She Doesn’t Like the Others (Part 2)

Title: She Doesn’t Like the Others (Chapter 2)

Author: newshawol a.k.a Irene

Main Cast: Lee Taemin, Kim Euna (OC)

Support Cast: SHINee, Jung Seorin (OC’s friend)

Length: Sequel (belum tau kapan tamatnya)

Genre: Romance

Rating: PG-13

(Taemin’s POV)

   “Lari pagi tanpa izin dan berbincang-bincang dengan penggemar itu tidak baik, lho…” ujar Jonghyun sambil mencolek daguku. Aishh… seperti orang gila saja, mencolek-colek sesama lelaki.

   “Taemin-ssi… jangan mentang-mentang wajahmu manis, kau bisa berjalan-jalan sendirian…” tambah Key lagi.

   “Aishh… hyung ini apa-apaan sih? Jangan bicara aneh-aneh! Aku tidak manis! Aku ini manly! Dan lagi… Kibum hyung! Berhenti memanggilku ‘Taemin-ssi’. Ada apa sih? Seperti baru kenal saja!” balasku mulai kesal.

   “Biar saja! Hari ini aku sedang ingin memanggilmu dengan imbuhan –ssi,” jawab Key, lalu tertawa. Sungguh, aku merasa mereka menjadi gila sesaat. Sebaiknya sudahi saja kegiatan lari pagi ini. Kalau ada mereka, malah jadi kacau! -__-“

~ ~ ~

   Aku berjalan pelan menuju parkiran mobil. Hari ini cuaca agak dingin dan langit sedang mendung. Anak-anak lain jadi terburu-buru pulang. Tentu saja tidak enak hujan-hujanan dengan memakai seragam sekolah.

   “Taemin-ssi! Kau juga langsung pulang?” tanya seseorang sambil menepuk bahuku.

   Aku menoleh. Ah! Itu adalah Jung Mihyun, teman seangkatank—meski beda kelas. Ia juga menekuni seni drama, alias bermain film. Ia cantik, langsing, cukup pintar, dan berbakat. Ia baru saja menjalankan karir pertamanya; menjadi model CF. Kurasa pantas saja kalau ia bisa menjadi artis terkenal nantinya.

   “Ah… Ne… kau tidak pulang?” jawabku, balas bertanya.

   Ia mengangguk dan tersenyum manis, “Ne. Tapi aku harus menunggu oppa-ku menjemput. Ah, sudahlah. Kasihan orang yang menjemputmu. Sebaiknya kau cepat ke sana.”

   Aku tersenyum simpul, “Ne. Annyeong!”

   “Jalka!” balasnya, melambaikan tangan.

   “Wuah… benar-benar enak jadi seorang Taemin. Teman wanitamu banyak sekali!” seru Minho ketika aku memasuki mobil.

   “Taemin-ssi… saranghae~!” Key berseru dengan wajah anehnya.

   “Memang… banyak sekali yang mendekatimu. Hati-hati saja. Jangan sembarang bicara mengenai masalah di SM Ent. Kalau kau bicara aneh-aneh kau akan kehilangan semua penggemar itu,” ujar Minho.

   “Aku benci Taemin-ssi~!” tambah Key dengan wajah menjijikan yang dibuat-buat.

   Aku mendorong mukanya dan meringis, “Cukup sudah kau memanggilku dengan imbuhan itu. Sepertinya kau harus kukenalkan pada Mr. Jang.”

   “Mr. Jang? Nuguya? Penggemarmu juga?” tanya Key.

   “Ani… dia itu kepala dokter di rumah sakit jiwa yang tak jauh dari dorm kita.”

   Key meninju lenganku, “Ah! Taemin-ssi kejam!” serunya, tetap dengan wajah aneh.

~ ~ ~

   Aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Sekarang baru pukul 11.37 a.m. Kebanyakan murid sekolah belum pulang. Untunglah aku sudah kelas 3 dan ujian telah berakhir, maka angkatanku dibubarkan setelah pengumuman terbaru diberikan.

   Belakangan ini aku mendadak senang sekali jalan-jalan—menggunakan kaki. Rasanya, selalu ada hal baru yang aku temui di jalan. Seorang anak yang kabur dan dikejar ibunya karena tidak mau mandi, kakek-nenek yang berjalan mesra, tikus mati terlindas mobil, dan masih banyak lagi. harusnya aku menciptakan lagu berjudul All Weird Things in the Street saja. Hahaha… babo!

   “Uwaaa!!! Jangan diisengi anjingnya! Kasihan!” terdengar seorang perempuan menjerit-jerit marah. Tak sampai dua detik setelahnya, seekor anjing kecil berlari ketakutan diikuti segerombolan anak yang membawa kain, kayu, dan seplastik air, dan kemudian seorang gadis yang memakai ransel hitam.

Berambut ikal.

Berwajah non-Korea.

Bersuara agak berat.

Memakai ransel hitam POLO.

Eh?

Anak yang kemarin?

   Kejadian selanjutnya cukup cepat. Perempuan itu mempercepat larinya, mendahului gerembolan anak, mengangkat si anjing, dan berdiri di depan gerombolan itu dengan wajah galak.

   “Grr… Kojo!” serunya, “Awas kalau kalian berani mengganggu anjiing ini lagi! Akan kugigit kalian nanti!”

   Beberapa anak terlihat takut dan sebagian lainnya hanya berani menjulurkan lidah mereka dan kemudian kabur.

   Waw! Aku yakin itu pasti gadis yang kemarin. Ia berjalan balik, sambil mengelus anjing itu—anjing yang kemarin, berbicara dengan bahasa yang aneh, kemudian berhenti dan menoleh. Ia menatapku sesaat, menggosok matanya dan kembali terbelalak kaget.

   “Ya ampun!” ia berseru dengan bahasa yang tak kukenal. Ia menengok ke kiri dan kanan, memastikan tak ada yang memata-matai dia, kemudian berjalan menghampiriku. “Neo…”

   “Lee Taemin,” ujarku langsung, memotong ucapannya.

   “Ne. Taemin oppa… aigoo… mimpi apa aku semalam? Senang sekali bisa bertemu denganmu!” serunya sambil mengulurkan tangan. Apa lagi? Mau ambil kesempatan dengan memegang tanganku? Aku tersenyum geli memikirkan itu.

   “Waeyo?” tanyanya bingung, “Tenang saja. Tanganku higienis, kok!”

   Aku meringis dan melirik anjing yang sejak tadi digendongnya. Ia mengikuti arah pandanganku dan menarik tangannya dengan cepat, kemudian meringis dengan wajah yang agak memerah, “Mm… aku lupa, aku sedang menggendong anjing…”

   Aku tertawa mendengar pernyataan bodoh itu. “Gwaenchana. Senang bertemu kau lagi. Jadi, siapa namamu?” kataku sambil mengulurkan tangan.

   “Eh? Ah! Kim Euna imnida!” serunya bersemangat, kemudian membalas uluran tanganku. “Itu nama Korea-ku. Aku mendapatkan nama itu dari seorang teman Korea yang kukenal melalui situs jejaring pertemanan. Arti nama itu adalah ‘blessed child’, anak yang diberkati. Artinya bagus, kan? Aku suka nama itu! Sayang sekali kami sudah jarang berkomunikasi. Umurnya hanya setahun lebih tua dariku,” jelasnya.

   Hello? Apa ada yang bertanya? Aku tertawa lagi. Ternyata, selain bodoh, anak itu juga bawel. “Aku juga punya nama Korea lain; Han Saetbyul. Arti nama itu… tunggu… aku lupa,” ia terdiam sesaat, “Ah! Artinya… kalau tidak salah ingat ‘shiny star’ atau ‘shining star’. Semacam itulah. Aku juga mendapat nama itu dari teman Korea di situs jejaring pertemanan. Kali ini yang memberikan adalah eonni yang sudah kuliah dan mengambil jurusan memasak. Katanya aku anak yang pintar, baik, dan bersemangat. Karena itu ia memberiku nama yang berarti  ‘bintang bersinar’. Jadi, kau bisa memanggilku Euna atau Saetbyul.”

   Mau tak mau, kedua ujung bibirku tertarik ke atas, membentuk senyum tahan ketawa. Maksudnya ingin berusaha menahan tawa. Ia tercenung sesaat dan wajahnya kembali memerah.

   “Mianhaeyo… aku terlalu banyak bicara…” ia menggaruk kepalanya kikuk.

   Dan akhirnya, lepaslah tawaku. Anak ini benar-benar bodoh rupanya. Baru saja tawaku reda, aku mendengar bunyi yang amat kukenal.

   JEPRET! Sesaat kemudian, JEPRET! Suaranya terdengar makin jelas.

   Dan kemudian, aku melihat beberapa orang keluar dari balik semak-semak dan berjalan cepat ke arah kami. Oh sial…! Paparazzi!

   Aku belum siap diwawancara sekarang, difoto, atau apapun itu. “Lari!!!” seruku sambil menarik tangan Euna. Ia terlihat bingung namun menurut saja. Meski awalnya agak sulit, ia akhirnya bisa menjejeri kakiku. Larinya lumayan cepat juga rupanya. Yah… tak mungkin aku meninggalkannya di sana. Mungkin aku bisa bebas, tapi anak ini malah akan ditanya-tanya macam-macam. Kasihan juga… bagaimanapun, ia tidak tahu benar masalah yang terjadi belakangan ini di SM Ent. Aigoo… Repotnya…!

TBC

At least… ini chapter 2-nya😀 gimana? makin pendek? hehehe.. maaf.. saya labil (?) don’t forget to tinggalkan jejak di sini!!🙂

One thought on “She Doesn’t Like the Others (Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s