leluasa bernafas. Sesuatu telah mencekiknya. Menggecat paru-parunya dan memaksa jantungnya bekerja lebih keras. Mengapa jadi begini?

   Hyebyung memaksakan seulas senyum simpul. “Mm… bagus sekali. SME kan, amat terkenal. Chukhahae, Seonbae!”

   “Gomawo,” balas Jungsoo singkat. Wajahnya masih terlihat kaku.

   Hyebyung menarik nafas sejenak sebelum kembali bertanya, “Kau benar-benar akan pergi ke Wina?”

   Jungsoo mengangkat kepalanya dan menjawab,  “Mm… aku bebas menerimanya atau tidak. Kalau aku terima, aku akan belajar di sana dan bergabung dengan SME. Jika menolak, aku akan kembali seperti biasa. Entahlah… aku belum bisa menentukan. Wina… jauh sekali…”

   Hyebyung tersenyum sedikit. Ada harapan. Ada sedikiiittt harapan agar Jungsoo tak pergi.

   “Aku disuruh memberi kepastian seminggu lagi. Aku harus berfikir baik-baik. Kesempatan ini merupakan kesempatan emas. Namun aku masih punya keluarga di sini. Maksudku… entahlah. Sekarang kita jangan pikirkan ini. Kita… ke Taman Ria saja! Aku yang traktir sekarang!”

   Hyebyung tersenyum puas. Mendengar kata “Taman Ria” telah membuatnya kembali bersemangat. “Ayo!!!”

*MM*

   “Ya! Han Hyebyung! Dengarkan aku!” perintah seorang yeoja pada Hyebyung. “Jelaskan dengan cepat, apa maksudmu mendekati kakak kelas?!”

   Hyebyung melirik yeoja pengganggu itu dengan malas. “Kami itu teman. Aku tentu bebas berteman dengan siapapun. Kau tak ada urusan denganku!” tandas Hyebyung sebelum meninggalkan teman-temannya.

   “YA! HAN HYEBYUNG! MICHYEOSSEO!” jerit yeoja itu.

   Hyebyung tak peduli. Kakinya sudah asik berlari ke ruang musik. Belakangan ini, ia selalu mengobrol dengan Jungsoo di ruang musik. Kadang makan bersama, dilatih bermain piano, menyanyi asal, pokoknya melakukan segala sesuatu yang membuat Hyebyung berdebar-debar.

   Tapi kali ini ruang musik kosong. Dimana Jungsoo? Dengan cepat Hyebyung mencari-cari keberadaan Jungsoo. Mulai dari toilet, perpustakaan, koridor, dan… taman belakang. Ada seseorang yang sedang berbaring dengan mata terpejam di atas kursi kayu itu.

   Hyebyung mendekatinya. “Jungsoo seonbae?” panggilnya. Orang tersebut segera membuka matanya dan bangkit. Ia menggosok matanya sebentar dan menatap Hyebyung. “Ada apa? Mengapa Seonbae tiduran di sini?”

   Namja itu menghela nafas sesaat dan menatap Hyebyung dengan serius. “Hyebyung-ah… aku sudah membulatkan tekadku.”

   “Tekad?”

   Namja itu mengangguk. “Hari ini aku harus memberi kepastian kepada SME. Aku akan mengambil beasiswa musik ke Wina. Orang tua dan kakakku sudah setuju. Dan kini aku sudah siap.”

   DEG.

   Hyebyung tak dapat berkata-kata lagi. Ia menatap Jungsoo nanar. Ia tak bisa bernafas dengan leluasa lagi. Ini bahkan lebh parah daripada saat audisi. Wajahnya memanas dan sesuatu di dalam rongga dadanya terasa sakit. Matanya terasa perih dan tenggorokannya terasa kering.

   Kosong.

   Perasaannya mendadak kosong. Penjelasan Jungsoo berlalu bagai angin. Hyebyung terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. “Kapan kau berangkat?” sela Hyebyung lemah.

   Jungsoo menatap yeoja di depannnya ragu. “3 hari lagi.”

*MM*

   Hyebyung meneggelamkan wajahnya di atas bantal. Sudah pukul 11.29 malam, namun ia belum tertidur. Pikirannya masih kacau. Berbagai emosi berkecamuk di dadanya. Sudah 2 hari ini ia malas-malasan. Ia tak bersemangat melakukan apapun. Semuanya terasa hambar dan kosong. Ia bahkan tak peduli dengan ocehan orang tuanya.

   Ditatapnya foto yang disimpan di sela buku hariannya. Foto itu didapatnya ketika pergi ke Taman Ria bersama Jungsoo. Di foto itu, baik Joongsu maupun Hyebyung tampak amat ceria memeluk maskot Taman Ria. Namun sekarang kenangan itu malah membuat hatinya perih.

   “Aku akan diantar ke bandara oleh kakakku. Aku harap kau juga bisa ikut mengantar kepergianku. Kalau kau datang, aku akan merasa sangat senang dan bisa pergi dengan tenang. Memang agak pagi, tapi kuharap kau bisa ikut mengantarku. Pesawatku berangkat jam 7 pagi.

   Permintaan Jungsoo kembali terbersit di otaknya. Kemudian senyuman ramahnya, denting piano penenang yang dimainkannya, suara lembutnya, sorot matanya yang teduh… Mengingat itu semua membuat mata Hyebyung basah tanpa dapat dikendalikan. Sesaat kemudian isak tangisnya mulai terdengar. Ia sudah tak kuat menahannya.

   Di simpannya kembali foto itu agar tak kotor. Ia kembali menenggelamkan kepalanya ke bantal. Dengan air mata yang terus berderai, ia kemudian jatuh tertidur.

*MM*

   Seorang namja berjaket coklat berdiri sambil menengok kesana-kemari. Matanya menjelajahi setiap sudut bandara. Orang yang dicarinya sejak tadi tak kunjung datang.

   “Tidak datang?” sahut seorang yeoja; kakaknya.

   Namja itu mengangguk, masih berusaha mencari.

   “Sudah hampir jam 7. Tuh, dengar! Panggilan pesawatmu! Ayo, kau harus bergegas!”

   Namja itu mendesah sedih. Ingin sekali ia melihat orang itu. Orang yang belakangan ini secara perlahan telah merayap masuk ke dalam hatinya, meninggalkan jejak yang cukup dalam di sana. Ini bukan rasa simpati atau iba. Ini murni dari hatinya.

   Digenggamnya sebuah kotak kecil yang sudah ia siapkan sejak kemarin. Dengan langkah gontai, ia segera masuk ke dalam, menuju tempat pemeriksaan paspor.

    “Hati-hati!” Sang Kakak melambaikan tangan dengan senyum lebar di wajahnya. Adiknya yang tampan akan menjadi orang sukses, tidak lagi dimusuhi seperti masa kanak-kanaknya dulu.

   Namja itu balas melambai. Setelah semua urusan selesai, ia segera masuk ke pesawatnya. Beberapa pembimbing dan teman-teman senasib asik berceloteh riang.

   Namun ia hanya bungkam dan menatap kotak yang masih ia genggam. Pesawat mulai bergerak perlahan dan lepas landas, meninggalkan Seoul yang penuh kenangan. Mata namja itu mulai panas. Ia menatap kotak itu dengan tubuh yang mulai gemetar. Seiring dengan helaan panjang nafasnya, ia berbisik, “Saranghae…”

*MM*

6 YEARS LATER

   “HYEBYUNG-AH!!! BBALLI!!!” jerit seorang yeoja berambut ikal, Kim Euna.

   Yeoja yang dipanggil hanya bisa meringis. Ia tahu betul bahwa temannya sedang terburu-buru. Tapi apa daya, sepatu kesempitan ini menghalangi segalanya. “Na…ddo… A… raaahhh…” jawabnya dengan desahan begitu kakinya berhasil masuk ke dalam sepatu sempit itu.

   “Geurae… ayo naik! Kalau aku terlambat, Manajer akan marah besar!” lanjut Euna.

   Hyebyung terkekeh dan segera menaiki sedan putih itu. Pekerjaan sampingan sebagai pianis memang sedikit menyulitkan. Apalagi ia harus menjadi pianis bagi sahabatnya sendiri. Kim Euna, yeoja yang ditemuinya di tempat les musik empat tahun lalu, kini menjadi sahabat karibnya. Latar belakang Euna yang merupakan gadis non-Korea pecinta Korea membuatnya nyaman-nyaman saja bicara dalam bahasa Inggris. Anehnya, ia tak mau dipanggil dengan nama aslinya. Ia menuntut untuk dipanggil ‘Kim Euna’. Alhasil, ketika ia lolos audisi dan terpilih menjadi solois, nama ‘Kim Euna’lah yang ia gunakan.

   Euna mengendarai mobil manajemen dengan sangat cepat. Hyebyung sendiri tak mengerti mengapa gadis ikal itu berani mempertaruhkan nyawa mobil perusahaan. Gila!

   Semuanya berjalan cepat dan lancar. Dengan suara Euna yang dalam dan tenang, juga pesona wajah non-Korea-nya, ia berhasil mengumpulkan gemuruh tepuk tangan. Euna menarik lengan Hyebyung dan membawanya ke tengah panggung.

   “Gamsahamnida!” seru Euna. Ia kemudian mengangkat sebelah tangan Hyebyung. “Tolong berikan tepuk tangan yang meriah untuk sahabatku yang sudah mengiringi laguku dengan musik yang indah!”

   Dan sekali lagi, gemuruh tepuk tangan menyambut. Euna tersenyum puas. “Kim Euna-ya! Michyeosseo! Kau berhutang malu padaku!” tukas Hyebyung dengan wajah merah menahan malu. Suaranya tenggelam dalam lautan jeritan fans.

   Euna terkekeh cuek. “Ini hadiah. Sebagai gantinya, kau akan kukenalkan pada temanku nanti.”

   Hyebyung menatap temannya itu. Gadis bermata almond itu memang sering mendadak gila. Sayangnya, Hyebyung tak bisa melawannya sama sekali.

*MM*

   “Bikin malu!!! Mau taruh dimana mukaku?? Ahhhh~ Euna gila! Mengapa harus membawaku ke tengah panggung??? Huaaaaaa…” Hyebyung mengerutu di depan kaca toilet. Ia membasuh wajahnya dan menghapus make-up-nya, kemudian menggerutu lagi.

   Untung saja, Euna itu sahabatnya. Kalau tidak, habislah gadis itu! Hyebyung malu sekali jika mengingat aksi panggung tadi. Masih terus mengusap-usah wajahnya frustasi, ia berjalan lunglai, keluar dari toilet.

   BRUGH!

   Tubuhnya yang sedang lemas segera terjatuh begitu sesuatu menabraknya. “Joiseonghamnida!” seruan dari ‘sesuatu’ itu terdengar. Tampaknya yang menabraknya adalah seorang namja. Hyebyung menerima uluran tangan namja itu dan bangkit dengan cepat.

   “Joiseonghamnida!” Hyebyung ikut-ikutan meminta maaf. Ia mengangkat dan menatap namja itu.

   Ia terkesiap begitu mengenali wajah namja itu. Tatapan matanya yang teduh, suaranya yang lembut… Jungsoo sedang berdiri di hadapannya sekarang!

   “Hye…Byung…ah…” gumam namja itu. Wajahnya juga tampak amat terkejut.

   Hyebyung masih diam menatap wajah namja itu. Menatap dirinya yang amat ia rindukan. Sosok yang selalu menjadi bayangan di hidupnya. Sosok yang sering menghantui mimpinya. Sosok yang membuatnya bisa diterima oleh dunia, namun sosok yang sama dengan orang yang telah membuatnya menangis meraung-raung.

   Tiba-tiba saja Hyebyung merasakan kehangatan di sekujur tubuhnya. Jungsoo telah memeluknya dan merengkuhnya dengan kuat. “Bogosipeoyo…” bisiknya tenang dan dalam.

   Mata Hyebyung memanas. Ia tidak menangis. Ia tak berkata apapun. Ia sedang berusaha kuat untuk tidak menjerit-jerit. “O…oraenmaniya…” balas Hyebyung lemah, masih berusaha membendung rasa rindunya.

   Namja itu masih mendekap erat Hyebyung. Hyebyung mendesah dan berusaha berbicara sedatar mungkin. “Kemana saja kau?”

   Jungsoo melepaskan pelukannya dan menatap Hyebyung lekat-lekat. “Aku belajar di Wina. Kau sudah lupa?”

   Hyebyung melengos. “Kau bilang 5 tahun. Ini sudah 6 tahun. Kau tak pernah lihat kalender?”

   Jungsoo menunduk sekilas dan kembali menatap Hyebyung. Kali ini wajahnya menampakan wajah yang merasa bersalah. “Memang 5 tahun. Setahun terakhir aku menjadi trainee bersama beberapa penyanyi SME lain di Korea,” jelas Jungsoo. “Mianhanda, Hyebyung-ah… aku tidak sempat mem—”

   “Selama setahun kau bersembunyi? Berusaha menghindariku yang selalu mengganggumu? Kau menghilang tanpa memberi kabar. Menelepon pun tidak. Kau bahkan belum mengucapkan selamat tinggal,” balas Hyebyung mulai terbakar emosi.

   “Kau yang menghindariku! Kau tidak ada di sisiku ketika aku harus meninggalkan Korea. Aku sudah menunggumu di bandara! Kakakku bahkan tinggal di bandara selama sejam lebih, berusaha menunggu dan mencarimu, hanya dengan berbekalkan fotokopian foto kita dulu! Kau pikir siapa yang lebih kejam?” balas Jungsoo dengan wajah merah.

   “Aku ingin meneleponmu, namun dilarang oleh pihak SME. Aku hanya bisa menghubungi keluargaku saja. Aku ingin mengirim surat, tapi aku takut aku akan ingin mendengar suaramu. Aku ingin diam-diam menghubungimu, tapi aku takut aku akan ingin melihatmu. Aku takut, begitu aku kembali berhubungan denganmu, aku akan terbang kembali ke Korea dalam hitungan detik, meninggalkan Wina, meninggalkan satu-satunya harapan keluargaku. Ini karena aku…… Aku menyukaimu!” tandasnya.

   Hyebyung menatap Jungsoo kaku. Ia masih tak bisa berkata apa-apa. “Aku tahu ini agak konyol. Betapa cepat aku menyukaimu. Tapi aku merasa, aku adalah diriku yang sesungguhnya ketika bersamamu. Aku selalu senang melihatmu tertawa. Aku selalu senang melihat perkembangan rasa sukamu pada Korea. Aku senang setiap kali kita bisa bertemu di ruang musik. Kau pikir, aku tidak menderita? Berhari-hari aku bingung akan perasaanku… ketika aku menyadarinya, aku malah harus menghadapi harapan keluargaku agar aku bisa belajar di luar negri.

   “Aku harus berusaha menahan perasaanku selama 5 tahun… Aku harus berkutat dengan guru vocal dan guru dance-ku. Aku mulai jarang memainkan piano yang amat kusuka. Dan bahkan, ketika akhirnya aku kembali ke Korea, aku masih harus ditekan sebagai seorang trainee. Aku ingin menyatakan perasaanku di bandara, tapi kau malah tidak datang. Kau pikir aku tidak pusing?”

   Hyebyung menatap Jungsoo lemas. Perkataan itu… penjelasan itu… “Mianhae, Jungsoo seonbae…” Ya. salahnya ia bangun kesiangan hari itu. Karena ia terlambat, ia tak bisa mendengar semua ini dari dulu. Salahnya sendiri, ia jadi harus menahan semua rasa sakit ini.

   Air mata Hyebyung mulai menetes. “Mianhae, Seonbae… aku… aku jahat sekali padamu… mianhae… mianhae…” ujarnya disela isak tangisnya.

   Junsoo kembali mendekapnya. “Uljima… bagaimanapun, harusnya aku yang minta maaf. Maaf aku telah membiarkanmu menghadapi teman-temanmu sendirian. Maaf aku tak menghubungimu. Maaf aku telah marah-marah padamu. Aku hanya… aku tak ingin kau hilang begitu saja…”

   Jungsoo melepas pelukannya dan merogoh sakunya. Ia menjulurkan kepalan tangannya ke hadapan Hyebyung. “Aku selalu menyimpan benda ini. Benda yang sejak 6 tahun lalu ingin kuberikan padamu.” Jungsoo membuka kepalan tangannya.

   Ada sebuah liontin perak di situ. Bandulnya berbentuk not balok quaver (setengah ketuk) dengan dua buah permata berwarna aqua marine di bagian benderanya. “Musik… lagu… nada…not… itu semua adalah hidupku. Dan kau adalah musik terpenting dalam hidupku.” Hyebyung menatap liontin di tangan Jungsoo. Diusapnya air matanya. Jungsoo babo! ia tak membantu Hyebyung mengusap air matanya. Ia bahkan memberikan liontin tanpa kotak. Dasar pelit!

   Jungsoo menatap mata Hyebyung lekat-lekat. “Would you be my girlfriend?”

*MM*

   “Hyebyung babo! Kau selalu merepotkanku. Kemana saja kau? Kenapa matamu sembap begitu? Apa yang kau lakukan?” tanya Euna bertubi-tubi begitu melihat Hyebyung kembali. Hyebyung hanya bisa meringis dan semburat merah terpancar di wajahnya. Ada apa sih? Euna jadi kesal sendiri.

   “Aku harus pergi lagi sekarang. Tapi aku sudah janji akan memperkenalkanmu pada seseorang. Eh… pada satu kelompok. Ah… sudahlah. Satu orang atau satu kelompok, ayo ikut aku!” Euna menarik lengan temannya itu.

   Dibawanya Hyebyung ke ruang ganti. Ada cukup banyak orang di sana. “Annyeong! Sesuai janjiku, aku ingin mengenalkan kalian pada pianis tercintaku, Han Hyebyung!”

   Seluruh namja di ruangan itu menoleh dan bangkit. “Teukki hyeong! Bballi ileona! Ayo kita perkenalkan diri!” ajak salah satu dari mereka.

   Orang yang dipanggil ‘Teukki hyeong’ itu segera menoleh dan bangkit. Mereka berbaris jadi satu dan tersenyum ramah. “Uri neun supeo juni…” si ‘Teukki hyeong’ memberi aba-aba. “EO-YEYO!” seluruh member melanjutkan.

   “Ini adalah Super Junior. Mereka BB baru. Kau bilang kau sudah dengar namanya tapi belum lihat orangnya. Jadi kubawa kau ke sini,” jelas Euna. Ia kemudian menarik tangan si leader. “Ini leader mereka. Namanya Leeteuk.”

   Hyebyung menatap orang bernama Leeteuk itu. Tawanya kemudian pecah. “Leeteuk? Kau yakin?” tanyanya di sela tawanya.

   Euna memandangnya dengan wajah bingung. “Eh? Iya. Kenapa? Ada apa? Kenapa kau tertawa?”

   Hyebyung menatap namja dihadapannya. Seorang leader Super Junior. Seorang namja yang baru saja menyematkan liontin perak di lehernya. Seorang namja tampan yang lebih dikenalnya sebagai Park Jungsoo.

   “Kalian sudah saling kenal?” tanya Euna lagi. Seluruh member ikut-ikutan memandang dengan wajah penuh tanda tanya. Sedangkan Leeteuk malah berjalan mendekat dan menggenggam tangan Hyebyung. Ia berkedip sedikit pada Hyebyung, sebelum akhirnya Hyebyung memberi penjelasan.

   “Ya. Kenalkan. Ini adalah Park Jungsoo, namjachingu-ku.”

**END**

A/N: Mbuahahaha.. this is the second failed requested FF -.- aku dedikasiin cerita ini buat my lovely chingu… Dewi  Chan :D maaf ya, ancur… Maklum, gue amatir :p Dan buat kalian, maaf ya, kepanjangan… ga bakat bikin Oneshot nih ._.a hahahaha…. Buat Ria, nih salah satu cerita Romance fail gue. Kalo mau taro di Padum, silahkan. Jangan lupa, tulis nama gue gede-gede: ISTRINYA DONGHAE #ehsalah Huahahaha…

    Oh ya…  EUMAG = MUSIC

Okidoki.. bagi yang udah nengok, ngintip, nginjek, dateng, numpang lewat, atau apapun ke post ini.. jangan lupa comment yah!!!!!! :) thankies :*

Beginning

Title: Beginning

Author: newshawol

Main Cast: Yesung, Jung Seorin

Support Cast: Super Junior

Length: Vignette

Genre: Romance

Rating: PG-13

(Seorin’s POV)

   Bukankah berada di altar itu merupakan suatu hal yang amat menyenangkan? Maksudku, di altar, dalam balutan gaun indah, berhadapan dengan namja yang kau cintai, harusnya menjadi saat paling bahagia, bukan? Aku juga merasa begitu. Tapi entahlah, aku merasa, keteganganlah yang mendominasi pernikahanku. Maksudku… Ahhh… aku terlalu gemetar.

   Dan kini, masih dalam balutan gaun putih penuh renda berkilau, aku menghempaskan tubuhku ke kasur. Sesekali kupijat tumitku yang lecet akibat sepatu hak sial itu. Dari awal aku sudah menolak memakai sepatu hak. Aku bukan tipe orang senang menjadi tinggi berkat sepatu. Aku memakai sepatu sial dan gaun merepotkan ini hanya demi orang itu. Demi seorang namja yang kini berdiri kikuk di depanku.

    “Mwo?” tanyaku singkat seraya membetulkan posisi dudukku.

    Ia menggaruk lehernya, masih dengan wajah kikuk. Dengan perlahan ia menggelengkan kepalanya dan meringis konyol. Mata sipitnya seketika tenggelam dibalik pipinya itu. “A-Ani…”

   Aku terkikik melihatnya. Namja yang kini menjadi nampyeonku… Namja yang konyol dan sedikit tidak waras… Namja yang bisa berubah 180 derajat ketika malu… Namja itu adalah Yesung… satu-satunya namja yang benar-benar merasuki hatiku.

   “Geudae… Kau lapar tidak? Aku ingin buat makanan,” ujarku padanya.

   Seketika itu juga wajahnya berubah menjadi wajah bahagia-konyol-bodoh khas-nya. “NE!!!!” jawabnya penuh semangat, layaknya anak kecil. Tapi kemudian ia memandangku dan menarik gaunku, “Babo! Harusnya kau ganti dress ini dulu. Kalau kau masak dengan pakaian begitu, bisa-bisa masakanmu hancur semua karena tercampur renda-renda ini,” dan ia terbahak oleh banyolannya sendiri.

   Aku menyipitkan mataku, “Kau yang babo! Itu tak lucu,” desahku. Manusia yang menjadi nampyeonku ini memang sering aneh. Kadang aku berfikir, bagaiman mungkin aku bisa menyukainya?

   Aku mengganti gaunku secara tergesa-gesa. Yesung sudah mulai ceramah sok tahunya mengenai makanan. Ia duduk di sofa, bahkan sudah menyiapkan serbet dan tisu. “Masak yang banyak!!! Nan neomu neomu baegeopayooo~!” desaknya.

   Aku mencibir mendengarnya. Dia sudah lupa atau apa, sih? Masakan yang bisa kumasak kan hanya makanan cepat saji sejenis mie instan, telur goreng, dan sebangsanya. Dengan sisa kesabaranku, kuambil semua bahan di kulkas yang telah dipersiapkan Eomma sebelumnya. Mm… Bawang… Kecap…

   Yah… makanan tersulit yang bisa kubuat hanya nasi goreng. Aku tidak yakin Yesung akan benar-benar menyukainya. Tapi sungguh, hanya dengan cara ini aku bisa sedikit menyenangkannya. Aku bukan yeoja yang sempurna. Aku bukan yeoja manis yang romantic. Aku sendiri sering bertingkah konyol seperti Yesung.

   Masih dalam kondisi mengiris bawang, kulirik nampyeon gilaku itu. Ia kini sibuk mengutak-atik remote TV dengan serius. Geli sekali melihatnya. Konyol!

   Sungguh, entah perbuatan apa yang telah kuperbuat, harusnya aku berjuta-juta kali berterimakasih pada Tuhan. Kini, aku tak perlu memandang Yesung dari belakang. Tak perlu menunggunya menoleh untuk menatapku. Kini ia bahkan ada di satu ruangan yang sama denganku. Aku tak perlu lagi berletih-letih menunggu tatapannya. Karena ia akan selalu siap menatapku sekarang.

   Dan tepat, karena sekarang ia sedang menoleh dan tersenyum hangat. Senyuman itu untukku, milikku. Astaga… adakah yang lebih indah dari ini?

(Yesung’s POV)

   Melihatnya di sini sungguh membuatku bahagia. Sangat sulit menahan diriku untuk tidak memperhatikan tiap gerak-geriknya. Jung Seorin babo! Dengan semena-mena masuk ke hidupku, membuatku tak bisa berpaling. Aku sendiri heran mengapa bisa gila begini. Rasanya, aku bukanlah aku ketika bersamanya.

   “Ahhh… akhirnya!!!” serunya senang. Dibawanya semangkuk besar makanan… umm… entah apa itu. “Jjajan!!!” ia menyodorkan mangkuk itu dan sebuah sendok.

   Aku menatap benda di mangkuk itu. Nasi goreng? Kenapa warnanya hitam sekali? “Ige… mwoya?” tanyaku ragu-ragu.

   Ia mencibir mendengarnya, “Wae, wae, wae??? Kau mau menghina lagi? Jelas-jelas itu nasi goreng!” tukasnya dengan wajah cemberut.

   Ia membanting dirinya di sofa dan melipat tangan dengan kasar. “Tidak usah dimakan kalau kau tidak suka!” sahutnya sebal.

   Aku balas mencibir, “Terserah aku mau makan atau tidak!” dan dengan cepat kusendokkan nasi hitam itu ke mulutku. Rasanya… ternyata tak begitu buruk. Agak sedikit terlalu manis… tapi lumayan.

   Dari ujung mataku, dapat kulihat Seorin sedang menatapku lekat. Jantungku berdetak lebih cepat sekarang, membuatku tak dapat mengunyah dengan baik. Astaga… mengapa aku salah tingkah begini?

   “Wae?” tanyaku, masih dengan mulut penuh nasi, berusaha mengalihkan perhatiannya.

   “Aaaaa!!!! Yesung-ah!!! Nasinya jatuh ke celanaku!!! Jorok!!! Aaaahhhhaaaaa…” ia merengek kesal. Bahkan dengan wajah begitu ia terlihat lucu.

   “Ne… ne… sini, kubersihkan,” kataku di sela tawaku. Kupunguti beberapa butir nasi kotor itu. Seketika wajahnya kembali tenang. Seorin babo! Bagaimana mungkin mood-nya berubah secepat itu? Haha… konyol!

   Ia kemudian bangkit dan mengambil album lomografi dari atas lemari. Album berwarna merah tua itu adalah album berisi foto-foto dari kamera lomo yang diambil saat pernikahan kami beberapa jam lalu. Eomma dan Abba bergerak cepat dengan mengalbumkan kumpulan gambar amatir itu.

   “Mbuahahahaha!!! Yesung-ah… lihat ini! Matamu hilang!” seru Seorin semangat. Ia nyaris tak bisa berhenti terbahak.

   Aku mencoba melihat foto yang dimaksud. Foto itu diambil setelah resepsi pernikahan. Itu pasti Abba yang memotretnya. Wajahku kelihatan aneh sekali!!! Harusnya jangan diambil dari sudut begitu. Mataku jadi terlihat makin sipit! Aku menatap Seorin kesal, “Waeyo? Mending mataku… coba lihat… Mana hidungmu? Sudah begitu…” aku menunjuk foto lain, “Lihat! Matamu sedang terpejam setengah begini!” dan tawaku pecah.

   Kini giliran Seorin yang memasang tampang kesal. “Hidungku, mataku, semua milikku lebih baik daripada milikmu!” ia menjulurkan lidahnya dan kembali mendengus. “Kau memang bagus dalam memotret, tapi kau sangat jelek ketika dipotret!”

   Kuperhatikan wajah kesalnya bak-baik. Sudah kuduga, melihatnya adalah kegiatan terbaik sepanjang masa. “Ne. Kau benar. Kau memang memiliki segala sesuatu yang terbaik. Karena itulah aku tak bisa berhenti menyukaimu.”

   Ia tertegun mendengarnya. Air mukanya berubah, wajahnya mulai memerah, dan ia tak berani menatap mataku. Ia meringis sedikit, “Ah… geurae…” bisiknya salah tingkah.

   Aku tersenyum melihatnya. Yeoja bawel yang moody ini sering mendadak diam karena malu. Dan di saat seperti itulah aku sadar, betapa aku menyukainya. Aku meletakkan album itu dan mengelus kepala Seorin.

   “Hari ini hari bahagiaku. Harusnya kau juga tersenyum untukku,” ujarku lembut.

   Ia melirikku sedikit dan tersenyum kikuk, “Ne. Aku sudah tersenyum.”

   Sekali lagi kuelus kepalanya pelan. Rambut lurusnya sedikit bergoyang, sebelum akhirnya kuputar badanku mengahadapnya. Secara perlahan, kugerakkan tubuhku mendekatinya. Pandangan kami bertemu dan terkunci. Kulirik bibirnya yang masih terkatup rapat. Sedikit lagi. jarak kami hanya terpaut 5cm sekarang.

   “HYEONG!!!” seruan seseorang membuat tubuhku terpaksa mundur kembali. Seorin terkesiap begitu melihat pendatang tak diundang. Wajahnya seketika memerah malu.

   Aku menatap orang itu kesal. Juga orang-orang yang berada di belakangnya. Namja sial itu! Berani sekali masuk tanpa mengetuk?!?!

   “Cho Kyuhyun!!! Kapan kau berhenti menggangguku, hah???” seruku geram.

   Ia tertawa lebar, “Tidak akan. Hyeong tetap saja milikku. Ini, aku bawa semua Hyeong Super Junior… dan ini ada jus jeruk dan kimbab buatan Euna. Seorin pasti rindu makanan buatan sahabatnya, kan? Ayo!!! Kita pesta!!!!”

   Aku menatap seluruh member Super Junior plus gadis gembul yang kini nyengir lebar tanpa dosa. Euna sial! Kau sudah punya Donghae di sampingmu! Kenapa harus mnggangguku??? Kulihat Seorin hanya bisa tertawa lebar. Ia masih sedikit salah tingkah, namun tampak lebih tenang sekarang.

   “Jangan pelit-pelit, hyeong! Kau punya jatah nanti malam. Sekarang kita rayakan dulu pernikahanmu!” seru Ryeowook sambil menepuk-nepuk pundakku.

   Kutarik rambutku penuh frustasi. Ya, ini memang sebuah awal untukku dan Seorin. Tapi ini juga awal kehancuran karena member Super Junior tak akan segan menggangguku. “ARRGGHHHH!!!” jeritku sebal.

*** END ***

A/N: Wuaaa… selesai!!! Aku mendadak kepikiran ide cerita ini jam 11 malam, dan aku selesaikan dalam waktu 1 jam! :D Hahaha… karena bingung cast-nya siapa, aku pake Yesung dan Seorin aja. Sekalian, bayar janjiku. Hahaha… Berarti, bisa dibilang, cerita ini aku dedikasikan untuk Serista!!! J Gimana cerita abal ini? Maaf ya, awalnya aku ga mau tentang perkawinan. Tapi sudah terlanjur. Hahaha… buat semua yang udah mapir, jangan lupa tinggalin jejak kalian di sin! J Hohoho… Gomawo~!!!

 

xoxo

-newshawol

She Doesn’t Like the Others (Part 7)

Title: She Doesn’t Like the Others (Part 7)

Author: newshawol a.k.a Irene

Main Cast: Lee Taemin, Kim Euna (OC)

Support Cast: SHINee

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: PG-15

Summary: Seorang gadis remaja yang gemuk dan merasa dirinya jelek (Kim Euna) berlibur ke Korea bersama temannya, sekaligus mencari beasiswa agar bisa sekolah di sana. Namun tak sangka, ia malah bisa bertemu dengan salah satu idolanya, Lee Taemin (SHINee).

Warning: Bukan warning sih… hanya saja… mm… FF ini pernah kirim ke SF3SI, tapi belum di publish. Jadi, ini bukan plagiat! :D

 

(Taemin’s POV)

   Aku melirik gadis itu untuk yang kesekian kalinya. Mulutku masih mengunyah perlahan. Pada akhirnya kami hanya memesan sup delivery. Euna sendiri tidak memesan apa-apa. Jadilah, aku makan sendiri, ia menonton TV.

   “Uhukk!” aku terbatuk keras. Dengan bodohnya aku tersedak di saat seperti ini. Bikin malu!

   Euna menoleh dengan cepat dan bergegas mengambilkan minum. “Hati-hati,” hanya itu yang diucapkannya.

   Dengan masih sedikit terbatuk, aku meminum air itu. Cairan bening itu mengalir di tenggorokkanku. Dingin. Astaga… “Ya! Kau mau membuat sakitku makin parah?”

   “Eo?” ia menoleh bingung.

   Aku mengacungkan gelas itu, “Kenapa kau beri aku air dingin begini?”

   Ia tersentak dan menepuk keningnya. “Aishh.. babo! Mianhae Taemin-ssi, aku lupa. Habis, air dingin itu favoritku,” ia meringis dan mengambil gelasku, hendak menggantinya.

   Namun dengan cepat aku menahan tangannya. Entah apa yang kupikirkan, tapi ada firasat ia akan pergi jauh. Ia menatapku bingung. Sejenak pandangan kami beradu. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Hanya menatap. Menatap mata coklatnya yang besar.

   Tampaknya Euna juga merasakan keheningan ini. Ia menarik tangannya perlahan dan meringis, “Mwo?”

   Aku berkedip-kedip canggung dan berdehem, “A-Ani…”

   Ia meringis lagi dan segera menuju dapur. “Mm… Kim Euna!” panggilku.

   “Ne?” ia menjulurkan kepalanya dari balik pintu dapur.

   “Eh… Ehm… Kau agak kurusan, ya?”

   Ia tertawa mendengarnya. “Jahat!”

   Aku meringis, “Sungguh. Aku bukan tipe orang yang suka menyanjung tanpa kenyataan yang benar. Aku serius.”

   Ia keluar dari dapur, membawa segelas air untukku. “Hm… yah… di penginapan aku makan cukup banyak, tapi makanannya mengandung sayur semua!” ia terkekeh, “Sebelumnya aku sangat benci sayur. Karena itu, sejak di sini, pencernaanku semakin baik.”

   Ia tertawa mendengarnya, “Joha! Kalau kau langsing betulan pasti manis!”

   Aku tersentak sendiri mendengar ucapanku. Apalagi Euna. Keningnya berkerut bingung dan matanya terbelalak. Hening lagi, canggung lagi. Belakangan ini tampaknya aku terikat dengan suasana seperti ini.

   Tapi Euna terlihat lebih ahli dalam urusan mencairkan suasana. Ia terkekeh dan angkat bahu. “Yah… kau orang ke sejuta satu yang bilang itu padaku.”

   Kali ini keningku yang berkerut, “Sejuta satu?”

   Ia terkekeh lagi, “Ne. teman-temanku selalu bilang begitu. Tampakanya mereka hanya punya satu alasan agar aku mau diet. Katanya aku akan terlihat manis. Padahal mereka sudah tahu kalau aku tak peduli begituan. Menguras tenaga saja,” ia mendengus. Namun selanjutnya ia kembali tersenyum, “Hajiman… kalau Taemin yang bilang begitu, aku merasa tersanjung!”

   Aku menatapnya bingung. Kaku. Canggung. Aishh… yeoja babo! Terus terang sekali!

   “Taemin-ssi!” panggilnya. Ia mengambil posisi duduk senyaman mungkin di sofa.

   “Mm?”

   “Kau ini pecinta nuna?”

   “Mwo?!”

   Ia meringis melihat keterkejutanku. “Ahaha… m-maksudku… kau hanya suka pada nuna-deul? Tipemu itu seorang nuna? Karena seingatku kau amat perhatian pada SHAWOL nuna-deul.”

   Ah… aku mengerti. “Mm… bagaimana ya? mungkin karena aku tergolong muda—tidak seperti SuJu hyung, banyak penggemar yang lebih tua dariku. Karena itu, aku juga memperhatikan para nuna. Tidak adil kan, kalau hanya dekat dengan fans sebaya? Aku pribadi suka-suka saja. Baik dongsaeng, seumuran, maupun nuna, selama dapat merebut hatiku, kenapa tidak?”

   Ia menggangguk-angguk mengerti. “Taemin-ssi!” panggilnya lagi.

   “Mm?”

   “Kau sudah sehat?”

   Bagaimana ya? Entah sejak kapan, rasa pusingku mulai hilang. Aku juga mulai merasa ringan. Bahkan aku makan cukup banyak tadi. “Kurasa begitu,” jawabku akhirnya.

   Ia mengangguk-angguk lagi, lalu kembali fokus menonton TV. Aku yang bingung harus berbuat apa memilih merapikan bekas peralatan makanku dan meletakkannya ke bak cuci piring. Tampaknya yeoja yang satu ini tak berminat untuk membantuku.

   Dasar yeoja cuek! Apa sih yang ditontonnya? Sampai senyum-senyum begitu. Aku ikut duduk di sofa dan menatap TV itu. Ah~ SuJu hyung sedang perform di MuBank.

   “Kau benar-benar penggemar berat SuJu?” tanyaku.

   “Mm!” ia mengangguk, masih fokus pada TV. Mulutnya sesekali ikut melantunkan lagu Mr. Simple itu.

   “Siapa member favoritmu? Aku lupa.”

   “Donghae!” ia menjawab yakin. Caranya menyebut ‘donghae’ lucu sekali. Tidak seperti orang Korea. Lafal huruh ‘H’ dan ‘D’-nya amat kental. Di Korea, nama Donghae dibaca cepat sehingga terdengar seperti ‘Tong-e’. Tapi yeoja ini menyebutnya ‘Dong-he’.

   “Whuaa!” ia sedikit memekik ketika penampilan SuJu berakhir. Bibirnya masih saja menyunggingkan senyum. “Donghae oppa keren sekali~!!!”

   “Lebih keren daripada aku?”

   “Ne! Beda jauh!” ia terkekeh, “Di negaraku, tiap kali temanku menanyakan orang yang kusuka, pasti kujawab ‘Donghae’. Kalau mereka menanyakan orang yang kucintai, pasti kujawab ‘Nampyeon masa depanku, Donghae’,” Ia terkekeh lagi dengan wajah yang mulai bersemu merah. “Donghae oppa neomu johahaeyo!”

   Begitukah?-_- Parahnya, aku mendapati diriku tidak menyukai kenyataan itu. Sebagus itukah Donghae hyung? Padahal seingatku, sifat kami tak beda jauh. Wajahku juga tak kalah keren. Suaraku manly sekali. Dance-ku apalagi. Lalu apa? Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Gila! Kenapa aku bisa aneh begini?

   “Waeyo?” tanya Euna. Ia menatapku bingung.

   Aku meringis salah tingkah. “Aniyo. Lanjutkan saja menontonnya!”

   Ia angkat bahu dan kembali menonton. Ia langsung bersemangat ketika melihat BEAST di TV. Dia juga suka BEAST? Siapa biasnya? Jangan bilang, si cute Yeosob yang bersuara indah itu? Aku mencibir kesal.

   “Mm… Taemin-ssi!” panggilnya tiba-tiba.

   Aku segera menormalkan posisi bibirku. Untung saja ia tak melihat. “Mm… Ne?”

   “Aku tiba-tiba berpikir mengenai suatu hal…”

   “Mm? Apa itu?”

   “Ciuman pertamamu benar-benar kau berikan pada robot?” tanyanya. Matanya masih fokus melihat penampilan BEAST.

   “Hmm… iya!” aku terkekeh. “Tapi sebenarnya itu kan main-main. Ciuman yang sesungguhnya harus dengan wanita asli. Jadi… aku belum pernah.”

   “Hmm…” ia manggut-manggut, masih menatap TV.

   “Kau sendiri? Ciuman pertamamu kau berikan pada siapa?”

   Ia menggeleng, “Eobseo…”

   Tidak ada? Belum pernah? Wuah… ia masih bersih(?)! “Ingin kau berikan pada siapa? Donghae hyung?” lagi-lagi nama itu. Babo! Untuk apa kusebutkan? Ck!

   Ia kini menoleh dan menatapku. “Donghae oppa? Ah… amin!” ia terkekeh. Amin? Ia serius? “Kalau Donghae oppa adalah suamiku nanti, maka ciuman pertamaku akan kuberikan padanya.”

   “Eo?”

   “Yah… ciuman pertamaku hanya akan kuberikan pada namja yang menikahiku nanti, di altar pernikahan, setelah melantunkan janji suci.”

   Kening berkerut, “Tapi zaman sekarang ciuman itu lazim. Hal umum. Malah aneh kalau tidak melakukannya.”

   Ia terkekeh untuk yang ke sejuta kalinya. “Jeongmal?” ia berpikir sesaat, “Aniyo… aku tidak mau menjadikan ciuman sebagai pemuas hawa nafsu. Maksudku… ya… begitu… aku juga tidak ingin sama dengan orang lain. Lagipula kalau benar-benar cinta, kita tidak akan menuntut apapun. Jadi, tidak ciuman juga tidak apa-apa.”

   “O…” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

   “Waeyo? Aku terlihat aneh? Atau malah keren?” ia mulai menyunggingkan senyum percaya dirinya.

   “Aniya! Kau yang mulai!” balasku, “Ah… jangan-jangan kau yang yang tertarik padaku, sampai-sampai membahas tentang ciuman. Suka? Kau suka padaku, kan?”

   Ia tersenyum lebar, “Ne! Neomu neomu joha!” jawabnya bersemangat.

   Aku mati kutu lagi. Aku yakin wajahku telah seutuhnya menjadi tomat. Rambutku bagai jamur, wajahku bagai tomat… lengkap sudah.

   “Siapa yang tidak menyukaimu, Taemin? Apalagi para Taemints!” tambahnya. “Aku juga cinta mati pada Donghae oppa, seperti penggemarnya yang lain.”

   Aku terdiam dan tersenyum… pahit. Entahlah… rasanya tidak enak didengar. Maksudku bukan suka begitu. Yang aku maksud itu suka sungguhan sebagai pri… tunggu! Apa tadi aku berharap Euna benar-benar menyukaiku? Ahhh!!! Gila!!!

   “Aku mau mandi!” aku bangkit, salah tingkah akibat pikiranku sendiri.

   “Eo! Kau kan masih tak enak badan!” ia berusaha menahan.

   Tapi aku sudah terlanjur kesal dan malu. “Ani! Aku sudah sembuh!” dan dengan cepat, aku berjalan menuju kamar mandi. Babo yeoja!!

~~ @ ~~ @ ~~

(Key’s POV)

   “Apa yang kau lakukan di sini, Mihyun-ssi?” tanyaku kaget. Apa yang dilakukan yeoja itu di ruang dokumantasi Soo Man Ahjussi?

   “Mm… a… mmm…”

   Ia belum sempat menjawab karena pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Soo Man Ahjussi masuk ke dalam. “Ah! SHINee!” serunya. Sesaat kemudian matanya tertuju pada Mihyun. “Aigo… Mihyun-ah? Ada masalah apa? Kenapa kau di sini?”

   “Eh??” kami berlima—aku, Minho, para hyung, dan manajer—berseru kaget. “Anda mengenalnya, Ahjussi?”

   Ia tertawa dan berjalan mendekati Mihyun, kemudian menepuk-nepuk pundak yeoja itu. “Perkenalkan, ini adalah salah satu keponakanku, Jung Mihyun.”

   “Keponakan???” kami berlima terkejut. SANGAT.

   “Ye. Saya ini 3 bersaudara. Sunny adalah anak dari adik laki-laki saya, dan Mihyun adalah anak dari adik perempuan saya.”

   “M-Mwo???” Kami benar-benar tak kuasa menahan pekikkan kaget.

   Soo Man Ahjussi tertawa lagi. “Nah, Mihyun, apa yang kau lakukan di sini?”

   Yeoja itu terlihat panic. Tangannya bergerak-gerak tak nyaman, berusaha melindungin tasnya. Ada apa di tas itu? Benda apa yang ia masukan tadi? Berkas? Berkas apa? Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang amis di sini.

   “A-aku hanya berkunjung…” balasnya kaku.

   “Berkunjung? Tumben sekali…” Soo Man ahjussi terkekeh. Namun tampaknya ia menyadari kegelisahan Mihyun dan sikap protektifnya terhadap tasnya. “Waeyo, Mihyun-ah?”

   “Ada apa di dalam tasmu?” tanyaku tak tahan. Aku yakin ia telah menyembunyikan sesuatu.

   “Ne! Aku melihatmu memasukkan sesuatu ke dalam tasmu tadi, “ tambah Minho. Ia juga salah satu penegak keadilan rupanya.

   “Mm? Jinjjaro?” Soo Man ahjussi berusaha meyakinkan. Ia melirik ke arah tas Mihyun.

   Yeoja itu mulai panic, “Ani, ani! Tidak ada apa-apa…”

   “Mm…” Soo Man ahjussi hanya bergumam seraya mengulurkan tangan, hendak meminta tas Mihyun.

   “Ahjussi…” bisik Mihyun lemas.

   “Gwaenchanha. Untuk apa panik? Aku hanya ingin periksa.”

   Mihyun tampak benar-benar pucat sekarang. Butir-butir keringat mulai mengalir di pelipisnya. Dengan tangan gemetar, diserahkannya tas itu.

   Soo Man ahjussi menerima tas itu dan memeriksa isinya. Ada sebuah berkas SME di situ. Soo Man ahjussi membuka berkas itu dan tersentak kaget. “Ige…”

   “Mph! Aku mulai mengerti apa yang telah terjadi,” bisik Manajer. Kami—aku, Jonghyun hyung, Onew hyung, dan Minho—menoleh. “Trouble Maker…” bisiknya Manajer lagi.

   Trouble Maker? Apa maksudnya?

~~ @ ~~ @ ~~

(Taemin’s POV)

   Aku mengenakan celana panjang putih dan kaus biruku. Rasanya segar sekali. Kurasa aku sudah benar-benar sembuh sekarang. Air hangat tadi membuat tubuhku nyaman. Sungguh, baru kali ini aku mandi sampai setengah jam.

   Setelah mengeringkan rambut dan menyisirnya hingga rapi, aku kembali ke ruang tamu. Langkahku terhenti ketika melihat Euna terbaring di sofa dengan posisi lengan kanannya digunakan untuk menutupi matanya. Tidurkah ia?

   Aku mendekatinya perlahan namun ia tak bereaksi. TV masih dalam keadaan menyala; menayangkan wawancara bersama Super Junior. Euna melewatkan acara ini?

   Aku terus mendekatinya dan duduk di bawah, tepat di depan sofa. “Kim Euna…” bisikku, “Ya…! Kim Euna…! Kau tidur?”

   Masih tak ada jawaban. “Kim Euna!” panggilku dengan suara normal. Ia tak bergeming. Dengan hati-hati aku mengangkat tangannya dan meletakkannya ke atas perutnya, dengan begitu wajahnya Nampak jelas sekarang.

   Aku memperhatikan wajahnya baik-baik. Mata bulatnya terpejam, hidungnya bernafas pelan, bibirnya terkatup rapat. Kembali terbersit ingatan-ingatan sebelumnya. Aku merasa seperti di drama-drama, namun ini sungguhan. Entah apa alasannya, tapi mendadak aku mengingat semua kejadian bersamanya.

   Saat pertama kali bertemu, yeoja ini sungguh terlihat babo. Tapi ia sungguh ramah dan pengertian. Ia tidak memburuku dengan berjuta pertanyaan gila. Walau begitu, ia tetap menunjukan sikap antusias yang menyenangkan. Kemudian ketika berkenalan dengannya… ia dungguh polos dan bawel. Dan rupanya, ia adalah pelari yang cukup baik. Lalu caranya menjelaskan makna ‘wanita’ sangat mengesankan.

   Kemudian saat kami ke Taman Ria… jaemisseoseo! Neomu johahaeyo! Dengan penyamaran gila yang aku kenakan, naik wahana pengocok perut, kehilangan payung, naik Biang Lala… entah apa yang merasukiku saat itu, telah membuat jantungku berdegup kencang. Hajiman… aku menyukainya.

   Aku kembali menatap wajah yeoja itu. Sedetik kemudian, sesuatu di dalam rongga dadaku kembali bergolak liar. Itu jantungku. Dan jantungku mulai berdetak lebih cepat, menimbulkan sensasi berbeda. “Ciuman pertamamu benar-benar untuk suamimu?” gumamku, terdengar seperti… penyesalan.

   Kini pandanganku terkunci padanya. Wajahnya. Hidungnya. Matanya. Bibirnya. Dorongan aneh dari dalam diriku membuat tubuhku maju secara perlahan. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Mataku sesekali melirik bibirnya yang terkatup rapat. Astaga… aku tahu ini tidak seharusnya terjadi. Tapi tubuhku tak bisa berhenti bergerak. Dan akhirnya, dengan perlahan, kusapukan bibirku ke bibirnya… lembut… berusaha membuatnya tak terbangun. Rasanya hangat… oh astaga… jantungku benar-benar melonjak sekarang. Baru kali ini aku merasakan perasaan seperti ini. Tidak lama, hanya 3 detik sebelum akal sehatku kembali.

   Aku tersentak dan menarik diriku menjauh. Tanganku reflek menyentuh bibirku sendiri. Debar jantungku masih belum mereda. Kurasakan pipiku memanas. Astaga… apa yang telah kulakukan? Mengapa aku menciumnya?

   Kulihat Euna mengerutkan keningnya—berusaha menahan sesuatu, dan bulir-bulir bening mengalir dari sudut matanya. Ia menangis?? Apa ia sudah terbangun??

   Kedua tangannya bergerak menutupi wajahnya, “Mwo… mwohaneun geoya?” tanyanya dengan suara halus, nyaris berbisik. Kudengar nafasnya mulai bergetar dan air matanya terus megalir melewati pinggir jarinya. Tak lama setelahnya ia bangkit dan menatapku sekilas… dengan air mata masih mengalir, kemudian mengambil langkah seribu menuju pintu—keluar.

   Aku tidak mencoba mengehentikannya, memanggilnya, atau bahkan bangkit berdiri. Aku masih terlalu terkejut melihatnya menangis seperti itu.

   Tepat ketika ia keluar, para hyung-ku masuk dengan wajah bingung. Mereka pasti berpapasan dengan Euna tadi.

   “Wae geurae?” tanya Key hyung, terlihat terkejut.

   Aku menatap mereka lemas dan mengacak-acak rambutku frustasi, “Aigooooooooooo!!!”

TBC

A/N:  PART 7!!!! Demi apapun!!!! Maaf ya… setelah luaaaammmmaaa nggak update, sekarang harus uspate lame chapter kayak gini -_- mianhanda!! Btw, untuk pertama kalinya, aku bikin adegan romance!!! Yeah!!! Maaf ya, ini fail romance banget. Maklum, author sama sekali nggak berbakat di bidang beginian :p hahaha.. oh ya, harap sabar menunggu part 8 yah. Soalnya part itu sebenernya merupakan gabungan part 8 dan 9, tapi aku gabung, jadi SANGAT PANJANG dan lama ngetiknya :p huehehehe.. btw, happy reading!! Oh… and give me much oxygen :D

Super Junior’s World Tour “Super Show 4″ in Singapore Moved to February 18

Reblogged from Scholar Kyu Indonesia:

Click to visit the original post

  • Click to visit the original post

Due to a slight change in schedules, concert organizers Running Into The Sun and Conceptual announced that Super Junior will perform their latest world tour “Super Show 4″ in Singapore on February 18, instead of February 17 as confirmed previously. Ticket sales will start in early January 2012, with further details to be announced shortly.

“As everyone knows, Super Junior’s touring schedule is formidable.

Read more… 241 more words

Cool... I wonder... if I can go there :')

She Doesn’t Like the Others (Part 6)

Title: She Doesn’t Like the Others (Part 6)

Author: newshawol a.k.a Irene

Main Cast: Lee Taemin, Kim Euna (OC)

Support Cast: SHINee, Jung Seorin (OC’s friend)

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: PG-13

Summary: Seorang gadis remaja yang gemuk dan merasa dirinya jelek (Kim Euna) berlibur ke Korea bersama temannya, sekaligus mencari beasiswa agar bisa sekolah di sana. Namun tak sangka, ia malah bisa bertemu dengan salah satu idolanya, Lee Taemin (SHINee).

A/N: Woot! Part 6!!! Arrgghh!! *frustasi Jujur, aku ga nyangka cerita ini bakal jadi kacau dan berlarut-larut :’( jeongmal mianhae, readers… aku akan berusaha untuk namatin secepatnya. Jadi mungkin alurnya agak ga jelas dan berantakan. Sorry juga buat beribu typo yang ada. Hehehe… but still, happy reading :D

Warning: FF INI AKU KIRIM JUGA KE SF3SI! NO PLAGIARISM! :D

(Euna’s POV)

Aku menatap fotoku bersama Taemin untuk kesekian kalinya. Aku sungguh merasa bersalah. Gara-gara aku… ini juga tak lepas dari ke-SKSD-an-ku (?). Pagi tadi aku dan Seorin menonton salah satu acara gossip di TV. Kebetulan, acara itu sedang menayangkan berita tentang SHINee.

~~~Flashback~~~

   SHINee bersama SM Entertainment sedang terlibat skandal. SME melakukan kecurangan yang diduga hanya demi SHINee. Yeoja manis di TV itu menjelaskan mengenai uang dan surat yang didapatnya. Ada tanda tangan Taemin di situ. Apa lagi sih?? Hanya untuk membujuk para yeoja agar mem-vote SHINee, harus mengeluarkan uang sogokan. Jinjja babo-ya! SHAWOL mana yang tak mau mem-vote nampyeon-nampyeon mereka??

   Selanjutnya, tanpa menunggu berita itu selesai, aku dan Seorin segera menuju dorm SHINee. Tapi kami tak bisa melakukan apapun. Jalan masuk menuju apartemen penuh. Puluhan wartawan sibuk membujuk satpam agar diizinkan mengunjungi dorm SHINee. Di belakang mereka ada belasan SHAWOL yang ikut-ikutan. Hanya belasan sih. Mungkin mereka adalah SHAWOL nekat yang tidak berpikir bahwa mereka akan ditendang keluar oleh satpam galak itu.

   “Silyehamnida!” ujarku pada seorang yeoja yang membawa buntalan kertas (?)

   “Ye?” ia menengok dan menjawab sopan.

   “Mm… ada apa ini? Mengapa penuh sekali?” tanyaku.

   “Kau tidak tahu?” yeoja itu tampak kaget. “Gossip! Gossip SME dan SHINee!”

   Aku dan Seorin saling melempar pandang, “Ah… Nado ara. Hajiman, berita itu katannya sudah tersebar cukup lama. Apa lagi? Harusnya tak seramai ini.”

   Ia mengerutkan dahi, tampak bingung. Ia membolak-balik buntalan kertas yang dibawanya dan menyodorkannya pada kami. “Itu foto terbaru. Taemin bersama seorang gadis! Berbicara berdua saja! Ada yang menduga mereka memiliki hubungan spesial. Tapi kalau dikaitkan dengan kasus SME, gadis ini diduga korban SME selanjutnya. Kau tidak nonton beritanya? Sejak tadi malam sudah diekspos. Ditambah lagi Taemin dikabarkan sedang sakit. Sontak saja semua mengira ia stress karena masalah ini. Kabarnya ia sudah 2 hari sakit.”

   Aku tersentak melihat kertas itu. Tampaknya itu hasil print dari sebuah website. Dan foto yang tertangkap kamera adalah fotoku! Kami sedang berhadapan dan berjabat tangan. Foto ini tampaknya diambil di hari yang sama ketika aku dan Taemin tersesat.

   “Itu kau?” bisik Seorin, menunjuk kertas itu. Aku mengangguk lemah, meski foto itu buram dan diambil dari belakang, aku bisa mengenali diriku. Aku bisa kenal “tubuh”ku.

   “Lihat ini! Di sini juga Taemin sedang bersama seorang yeoja,” ia menjukkan halaman lain dari buntalan itu. “Kali ini temanku yang memotretnya dari kejauhan. Ia sedang jalan di tengah hujan ketika melihat seseorang yang familiar. Ternyata Taemin. Sayangnya hujan, jadi agak buram. Dan lagi, wajah gadis itu tertutup payung! Tapi lihat ujung rambutnya! Ikal, seperti gadis yang pertama.”

   Aku tercengang lagi. Ini juga fotoku ketika berbicara di sebrang apartemen; sebelum ia menyamar dan kita pergi ke taman ria.

   “Saat itu temanku benar-benar terburu-buru. Ia hanya sempat memotret sekali. ternyata hasilnya buram. Yah… setidaknya sudah dapat sih…” jelasnya lagi. “Kurasa Taemin sakit juga karena pengaruh main ke luar bersama gadis ini di tengah hujan. Apalagi suhu udara sedang tidak menentu.”

   Aku mengembalikan kertas itu dan berterimakasih. Dengan cepat aku dan Seorin kembali pulang. Untung saja yeoja ramah itu tidak mengenaliku.

~~~

Eotteokhae?

Benar kan! Kemarin-kemarin itu Taemin benar-benar flu! Harusnya aku meolak pergi ke taman ria. Dan lebih baik lagi kalau aku tidak menerima mantel pinjamannya. Kalau perlu aku tidak usah menghampiri apartemennya!

Jinjja~ Eotteokhae??

Ah!

Dengan satu-satunya ide yang muncul di otakku, aku segera mengambil sebuah kertas. Ya, hanya berbekalkan kertas dan pensil, aku akan memberikan tulisan terbaikku untuk menghibur Taemin. Aniyo!!! Maksudku, untuk SHINee.

(Taemin’s POV)

“Kau yakin? Tidak perlu kami temani?” tanya Onew hyung kesekian kalinya.

Aku mengangguk pelan. Sudah 2 hari tepatnya aku jatuh sakit; flu, demam, meriang, dan sebangsanya. Suhu tubuhku naik-turun, ingusku selalu ingin kabur dari kandangnya, dan badanku rasanya berat untuk kugerakan—meski sebenarnya sekarang aku sudah membaik.

Padahal malam itu; 3 hari yang lalu, aku masih sehat-sehat saja. Meski agak sedikit bersin-bersin… tapi kenapa aku tidak sembuh-sembuh? Memalukan. Aku lemah sekali.

“Kau hafal semua gerakkannya tidak?” Key hyung berusaha memastikan.

Aku mengangguk lagi.

“Geuraeyo… kalau ada apa-apda, telpon kami. Arassji (baca: aratji)?” lanjut Onew hyung.

Untuk keseribu kalinya aku mengangguk. Tepat sedetik kemudian, pintu dorm kami terbuka. Manajer masuk dengan tergopoh-gopoh. Tangannya membawa beberapa barang.

“Hadiah. Dari para SHAWOL di luar,” jelas Manajer tanpa ditanya. Key hyung dan Onew hyung segera bergerak menuju jendela, berusaha melihat SHAWOL yang tersisa di depan apartemen. “Kalian siap-siap. 10 menit lagi segera turun ke lobi! Saya akan urus para wartawan dulu,” dengan cepat ia meletakan semua hadah itu ke meja di sampingku dan pergi ke luar.

Aku yang sedari tadi berbaring di sofa berusah menegakkan tubuh. Dengan gesit Onew hyung dan Minho hyung membantuku duduk.

Kami berlima menatap benda-benda itu. Rasa pusingku mendadak berkurang drastis. SHAWOL membagikan cinta untuk kami lagi! Aku mengambil sebuah kotak dan membuka tutupnya. Tampak olehku lima boneka kecil dijejerkan di dalamnya. Itu boneka SHINee. “Aigoo~ Neomu kwiyeopda~” gumamku pelan.

Jonghyun hyung tersenyum senang, “Ne! Lihat! Bonekaku hanya memakai kaus dalam!” dan ia segera terbahak.

“Wuah… aku sedang memegang ayam!” lanjut Onew hyung, “Punya Key sedang memakai piyama pink! Dan aduh… punya Minho memeluk bola basket. Mbuahaha! Mirip kepalanya Taemin!” ia tertawa lagi, “Punyamu sendiri amat eksotis~ Bibirnya pink sekali!”

Aku meringis. Benar, hanya bibir bonekaku yang berwarna pink. Aku menatap ke dalam kotaknya dan ada pesan penyemangat di situ.

Minho mengambil balon biru yang digambari wajah, “Nampyeon Minho, saranghae~” ia membaca pesannya dan terkekeh, “Sejak kapan aku sudah menikah?”

Kami membaca cepat semua pesan dan suratnya. Ini saja cukup banyak. Di gedung SM nanti pasti lebih banyak lagi.

“Wuah… yang ini sederhana…” sahut Onew hyung. Ia mengambil gulungan kertas yang diikat dengan karet. Dengan cepat kami melepas karetnya dan melihat isinya.

“Whoa~” hanya kata itu yang terlontar. Kertas itu berisi… eum… tulisan… pesan… graffiti… atau apalah itu. Intinya… tulisannya neomu kwiyeopda~

   “Annyeong haseyo! Nan danji malhigo sip-eun… GEON GANG-EUL YUJI!!! (arti: halo! Aku hanya mau bilang… stay healthy!!!)” Onew hyung membaca kalimat pertamanya, “Benar! Belum lama Minho sakit, sekarang Taemin yang sakit. Harusnya kita saling menjaga kesehatan.”

Kami mengangguk cepat sebagai balasan. “Hmm… Oppa-deul… yeongwonhi saranghalge~ aja-aja hwaiting! (arti: kakak-kakak… aku cinta kalian selamanya~ terus berusaha dan semangat!)” kini Key hyung yang membacanya, “Hmm… eo!”

“Mwo?” yang lain tampak bingung.

“‘Kim Euna’. Pengirimnya Kim Euna! Dan ada gambar kecil perempuan berambut keriting! Jangan bilang, ini Kim Euna temanmu?” Key hyung menatapku.

Aku melihat kertas itu. Yah, tampaknya pengirimnya memang dia. Baru kali ini ada yang membuat tulisan lucu begini. Aku suka huruf ‘H’ dan huruf ‘e’. Lucu sekali!

    “Ah!” seruan Minho hyung mengejutkan kami semua. “Aku baru baca. Lihat! Di bagian kanan bawah, ditulis agak kecil; ‘Taemin-ssi… get well soon, okay?^^’ Wuah… Taemin dibuat spesial…”

“Benar! Juga ini…” Key hyung menunjuk bagian nama-nama kami. “Nama kita diawali gambar bintang, hanya nama Taemin diawali gambar hati.”

Aku menatap kertas itu. Benar, hanya namaku yang diawali gambar hati. Astaga… perasaan apa ini? Rasanya ada kupu-kupu di perutku, menimbulkan sensasi aneh. Senang? Tersanjung? Mungkin.

“Astaga… wajahmu merah~” goda Onew hyung.

Aku membuang muka, berusaha menutupi salah tingkahku, “Erm… aku kan sedang demam, hyung!”

Keempat hyung-ku tertawa. “Ara… Uri kanda, Taemin kwiyeowo~!” setelah mencolek daguku, mereka bergegas pergi. Cepat sekali perginya.

Aku kembali menatap meja, menatap hadiah dan surat dari para SHAWOL. Lho? Itu kan, ponsel Key hyung? Babo! Masa’ ditinggal begitu saja?

Aku segera mengambil ponselku dan berusaha menelpon ponsel Minho hyung. Terdengar suara wanita berbicara. Arrgghh! Sial! Pulsa tak cukup untuk menelepon. Akhirnya, aku hanya bisa mengirim pesan. Bagaimanapun, kasihan kalau Key hyung tak bawa ponsel.

Sesaat kemudian, aku menerima balasan dariminho hyung.

FROM: Minho hyung<3

Arayo! Key hyung sedang bergegas ke sana. Oh ya, kami akan berusaha menyelesaikan masalah SME. Kau  istirahat saja. Kalau bosan, kau boleh panggil temanmu untuk berkunjung. Manajer yang mengusulkan.

Astaga! Mereka ini mikir apa? Mereka lupa kalau nyaris semua temanku masih suka mem-bully-ku? Temanku hanya para yeoja! Tapi… kalau aku memanggil teman yeoja ke mari… akan lebih menyenangkan? Tapi… yeoja yang datang ke mari akan terkesan…… aish! Panggil saja lah! Setidaknya aku akan ada teman bicara. Dan kalau lapar, tinggal suruh masak! Hahaha… sedanh sakit begini, otakku benar-benar telah menjadi licik! ;)

Aku membuka kontak ponsel Key hyung. Memeriksa nomor-nomornya. Tampaknya, satu-satunya nomor temanku yang ia miliki adalah nomor ponsel                    . Dia memang baik, bertanggung jawab, dan yang pasti… pintar masak!

Otakku mendadak memikirkan sesuatu.

Sesuatu yang membuatku agak malu.

Tanganku bergerak, keluar dari kontak, membuka daftar panggilan, dan mendapati sebuah nomor tanpa nama. Aku memilih nomor itu, kemudian memilih mode send to, memasukan nomor ponselku, dan menekan pilihan SEND. Tepat, ketika pintu terbuka dan Key hyung bergegas masuk.

(Euna’s POV)

“Ah… Kim Euna?” resepsionis itu berusaha meyakinkan.

“Mm… ne…” jawabku kaku.

Wanita itu tersenyum dan menemaniku menuju dorm SHINee. Aku SANGAT kaget ketika Taemin mengirim pesan dan menyuruhku datang. Bodoh memang, tapi aku percaya. Yah… bisa dibilang, aku tahu, itu nomor Korea, dan nomor orang Korea yang kupunya hanya nomor anak pemilik penginapan. Mungkin saja orang yang meneleponku dulu benar-benar Kim ‘Key’ Bum SHINee dan Taemin minta nomorku dari hyung-nya itu.

Kerennya, ia bahkan sudah menghubungi satpam apartemen, petugas resepsionis, dan bodyguard SHINee untuk mengizinkanku masuk. Masih ada beberapa wartawan di luar, sehingga pengawasan masih ketat.

“Annyeong haseyo!” sapaku, bercicit pada para bodyguard penjaga dorm SHINee. Tak disangka, mereka malah tersenyum hangat dan membunyikan bel untukku.

“Masuk saja. Magnae kita sedang sakit,” kata salah satu bodyguard.

Aku mengangguk, tersenyum, dan membungkuk sebagai rasa terima kasih, kemudian masuk dengan perlahan.

Kulihat Taemin sedang duduk di sofa dengan piyamanya. Aishhh… neomu kwiyopda~!!! “Annyeong!” aku memberi salam.

Ia tersenyum kecil, “Santai saja, aku hanya mengundangmu untuk main, “ balasnya, “Whoa~ pakaianmu keren!”

Aku meringis canggung, “Kau yang menyuruhku menyamarkan diri.”

Ia tersenyum lagi, membuatku makin canggung. “Lepaskan saja penyamaranmu. Di sini tidak akan ada yang menyerangmu.”

Aku mengangguk dan melepaskan penyamaranku; kacamata (milik Seorin), mantel tua (milik Ahjussi pemilik penginapan), topi sulap (milik Ahjussi juga), dan menghapus make-up-ku (anak pemilik penginapan yang meriasku).

“Di luar panas, ya?” tanya Taemin.

Aku mengangguk dan meringis, “Padahal waktu itu hujan seharian.”

Ia tertawa kecil. “Kau keren! Tidak sakit!”

Mendengar itu membuatku merasa benar-benar bersalah. “Jeongmal mianhae… Na taemune…” aku mendesah, “Harusnya aku tak usah datang ke depan dorm SHINee… Padahal hari itu sedang hujan…” Benar. Harusnya aku saja yang sakit.

Ia tertawa kecil lagi, “Gwaenchanha. Jangan pikirkan. Toh, aku yang menghampirimu.”

Aku mengangguk lagi. hening kemudian. Astaga… canggung sekali. Ayolah Taemin… bicara sesuatu… Ini sungguh tidak nyaman… aku bahkan bisa mendengar bunyi jarum jam… bahkan bunyi helaan nafas!

“Kim Euna!” panggil Taemin pelan.

“Hm?”

Ia menunduk dan tersenyum, “Gomawo,” ia mengangkat kepalanya, masih tetap tersenyum , “Kemarin itu, di Taman Ria… Neomu neomu neomu jaemiseosseo.”

“Jinjja?” aku rasa mataku benar-benar berbinar sekarang.

“Ne,” Taemin terdengar tulus.

Aku tersenyum kikuk. Hening lagi. Sungguh, aku ini manusia biasa, pikiranku juga bisa melayang-layang kea rah yang salah. Aigo… sekarang aku berada di dorm SHINee! Bersama Taemin! Berdua!!! Aku merasakan panas di wajahku. Oh… ini kondisi yang kurang bagus… terlalu… terlalu menegangkan… bunyi jarum jam terdengar lagi… astaga…

“Kau tegang?” sahut Taemin tepat sasaran. Ia tertawa kecil, “Dalam kondisi normal, kau sedang dalam posisi bahaya. Ingat, aku ini namja normal, dan kita hanya berdua di sini.”

DEG! EOMMA!!! Ini menjadi menakutkan. Bagaimana ini? Taemin menatapku dengan tatapan aneh. Ia bangkit dan berjalan mendekatiku. Ia tersenyum aneh… astaga… astaga… eotteokhae?!?!?

“Tapi aku sedang sakit, “ ia berhenti mendekat dan angkat bahu, “Jadi kau yang berbahaya. Tolong jangan berbuat macam-macam padaku, ya!” lanjutnya. Aku hanya bisa tercenung.

Dan tawa Taemin pecah. “Ternyata menggoda orang itu menyenangkan! Wajahmu sampai pucat begitu!” ia berhenti sesaat untuk tertawa, “Rasanya sakitku sudah benar-benar sembuh!”

Aku mengerutkan kening dan mendengus. Kupikir Taemin sudah ketularan yadong. Aigo…

“Mm… Jeomsim meogosseo (sudah makan siang, belum)?”

Aku menggeleng, “Ajig.”

Taemin mengangguk-angguk, “Nado. Kau bisa masak?”

Aku meringis, “Aniyo~ aku pernah mencoba masak Indonesian fried rice tapi terlalu asin. Rasanya sungguh kacau… hanya asin… tidak pedas, tidak manis, aneh!”

Taemin tertegun, “Jeongmal?”

“Ne!”

“Aih… benar-benar tidak bisa masak apapun?”

“Ne~”

“Tidak bisa buat kimchi juga?”

“Ne…”

“Aigo…” Taemin tampak lemas seketika.

“Ah! Aku bisa masak mie instan!”

Ia menyipitkan matanya kesal, “Ehem… aku sedang kurang sehat…”

“Ah… geurae…”

(Key’s POV)

“Kita batalkan saja latihan hari ini,” tukas Manajer, masih menatap ponselnya. “Mr. Soo Man mengajak diskusi.”

Kami berempat hanya bisa mengangguk. Pasti mengenai masalah SME dan SHINee. Minho mendesah dan kembali menatap jalanan. Jonghyun hyung dan Onew hyung kembali sibuk dengan i-Pad mereka. Dan aku kembali menguping percakapan dua pria gaul di depan; Manajer dan Minsuk hyung—supir kami.

Begitu sampai di gedung SME, kami segera menuju ruangan Lee Soo Man. Manajer memisahkan diri karena ingin ke toilet.

“Silyehamnida!” ujar Onew hyung sopan setelah mengetuk. Ia membuka perlahan pintu kaca itu. Ruangannya kosong. “Annyeong haseyo!” bisik Onew hyung, berusaha memastikan bahwa ruangan benar-benar dalam keadaan kosong.

“Kosong?” gumam Manajer, yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang kami.

Dan secara tiba-tiba juga, salah satu pintu di ruangan itu terbuka. Ada orang? Itu kan tempat penyimpanan dokumen? Seorang yeoja bercelana pendek, memakai tanktop, dan jaket melangkah keluar. Ia tampak sibuk memasukan sebuah berkas ke tas selempangnya. Ketika ia mengangkat kepalanya dan melihat kami, ia tersentak dan mematung. Kami juga mematung.

Siapa yang tak kenal yeoja manis itu? Artis baru yang diramalkan akan sukses nantinya. Salah satu teman sekolah Taemin yang cukup dekat dengannya.

“Jung Mihyun?! Seru kami berempat.

TBC

Never Ending Love

Title: Nver Ending Love

Author: newshawol

Main Cast: Taemin, Yu-Mi

Rating: General

Genre: Friendship, Sad (?)

A/N: Hello! Ini oneshot pertama-ku.. dan udah pernah aku post di AFF. Maaf ya, grammar-nya ancur… Ini aku buat waktu SMP… jadi.. ancur. Hahaha.. jangan lupa.. yang udah mampir.. tinggalin jejak yah :D

“…Love from everyone never change who you are. Love never makes you weak. Even thought love made you hurt… it always makes you stronger. Love from your couple bring you happiness, love from family bring you strength, but love from best friend bring you all; happiness, strength, adventure, and lesson. And that love will always be in your heart…”

Taemin P.O.V

I first saw the girl in one hospital in Seoul. I got injured after performed in one country. When I went to the hospital’s library (cool… it was the first time I saw library in hospital), I met this girl. I took a comic when I saw this girl was listening to the music with earphone and read the novel. She sat on one read-chair.

The girl used same clothes with me; nursing clothes—light blue with soft brown lines. So, the girl was had nursing too, like me. I walked to the girl and sat in front of her. She looked me and didn’t say anything for a while. I smiled to her and then she gasped. Her brown eyes were getting bigger.

“Gosh… You must be Taemin from SHINee!” she shouted with very soft voice. Okay, she had an alto voice but she still can whisper. I smiled again to her and say hello. She smiled back and stuck her hand, “I’m Gloria. My Korean name is Jung Yu-Mi. I thought my name is like Japanese name but that’s real Korean name.”

“Yumi? Yeah… my fans from Japan sent me a letter. Her name is Yumi,” I replied.

She smiled and stopped listen the music. “When everyone write their name with alphabet, they combine they name—example your name ‘Tae-Min’, but you wrote it ‘Taemin’—as they like. But I never combine my name. I always write it ‘Yu-Mi’ not ‘Yumi’,” she explained.

Seriously, I didn’t really understand what she talking about. But I understood that I must call her ‘Yu-Mi’, not ‘Yumi’.

She was the weirdest girl I’ve ever met. She talked about many weird things like how your mole grow, why we have different shapes of fingers, how long your hair can grow a day, etc. After about half hour she talked about weird things—but actually that were interesting—she talked about boy-band, example SHINee.

Because I knew many things about boy-band, I talked much and she laughed loudly. She said that she was shock when knowing that I love to talk much. I laughed loudly when heard that silly things.

Yu-Mi was an Indo-Holland girl. She went to Korean because she must get better nursing. She got a bad illness. She didn’t tell me what kind of illness is that. The only one I knew was she got the nursing in this hospital for one year. Oh my… one year!

I told about Yu-Mi to other SHINee’s members that got injured too like me. Yu-Mi and other members were getting closer easily. We spent our time together. This day, was the day for me to go back to my home. I’ve been here for a week, but I never feel bored because I got new fantastic friend like Yu-Mi.

“So, do you still here after this day?” I asked her.

She smiled to me and sighed, “I always here. I never go out since I got nursing.” She looked at me and grinned, “What’s wrong? Do you longing for me?” she laughed again.

“Of course no…” I disputed. But then I laughed, “But maybe yes…”

“I’m right! Well, visit me if you are longing for me. I will still here so that we can meet again.”

I nodded, “By the way, actually… what kind of illness that you’ve got?”

She thought a while, “Must I tell you?” she asked with bright face. I nodded. “Okay… mm… I got a cancer; lungs cancer. And, because when I was a child I had overweight, my lungs—not my heart—have been weak.”

 I startled. I eyed her with unbelievable gaze. She looked at me with weird face and laughed. “Why you show that silly face? Relax…” she laughed again.

Seriously, is this girl being crazy? How can she laugh when she has a dangerous tumor in her body? I eyed her confused, “Yu-Mi-ssi… why do you laugh? There’s nothing funny. Don’t you feel afraid of your illness?”

“Your face is definitely funny!” she laughed again, “Mm… Scared? I don’t know… I have God who always support me… and also my family. I live not for sad. I live for share my love to others.” Suddenly, a nurse came to us and spoke with Yu-Mi. I could hear what the nurse talks about. Yu-Mi must get an injection like usual.

“Whoa… I must go now, Taemin. I really hope that you will always healthy. Bye!” she stood up and waved to me. She bowed her head when followed the nurse.

Though she bowed her head, I could see her gaze. Sadly gaze. I was really-really sure that what’s in her feling or mind was different with what she said. She said that she don’t scared, but she still a young girl that didn’t want to get any illness.

Key P.O.V

I heard from Taemin that Yu-Mi, our new friend had a cancer. What the hell?! She was really a nice and smart girl. She was young and polite. She was funny and love to laugh. But why she must get that silly-crazy-weird illness?

Taemin seriously changed after that. He looked sad and she smiled rarely. He always visits Yu-Mi in his spare time. After done our schedule, he always visits Yu-Mi. Then, he always tell the others how’s Yu-Mi’s condition. Taemin tried his best to make Yu-Mi happy.

I knew, thought there’s a medicine for cancer, Yu-Mi’s cancer was too dangerous and I thought Taemin wanted to make all memorable experience in Yu-Mi’s life.

Taemin P.O.V

“Let’s play the Scrabble! I’ve bought the newest and hardest scrabble ever!” I shouted to Yu-Mi when visited her room.

She laughed, “Stupid! All scrabble is same! Okay… let’s play it!” and we played together. After played the Scrabble, we played Truth or Dare. She always wins so that I must be honest to her or do something weird—because she always asks me to do a terrible thing.

Once, I won. She chose ‘truth’ and I asked her about her feelings now. “Mm… I must tell the truth, right?” she smirked, “I’m afraid. Three days again, I must do a surgery. If the surgery is fail, we can’t meet again…”

I startled again. Now, I really could see a frightened in her eyes. She inhaled and smiled again, “Long time didn’t have a walk… I really want to have a walk… see the buildings… play in playground…”

“Just go for walk now…” I said and smiled to her.

“But Doctor said that if I go outside, my tumor will get worse… and my lungs will get more pain. I don’t want to die faster. But… that will make me sadder if I can’t go outside…”

“I will accompany you…” I said sudden. I didn’t know why I can say that thing.

She gasped and smiled happily, “Are you sure? Oh really… that’s one of some way that friend can do to show his or her love to others… Do you understand it?” she smiled, “Let’s go now!”

“Now?”

“Yes, we are!” she nodded happily. She held my hand and pulled me. She looked happily, made me happy too. We had a walk in park. We bought four bowls of sundaes. We played at playground on one kindergarten. We played at sands-box. We played until sunset. That all were fun!

We went back to hospital when the sky was getting dark. One nurse was angry with Yu-Mi because she went without any permission. Yu-Mi smiled innocently to the nurse and followed the nurse. Then, she turned around her head and winked to me.

That’s crazy. I brought a sick people went out without any permission. We had a very nice day. Yeah… very nice last day… Because Yu-Mi passed away in the afternoon, one day after that day; after we went outside.

One day after the fun day, I went to the hospital again. I had a schedule so that I visited the hospital at night. But when I asked the nurse, the nurse just sighed and shook her head. Two people beside her—a woman with short hair and a man with tired face—were Yu-Mi’s parents. They cried loudly and made my eyes blur.

“What’s wrong?” I asked confusedly. I had a bad feeling.

“Are you Yu-Mi’s friend?” the woman with short hair asked me.

I nodded. “So you are the person, handsome guy. We’re Yu-Mi’s parents. She… she gave this to us and asked us to give it to you.” She gave a letter to me.

“What? What’s wrong with her?” I started to be afraid.

“She passed away, meet The God,” Yu-Mi’s father explained shortly.

I really cried then. Yu-Mi’s tumor seriously got worse. And her lungs were weaker after went outside and made her passed away early.

I went to the park and cried alone. I opened the letter and read it.

My dearest friend, Taemin…

I knew before that we had not much time to go together. But we still went outside together. I wrote this letter after went with you. I knew that I will ‘go’ faster. Don’t be sad because I’m happy here, beside my God. Don’t feel guilty because you didn’t make any mistake

You know… you really change my life. I almost always feel lonely in the hospital. But since I know you, I learned to make my life precious. I tried my best to make a great memory. Thanks for helping me.

Because of you, I can eat ice cream and play with sands. Because of you I can see many people walk near me. Because of you I feel respectable. You know, your love makes me stronger. Your love helps me prepare for the death. Your love teaches me many things.

Ah! I remember something! When the storm of my life came, I can pass it safely because I have a great family and a friend like you. But the most important is because I have a great God. You know, in your every problem, God shows you His mighty. So, never give up and never get angry to God.

One of the greatest thing of my life isn’t I can go out side with you. The greatest thing is that I can meet you. Thanks for everything… I will never forget you…

   Your memorable friend,

                Yu-Mi

 

  Again, I cried. But the days after that, I really get stronger. Yu-Mi… you thought that I taught you many things, so did I. I always thought that your love taught me many things. I promised I will be like you—that struggled for the life—and make my life be a better life. Because your love will never ends. Your love is safe here, in my heart.

***

She Doesn’t Like the Others (Part 5)

Title: She Doesn’t Like the Others (Part 5)

Author: newshawol a.k.a Irene

Main Cast: Lee Taemin, Kim Euna (OC)

Support Cast: SHINee, Jung Seorin (OC’s friend)

Length: Sequel (belum tau kapan tamatnya)

Genre: Romance

Rating: PG-13

 

(Taemin’s POV)

Entah apa yang aku pikirkan, tapi aku benar-benar mengajak Euna jalan-jalan. Padahal kita hanya teman baru yang belum saling kenal dengan baik. Dan lagi, saat ini sedang hujan! Aku terus bertindak tanpa berpikir, seakan aku menyukai tindakkanku itu.

“Bagaimana kalau kita pergi ke Taman Ria saja?” usulku. Lagi-lagi kalimat itu terlontar tanpa dapat kukendalikan.

“Hm?” Euna menoleh dan berpikir sejenak. “Taman Ria? Hujan-hujan begini?”

Nah kan, aku lupa sedang hujan -.- “Ne… malah bagus. Taman Ria akan sepi kalau hujan. Balli!” ajakku. Hanya itu alasan yang ada di otakku.

Kami bergegas menaiki bus. Dengan cepat kami menjadi pusat perhatian. Awalnya aku agak panik, takut ketahuan. Tapi setelah kupikir lagi, mungkin mereka hanya bingung melihat pasangan gadis asing gemuk bersama pria lusuh yang kencan di tengah hujan dengan naik bus.

Akhirnya setelah berjuang melawan padatnya penumpang bus, kami tiba di Taman Ria. Benar saja, taman itu SANGAT sepi. “Kaja! Ini kesempatan kita!” ajakku.

Euna mematung di tempatnya dan meringis, “Kau bawa uang? Aku tidak bawa cukup uang…”

Aku tergelak. “Tak mungkin aku membiarkanmu bayar sendiri! Ini kan ideku. Ayo!” balasku di sela tawaku. Aku segera menariknya dan menuju loket.

Ia terkikik dan bergumam pelan, “Neomu kwiyeopda~!” Wajahnya terlihat gemas dan ia menepuk-nepuk pundakku senang.

Aku menepis tangannya jengkel. “Tega sekali kau mengatai aku ‘kwiyeopda’ dengan wajah seperti itu. Aku ini MANLY!” tukasku.

Ia tertawa lagi, “Ara~”

Selanjutnya, atas usulan Euna, kami menuju loket Roller Coaster. Menurutnya, wahana ini adalah wahana pemanasan. Kami menitipkan payung kami dan menaiki keretanya. Hanya ada kami! Yah… orang bodoh mana yang nekat naik wahana mematikan begini di tengah hujan??

Kereta mulai bergerak perlahan. Aku melantunkan doa agar selamat. Sedangkan Euna tampak senang bukan main. Hidungnya sampai kembang-kempis begitu. Sontak saja tawaku pecah.

“Aigoo~ ini pertama kalinya aku naik Roller Coaster!!” serunya sambil memegangi rambut ikalnya yang tertiup angin.

“Jeongmal? Aku sudah pernah, dan langsung mual. Kali ini kalau aku muntah, kau yang tampung!” balasku iseng dengan seringai lebar.

Ia mencibir, “And-DWAEEEEEE~!!!” jawabannya berubah menjadi jeritan, karena kereta mulai meluncur tajam.

Menikung… berputarrr… menikung lagi… menanjak cepat… terjun lagiii…

“AHHH~!!!” aku ikut-ikutan berteriak. Dengan susah payah aku menahan topi dan wig-ku agar tidak terbang. Akibat kecepatan kereta, air hujan jadi terasa menampar-nampar wajahku.

“WHOAAA~!!!” Euna menjerit lagi pada tikungan ketiga, ketika kereta dalam posisi miring 91 derajat. Dan yah… teriakanku juga tak kalah nyaring.

Akhirnya… selesai… Mataku berputar. Perutku bergolak. Rasanya ingin kumuntahkan lagi teh blackcurrant buatan Key hyung tadi.

“Parah. Sungguh parah. Tapi memuaskan!” Euna tersenyum puas dalam posisi membungkuk. Aku yakin, semua isi perutnya juga nyaris keluar.

“Baiklah. Sekarang giliranku. Aku mau naik itu!” seruku sambil menunjuk wahana Flying Dutchman; perahu besar milik Flying Dutchman yang diayun-ayun.

Lagi, perut kami terkocok. Perahu itu diayun SANGAT cepat! Dan berkal-kali! Maju… mundur… maju… mundur… AHHH!!! Hentikan~ Hentikan dulu sebentar~ Aku mau muntah~~

“Mphh…” Euna membungkuk cepat begitu turun dari wahana itu.

Aku menatap gadis gembul itu. “Kau mau muntah?” Yah… aku sediri saja mau muntah.

Ia mendongak dengan wajah kuyu dan mengangguk. Tapi sedetik kemudian ia bangkit dan bergumam yakin, “Ini baru yang kedua. Lanjutkan!”

Aku tak kuasa menahan senyum melihat tingkahnya itu. Rasa mualku mendadak berkurang. “Coba naik Crazy Swing (*semacam Untang-Anting di DUFAN) saja!” usulku.

Euna menoleh ke arah wahana yang kumaksud. “Ah… Joha! Pasti agak menenangkan.”

Tapi ternyata ini tetap pilihan yang salah! Meski putarannya tak terlalu kencang, dalam keadaan begini, tetap saja menambah mual. Apalagi topi, wig dan celanaku sudah basah. Rasanya jadi dingin sekali.

Berbeda dengan Euna yang tampak sangat menikmati. Ia menoleh dan meingis, “Lumayan… pendinginan…”

~ ~ ~

“Aigoo…” desahku begitu bokongku menyentuh kursi kafe. Setelah menaiki total 5 wahana gila—Roller Coaster, Flying Dutchman, Crazy Swing, Arung Jeram, dan Indiana Boat (*sejenis Niagara-gara di DUFAN)—aku bisa istirahat di tempat aman. Aku sendiri heran, kami berhasil bertahan tanpa memuntahkan suatu apapun.

Euna ikut menghempaskan tubuhnya ke kursi. Ia menatapku dengan mata sayu, “Eomo~! Kau basah sekali~ Dingin tidak? Aishh… Taemin oppa… Jeongmal mianhae~” wajahnya tampak menyesal.

Aku tersenyum, “Gwaenchanha. Kau juga basah semua!” Ya… jaketnya, jeans-nya, dan bahkan rambut ikalnya terlihat tidak begitu ikal lagi. “Kau pakai ini saja,” ujarku spontan seraya melepas dan menyodorkan mantelku.

Ia menggeleng, “Jangan. Nanti kau yang basah.”

“Pakaianku masih kering.  Basah sedikit tak apa. Kau pakai ini saja. Bagian dalamnya masih kering kok! Lagipula ini ukuran pria, pasti muat,” aku bersikukuh dan terus menyodorkan mantel itu, “Pria sejati tidak takut basah. Ambil ini!”

Ia menatapku ragu dan tersenyum kecil. Akhirnya dengan gerakan perlahan ia mengambil mantel itu. “Jeongmal gomawo!” ujarnya dengan suara halus. Ia membungkuk dalam-dalam.

“Cheonma… huatchi!!!” Astaga… aku bersin. Flu? Selemah itukah aku?

“Aduh… kau jadi flu… mianhae oppa…” Euna kembali memasang wajah menyesal. “Ah… kau pesan kopi saja. Setidaknya akan menghangatkan tubuhmu.”

Aku mengangguk dan bagkit berdiri. “Kau mau pesan apa?”

Ia malah tercengang. Sesaat kemudian ia tersenyum penuh semangat, “Es krim!”

“Es krim?”

“Ne!”

Akhirnya aku memesan kopi, es krim cone, dan 2 buah donat. Euna menggigit donatnya dengan penuh semangat. “Ah, Taemin oppa! Ayo kita naik… mm… Biang Lala!” ia mengucapkan sesuatu dengan bahasa yang tak kukenal.

Biang Lala?”

Ia meringis, “Apa bahasa Koreanya, ya? Hmm… itu! Naik itu!” ia menunjuk ke luar.

Aku menatap ke luar, melihat sesuatu yang ditunjuknya. A~ maksudnya Biang Lala. “Oh… itu Biang Lala. Mm… Ya! Kau mau menggodaku?” candaku.

Ia tampak terkejut. “Aniyo! Geunyang… mm… ini kenang-kenangan! Jarang-jarang aku pergi ke Taman Ria. Apalagi di Korea! Kau tahu, mungkin saja kita tidak bisa bertemu lagi, bukan?”

Melihat wajahnya yang merah begitu membuatku tak tega untuk menolak keinginannya. “Ara,” ujarku seraya membungkus sisa donat dan bangkit berdiri. “Kaja!”

Ia mendongak bingung. “Eh?”

“Aishh… kau sendiri yang minta naik Biang Lala!”

Ia menepuk keningnya dan ikut berdiri. Ia juga membungkus donatnya dan menyiapkan payungnya. “Mana payungmu?”

Astaga! Aku lupa payungku! Aku tersenyum hambar, “Mmhh… ketinggalan… di wahana Roller Coaster…”

Ia tergelak, “Gurae… kita naik Biang Lala, lalu ambil payungmu. Kita pakai payungku saja.”

Akhirnya kami menuju wahan itu dengan posisi aku memgang payung; memayungi kami berdua, dan cankir-kertas kopi. Euna memegang bungkusan sisa donat dan terus menjilati es krim cone-nya.

“Wuahhh! Puasnya~!!” seru gadis di hadapanku semangat, ketika kami sudah berada di dalam wahan ini. “Ini juga merupakan pengalaman pertama naik Biang Lala! Di Korea! Bersama Taemin!!

Aku menggigit donatku, “Berbahagialah. Kau wanita pertama—selain ibuku—yang naik Biang Lala denganku!” ujarku, bahkan ikut menyebut Biang Lala dengan bahasa asing itu.

Wajahnya memerah lagi, “Ne! Nan… Jeongmal haengbokhanda! Gomawo!” ia tersenyum.

Magnet.

Aku  ikut tersenyum bagai terkena magnet. Pria mana yang taha melihat senyum tulus wanita? Sejelek apapun, segendut apapun, sebawel apapun, kalau seorang wanita tersenyum tulus sepenuh hati, pasti terlihat manis.

“Kau tersihir, tidak?” pertanyaan Euna memecah lamunanku.

“Mwo?” aku mengerutkan kening tidak mengerti.

Ia mencibir, “Ah~ padahal aku sudah berusaha terlihat manis. Tapi tampaknya kau tidak terpengaruh.”

“Eo?”

“Bercanda!” ia terkekeh dan menggigit donatnya lagi.

Babo! Dengan santainya ia berkata begitu tanpa tahu pengaruhnya. Pipiku terasa memanas. Aku memang tidak menyukainya secara spesial, tapi kata-katanya tadi terlalu… aisshh! Orang cuek seperti apapun pasti akan kaget dibuatnya.

“Taemin oppa?” panggilnya.

“Hm?”

“Boleh tidak, kupanggil ‘Taemin’ tanpa ‘oppa’?”

Haduh! Terus terang sekali! Aku menggigit donatku kikuk, “Hm. Terserah saja.”

Ia tersenyum senang, “Taemin-ssi…”

“Hm?”

Ia menggeleng pelan, “Hanya mengecek.”

Nahkan!

“Taemin-ssi…”

“Apa lagi?”

Can I take a picture with you?” pintanya dalam bahasa Inggris, “The last. This is the last. For today. Aku tidak tahu kapan bisa bertemu lagi denganmu.”

“Mphh…” hampir saja kumuntahkan donat ini. “Kau kan bisa datang ke konserku. Atau… apalah…”

Ia menggeleng pelan, “Aniyo. SME pasti jera mendatangkanmu ke negaraku. Dan kalaupun kau konser, tiketnya pasti mahal. Lagipula orang tuaku tak akan mengizinkan. Karena itu… You will take a picture with me, won’t you?”

Aku tertegun mendengar perkataan halusnya. Ia mengucapkannya begitu penuh perasaan. Sebagai artis professional, aku bisa membedakan mana yang serius butuh, mana yang hanya ingin saja.

Aku mencondongkan tubuhku; mendekat padanya. Tapi ia malah tertegun. “Mwoya? Kita duduk berhadapan, jadi harus dalam posisi seperti ini,” jelasku.

Ia mengangguk pelan dan menyiapkan kamera ponselnya. Ia ikut mencondongkan tubuhnya sedikit dan mengambil gambar. “Ahhh…” desahnya begitu melihat hasil potetnya. “Wajahku besar sekali, kepalamu hanya terlihat setengah begitu!” ia mendesah lagi, “Lagipula…”

Ia kembali tertegun ketika aku secara tiba-tiba pindah ke sampingnya. “Ha!” ujarku.

Ia tersenyum kaku dan menunjuk kepalaku—wig-ku. Oh iya, aku dalam kondisi menyamar. Dengan cepat aku menanggalkan semua penyamaranku dan ia kembali memotret. Kali ini hasilnya cukup memuaskan.

“Gomawo, Taemin-ssi!” ia berseru riang, masih menatap hasil potretnya.

“Cheonma… huatchi!!!” lagi-lagi bersin.

“Tampaknya kau benar-benar flu… Gwaenchanhayo?” Euna kembali khawatir.

Aku mengangguk menenangkannya, “Gwaenchan… hatchi!” dan kembali bersin. Tapi sudahlah, hari ini sudah cukup menyenangkan. Flu sedikit juga tak apa.

TBC

(Ahhh… akhirnya selesai sampai part 5 :D Gimana?? Masih ga jelas dan bikin bosen? Maaf banget… hehehe… ada bahasa Korea yang aneh?

Ara/Arasseo=mengerti, Eoddeokhae=apa yang harus kulakukan, Mianhae=maaf, Aigoo=astaga, Nugu=siapa, Jeongmal&Jinjja=benarkah/benar-benar, Ne/Ye=iya(inf/form), Gomawo=makasih, Ya=hei, Cheonmaneyo=sama-sama, Gwaenchanha=baik-baik saja, Babo=bodoh, Saram=orang, Mwo=apa, Wae=kenapa, Oppa=kakak (perempuan ke laki-laki), -ssi=partikel panggilan Korea yang menyatakan rasa hormat.

Ga ada yang sulit kan? Kalian sih pasti udah pada afal ;D Hahaha… oh iya, jangan lupa.. give much and much Oxygen ;*

She Doesn’t Like the Others (Part 4)

Title: She Doesn’t Like the Others (Part 4)

Author: newshawol a.k.a Irene

Main Cast: Lee Taemin, Kim Euna (OC)

Support Cast: SHINee, Jung Seorin (OC’s friend)

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: PG-13

(Taemin’s POV)

   Mobil Minho terus melaju dengan santai sementara seluruh member SHINee tak henti-hentinya bertanya mengenai Euna. Maka tak ada jalan lain, aku hanya bisa menjelaskan semuanya pada mereka. Bahkan nama ‘Han Saetbyul’ yang ia terima dari temannya pun kuceritakan.

“Wuah… aku jadi membayangkan… Apa dia jago masak ayam, ya?” gumam Onew. Aku mengerenyitkan dahi sedangkan semua hyung-ku tertawa terbahak-bahak.

“Sudah, sudah…” sahut Key di sela tawanya, “Lalu apa lagi? Ceritakan semuanya!”

Aku menatap Key dengan wajah bingung, “Hyung sudah normal lagi? Kukira selamanya akan jadi gila…”

Key meringis, “Entahlah… aku sedang ingin normal sekarang. Ayo cepat! Lanjutkan saja!”

Aku angkat bahu, ”Baiklah! Jadi, ketika ia sibuk bercerita mengenai nama Koreanya, aku mendengar suara yang amat kukenal. Saat kuperhatikan baik-baik, aku melihat beberapa orang bersembunyi di berbagai tempat. Mereka kemdian keluar dari tempat persembunyian masing-masing. Kurang lebih ada tujuh orang atau mungkin lebih. Dua dari mereka adalah gadis-gadis yang memakai ponsel untuk memotret. Kuarasa, mereka itu paparazzi campuran; wartawan dan fans. Atau mungkin antis… entahlah…”

”Lalu, kalian lari dan tersesat?” tebak Minho hyung.

Aku mengangguk dan meringis, ”Awalnya aku ingin pasrah saja, tapi aku ingat, Euna tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Bagaimana kalau ada yang menanyakan masalah SME padanya??”

Ketiga hyung-ku mengangguk setuju. ”Ngomong-ngomong, aku sendiri bahkan belum tahu dengan jelas masalah itu,” ujar Minho hyung.

Ah! Kami bahkan lupa menjelaskannya pada Minho hyung! Memang, SHINee sudah mulai diistirahatkan selama 2 minggu, tapi khusus Minho hyung, ia tidak bisa mengerti dengan jelas masalahnya, sebab, selama seminggu lebih ia dirawat di rumah sakit karena kelelahan. Ia baru kembali 3 hari yang lalu.

”Rumit,” ujar Key hyung ringan.

”Tidak wajar,” tambah Onew hyung.

”Aneh,” Jonghyun hyung ikut menimpali.

”Aishh… ceritakan yang benar!” seru Minho hyung seraya mengacak-acak rambutnya; kebiasaannya jika ia sesang kesal.

”Ne. Kau tetaplah mengemudi dengan baik, hyung!” balasku akhirnya.

”Ara!” jawabnya cepat.

Aku berdehem dan mulai menjelaskan, ”Entah dari mana, gossip aneh beredar mengenai SME. Gossip mengatakan bahwa Lee Soo Man dan manajer kita melakukan penindasan terhadap GB dan BB di SME. Dan erita yang tersebar di lingkungan SME adalah bahwa Lee Soo Man dan Manajer telah melakukan korupsi yang cukup besar.”

Minho hyung mengerutkan alisnya, ”Korupsi? Klise sekali…”

”Ne. Selanjutnya, keterangan aneh terdengar lagi. Lee Soo Man dan Manajer telah mengambil jatah BB dan GB lain. Mereka dipaksa melakukan konser-konser ketat, tapi sebagian besar uangnya mengalir untuk kita. Kau ingat, sebulan yang lalu kita berlibur ke Hawaii… Gossip mengatakan bahwa uang liburan kita itu adalah hasil Korupsi. Super Junior yang sudah lebih senior saja tidak mendapat libur seperti kita.

Kemudian, Hankyung (Hangeng) hyung juga katanya menggugat SME karena hal ini. Ia merasa seperti babu, bekerja luar biasa keras namun bayaran yang didapat sangatlah kecil.”

”Ne! Anehnya lagi, berita baru terdengar terus. Katanya Manajer memberikan sejumlah uang untuk teman-teman wanita kita dalam rangka untuk membujuk mereka agar mereka terus mem-voting kita pada setiap chart. Sungguh tak masuk akal!” tambah Jonghyun hyung dengan wajah kesal bercampur bingung.

”Selanjutnya, tepat seminggu yang lalu seorang wanita mengaku ia mendapat sejumlah uang dan surat keterangan. Surat dan uang itu dimasukan ke dalam kotak surat rumahnya tanpa perangko dan cap—berarti dimasukan sendiri oleh si pengirim. Parahnya, di surat itu ada tanda tangan Taemin; tanda tangan pribadi, bukan tanda tangan yang biasa diberikan kepada para fans. Kau tahu, wanita itu adalah Jung Mihyun, teman satu sekolah Tamin!” timpal Key hyung

”Mwo?!” Minho hyung tampak terkejut. ”Bagaimana mungkin???”

”Molla… Manajer sendiri sampai pusing. Tapi Taemin sendiri memang mengakui bahwa itu adalah tanda tangan miliknya, meski ia merasa tidak pernah menandatangani surat aneh itu,” Onew hyung menepuk-nepuk bahuku dari kursi depan.

Minho hyung mendesah, ”Jahat sekali orang yang melakukan itu. Ah… Taemin-ah! Kau benar-benar tidak menandatangani surat itu?”

Aku menggeleng kuat-kuat. ”Aniyo~ Aku bukan orang bodoh yang mau menanatangani surat konyol itu.”

Minho hyung mendesah lagi, Nah kan! Lalu siapa?” ia tampak berpikir keras.

”Sudahlah. Lagipula, kabar yang sudah terdengar oleh massa hanya sebagian saja. Ang mereka tahu, SME melakukan kecurangan—pilih kasih—dan memberikan dana sia-sia pada wanita. Mereka belum tahu secara jelasnya,” Onew hyung berusaha menenangkan.

”Kau sebaiknya fokus menyetir. Aku belum mau mati,” tambah Key hyung diikuti jitakan keras pemberian Onew hyung.

”Ara…” Minho mendesah lagi.

~ ~ ~

Aku menyesap teh blackcurrant yang disediakan Key hyung. Hari sudah mulai sore, tapi hujan belum berhenti sejak pagi. Padahal ini musim panas. Bayangkan… MUSIM PANAS! Tampaknya pengaruh global warming sudah mulai terlihat; mengacaukan musim dan iklim.

”Annyeong haseyo!” sapa Key hyung kepada ponselnya. Sontak, seluruh member SHINee menatapnya. Tampaknya ia yang mengawali percakapan.

“Nuguseyo? … Eo?” gumamnya dengan kening berkerut. Ia terdiam sesaat dan tampa agak kaget, ”Nomormu ada di ponselku!”

(Euna’s POV)

Aigoo… pria aneh! Ia meneleponku duluan, tapi ia juga menanyakan siapa aku. Orang bodoh mana yang akan melakukan itu? ”Nuguseyoooo?” aku bertanya balik.

Nomormu ada di ponselku!” ujarnya.

Aku mengerenyitkan dahi, ”Jinjja? Aku bahkan tidak tahu anda ini siapa!” aku mendeah. Aku sedang liburan hari raya di sini. Aku bahkan tidak punya teman Korea selain anak pemilik penginapan. Bagaimana mungkin aku kenal orang ini? Jelas-jelas nomor ponselnya merupakan nomor Korea.

Benar begitu? Tapi sungguh, nomormu ada di ponselku! Terdaftar sebagai panggilan masuk,” orang itu bersikukuh.

”… Nuguseyo???” tanyaku untuk yang kedua kalinya tanpa merisaukan  perkataannya.

”… Kim Ki Bum,” jawabnya akhirnya.

Di benakku segera hadir wajah Kibum Super Junior; member favoritku urutan ketiga. Aku tersenyum jika membayangkan Kibum sedang meneleponku. Tapi aku harus berusaha kesal. Tidak bagus jika perempuan terdengar atusias pada lelaki asing. ”Hello??? There are MANY people named Kim Ki Bum!” aku memutuskan menggunakan bahasa Inggris.

Ah!” ia terdengar kaget, ”Benar…” ia terdiam sesaat, ”Eo?” bisiknya.

”Mwo?”

Molla…” bisiknya lagi.

”MWO?!”

Ah! Oh… erm… nanti lagi kita lanjutkan. Annyeong!” dan ia memutuskan sambungan.

WHAT THE HEL*?! Neomu babo saram!! Apa maksudnya tadi? Orang ini pasti bukan Kibum super Junior!!! Sungguh, ini pertama kalinya aku menerima telepon dari orang aneh seperti itu. Atau ini hanya kerjaan orang iseng?

Tunggu! Tiba-tiba saja aku ingat. Taemin pernah memakai ponselku! 3 hari yang lalu, ketika kami tersesat bersama. Mugkinkan orang itu adalah Kim ”Key” Kibum??? Semoga… astaga… SEMOGA~!!!

 (Taemin’s POV)

   ”Hyung!” panggilku akhirnya. Key hyung bebicara aneh pada poselnya.

Key hyung menoleh, ”Eo?”

”Nuguya?” bisikku seraya menunjuk-nunjuk ponsel yang dipegangnya.

”Molla…” ia angkat bahu, ikut berbisik. Dengan segera, ia berbicara untuk mengakhiri percakapan dengan lawan bicaranya.

”Bagaiman mungkin kau tidak kenal orang itu? Kau yang meneleponnya duluan! Babo!” seru Jonghyun hyung.

Key hyung mencibir, ”Nomor ini terdaftar sebagaim panggilan masuk 3 hari lalu. Tapi aku lupa ini siapa.”

Aku terdiam sesaat. 3 hari yang lalu… hmm… ”Apakah orang itu perempuan?” tebakku.

”Ne! Suaranya agak berat. Tapi itu pasti perempuan! Dan bicaranya patah-patah,” jawab Key hyung.

Aku tersenyum. Dugaanku pasti benar. ”Itu Kim Euna! Kau ingat, hyung, 3 hari lalu kami tersesat dan aku meneleponmu dengan ponselnya.”

Ia mengangguk, ”Oh iya. Waktu itu kupikir kau memakai nomor baru. Ternyata gadis itu.”

”Sudah lama tidak melihatnya. Kemarin saat aku lari pagi bersama Minho hyung, aku juga tidak melihatnya,” gumamku. Sulit untuk menahan senyum jika mengingatnya.

”Jinjja? Padahal selama 3 hari ini aku melihatnya terus. Ia berdiri di sebrang apartemen ini, terus menatap—tampaknya ia tidak tahu letak pasti dari dorm kita—selama setengah jam. Sungguh, lucu sekali!”

Ia datang ke sini? ”Jinjja??? Mengapa kau tidak memberitahuku?”

Minho hyung terkekeh, ”Malas. Banyak juga fans yang datang ke sini. Kurasa ia sama saja kan, dengan yang lain.”

Aku meringis, ”Gurae…” dan selanjutnya, aku kembali menyesap tehku, menatap ke luar jendela. Terbersit di benakku rentetan kejadian ketika bertimu anak aneh itu—Kim Euna.

Sesaat setelah pikiranku kembali, aku melihat sesosok remaja berjalan dan berhenti di sebrang apartemen. Ia memakai jaket abu-abu, jeans, dan payung biru. Eh? Itu Kim Euna! Entah oleh dorongan apa, aku segera bangkit, mengambil jaket dan payung, kemudian bergegas keluar.

”Lee Taemin?!” serunya dengan suara tercekat. Matanya berbinar senang.

Aku tersenyum lebar melihat wajah merahnya. Senyumnya sungguh menular, membuatku ikut tersenyum aneh. ”Annyeong haseyo!” sapaku sopan.

Ia tetap tersenyum lebar, ”Formal sekali. Apa yang kau lakukan di sini?”

Aku meringis, ”Dorm kami ada di sini.”

”Ishh… maksudku di sini, ” ia menghentak-hentakkan kakinya, ”Hujan-hujan begini.”

Aku terkikik sebentar. ”Aku melihatmu. Karena sedang bosan, kuhampiri saja.”

Ia tersenyum malu. Wajahnya sekarang benar-benar telah beruah menjadi tomat. Sungguh, ia tampak bahagia sekali. ”Jeongmalyo?”

Aku menggangguk, ”Ne. Hujan begini, tak ada jadwal, membosankan. Ah! Bagaimana kalau kita main saja?”

Ia tersentak, ”Mwo? Ini kan sedang hujan! Lagipula kau bisa mati dikerubuni para SHAWOL. Aku saja ingin melindasmu sekarang.”

Aku tertawa ringan, ”Biar saja. Kau tunggu di sini,” aku berlari kembali ke dalam dorm.

(Euna’s POV)

Taemin berlari masuk ke dalam apartemen itu. 15 menit setelahnya, sesosok pria aneh keluar. ”Kim Euna!” panggil pria itu seraya bergegas menghampiriku.

Eh? Itu… ”Tae…” sungguh… aku speechless. Itu Taemin!

Ia mengangguk, “Cukup baik bukan?” Aku menatap pakaiannya; wig coklat begaya tahun 80-an, kacamata super besar, kumis tipis palsu, topi rajut, mantel coklat tebal, celana jeans belel, dan sepatu boot hitam besar.

Ia kemudian mengeluarkan beberapa alat dari dalam kantung mantelnya. Itu alat make-up sederhana. ”Kau bisa melakukan sedikit perubahan padaku, bukan? Kau kan perempuan.”

Aku mencibir. ”Tidak semua perempuan bisa merias,” tapi aku tetap mengambil alat make-up itu. Aku mengaburkan warna kulitnya dengan bedak cair, memoles blush-on pada pipi, dagu, dan hidung untuk memberi kesan chubby, dan menebalkan garis matanya.

Ia bercermin dengan cermin kecil miliknya, ”Lumayan. Setidaknya, dengan bantuan hujan, orang-orang akan sulit mengenaliku,” ia tersenyum puas, ”Satpam apartemen itu terus melihat kita!” ia tertawa.

Aku melirik satpam-satpam itu dan ikut tertawa. ”Yang penting kau aman.”

Ia mengangguk dan menarik tanganku, ”Gurae, kaja!”

Astaga. Aku mendadak mati rasa. Jantungku berdetak terlalu cepat!

TBC

ANNYEONG!!!! *semangat membara* Aku kembali lagi dengan chapter 4 J aku bahkan gatau chapter 3-nya udah dimengerti pembaca atau belum XD hehehe. Maklum, ini FF debut kejar tayangku (?) Di chapter ini, aku berusaha manjangin ceritanya. Tapi alur ceritanya malah jadi geje, keliatan buru-buru, dan ga rapi -__-” hahaha. Sudahlah… semoga kalian suka… please don’t be a silent reader :D love yahhhh :*  (Oh ya, kalo ada yang mau tanya mengenai bahasa Korea-ku yang mungkin aneh, tanyain aja :D )