She Doesn’t Like the Others (Part 3)

Title: She Doesn’t Like the Others (Chapter 3)

Author: newshawol a.k.a Irene

Main Cast: Lee Taemin, Kim Euna (OC)

Support Cast: SHINee, Jung Seorin (OC’s friend)

Length: Sequel (belum tau kapan tamatnya)

Genre: Romance

Rating: PG-13

(Euna’s POV)

   Ada baiknya berlari-lari mendadak. Aku bisa menghilangkan rasa tegangku ketika berkenalan dengan Taemin. Rasanya sangat-sangat sulit menahan diri untuk tidak berteriak: ‘Taeminnie, saranghae~!’. Untunglah, di batas akhir ketahananku, ada bunyi aneh yang membuat Taemin terpaksa harus kabur. Tapi lihat apa jadinya! Jantungku malah berdebar lebih keras! >.< Meski begitu, seperti tadi kukatakan, ini cukup baik. Mungkin debaran yang aku rasakan ini disebabkan karena terlalu lelah berlari.

   Eh, tapi… suara apa itu? Rasanya sudah sering kudengar. Lalu, mengapa Taemin terlihat takut sekali? Ada apa dengan Taemin? Apa mungkin suara itu berasal dari para penjahat? Pembunuh? Perampok? Anarkis? Antis? Apaaa???? Aku memandang anjing kecil yang dari tadi terlihat lemah karena terguncang-guncang. Anjing kecil… bertahanlah!!!

(Taemin’s POV)

   Sungguh melelahkan!!! Rasanya sudah ribuan jam aku berlari! Untunglah gadis di sebelahku ini bukan keturunan kura-kura! Aku memilih beberapa jalan menikung dan bercabang. Sungguh, aku tidak peduli kemana kakiku menuju. Yang pasti, dimana ada tikungan, ke sana kakiku bergerak.

   Dan akhirnya aku merasakan pegangan tangan Euna agak melonggar dan memberat. Kutengok ke belakang, yup! Dia tampak kelelahan dan merah >.< Aku rasa jantungku juga perlu isirahat. Aku mencari-cari keberadaan paparazzi itu. Huh! Tampaknya mereka sudah tertinggal.

   “Geurae … aku… le… lah…” bisik Euna nyaris tak bersuara.

   “Na… do… hhh… hhh…” balasku, tak kalah lunglai.

   Kuperhatikan sekeliling. Dimana ini? Ya ampun, segitu bodohnya kah, aku? Aku bahkan tak tahu ini dimana! Parah! Memang seingatku aku jarang sekali berkeliling menghafal jalan. Bisa dibilang, untuk apa menghafal jalan? Toh, aku tak akan jadi pemandu wisata! Tapi ternyata aku akan tersesat! Dan sekarang aku buta arah!

   “Taman apa ini?” tanya Euna, memandang sekeliling.

   Oke, kami ada di sebuah taman… yang agak suram. Tamannya kecil dan kosong; maksudku tak ada pengunjung. Sepertinya ini memang taman biasa yang tak terawat. Tapi ada kursi kayu yang agak panjang di sudut taman.

   Dengan cepat aku melangkah menuju kursi itu. Kayunya masih terlihat kuat dan tidak lapuk. Perlahan, aku mencoba duduk di kursi itu. Berhasil! Kursinya tidak langsung ambruk! Dan rasanya nyaman sekali. Kakiku kuluruskan agar peredaran darahku lebih lancar. Euna datang dan duduk di kursi ini juga. Tapi ia sedikit menjaga jarak. Yah… peduli amat!

   Ia mengelus anjing kecil yang terlihat shock itu. Bulu anjing itu terlihat halus dan berwarna coklat tua. Matanya hitam, bulat, dan wajahnya sungguh minta dikasihani. Anjing itu mendengking pelan dan menggosokkan tubuhnya ke tangan Euna dengan manja.

   “Itu anjingmu?” tanyaku akhirnya.

   Euna menoleh dan mengangkat alisnya, “Hmm?”

   Ternyata selain, bodoh dan bawel, dia juga sedikit tuli. “Itu anjingmu?” tanyaku lagi, dengan suara jauh lebih keras.

   Ia meringis kikuk dan menggeleng, “Aniyo… ini milik teman baruku. Ia anak pemilik penginapan yang kutempati. Ia memberi harga murah padaku dan temanku dengan syarat kami harus merawat anjing ini selama tinggal di Korea. Teman Korea-ku menemukannya di pinggir jalan dan ingin merawatnya. Tapi malah aku yang repot.”

   “Jadi ini anjing hasil pungutan?”

   “Mwo? Ah… jangan bilang hasil pungutan… dia ditemukan, bukan dipungut. Kesannya jelek sekali…”

   Aku angkat bahu, “Sama saja, kan? Jadi, siapa nama anjing itu?”

   “Aku sudah punya ide… tapi masih agak bingung…”

   Aku berpikir sejenak. “Bagaimana kalau Rider? Atau Blitz? Jjuman? Daesung? Baejook? Christian? Michael?”

   Ia tertawa penuh semangat, “Babo-ya!” serunya. Ia bahkan mengatai aku bodoh?-__- “Rider atau Blitz itu nama pasaran. Kalau Jjuman atau Baejook itu agak tua. Daesung, Christian, dan Michael seperti nama artis! Tidak pantas untuk nama anjing!”

   Aku mengerutkan alis, “Lalu apa?”

   Ia meringis lagi, “Dari kemarin sebenarnya aku ingin memberi dia nama Taemin!” ia terkikik malu.

   Mwo??? Taemin??? Namaku??? “MWOYA??? Itu kan namaku! Apa bedanya dengan Daesung, Christian, dan Michael? Kan itu nama artis juga…!” seruku tak setuju sambil memasang wajah cemberut.

   Ia tertawa lagi. “Tapi nama itu cocok untuk anjing ini. Pemilik nama Taemin haruslah keren, lucu, menarik, dan menyenangkan. Anjing ini memiliki semuanya! Lihat matanya… menggoda sekali, bukan?”

   “Woof!” anjing itu menyalak bahagia seakan ingin berkata, ‘kita kembaran, hyung!’

   Aku mencibir. Jahat sekali menyamakan aku dengan anjing. Pakai alasan kesan dari nama itu segala! Keren, lucu, menarik, dan menyenangkan? Anjing ini? Huh!

   Eh, tunggu… namaku juga Taemin, kan? “Kalau begitu, aku pun adalah orang yang keren, lucu, menarik, dan menyenangkan, bukan? Ditambah lagi, aku ini pintar dan manly. Benar, kan?” ujarku asal.

   Ia tersenyum, masih mengelus anjingnya, “Memang!” jawabnya penuh semangat.

   Mmm…

   Hhh?

   Apa benar?

   Keheningan sesaat itu sepertinya dirasakan juga oleh Euna. Ia segera menoleh dan meringis, “Maksudku, semua artis juga begitu, kan?” ujarnya kaku.

     “Kau penggemar beratku juga?” tanyaku asal. Kalimat itu meluncur begitu saja.

    “Eo?” ia terlihat kaget sesaat. “Bagaimana, ya? Sebenarnya aku paling suka Lee Donghae dan Cho Kyuhyun dari Super Junior. Aku sudah menyukai mereka sejak dua tahun lalu. Sedangkan aku baru tahu mengenai SHINee setahun lalu dan mulai menyukai member-membernya sejak setengah tahun lalu. Dan yah… kurasa kau memang member yang paling menarik!”

   Deg! Banyak orang mengatakan aku menarik. Tapi cara ia bicara agak berbeda. Wajahnya terlalu polos dan tenang. Kebanyakan orang akan menjerit-jerit bila bertemu SHINee. Tapi ia mengatakan semua itu seakan aku tidak ada di disini. Seakan member SHINee tidak ada di sini. Entahlah, itu malah lebih berkesan menurutku… Aduh…!!! Apa lagi ini?!?! Otakku mulai kacau. “Menarik apanya?” rasa ingin tahuku tergelitik.

    “Eo? Mm… kau seperti wanita…” jawabnya ringan.

   Nah kan… aku paling sebal kalau dibilang seperti itu.

   “Kau menarik dan mengagumkan. Melihatmu menyanyi rasanya bibirku tertarik ke atas, susah berhenti tersenyum. Kau terlihat diam tapi dibalik itu kau memancarkan aura yang menawan.  Kau terlihat santai tapi penuh semangat dan rasa ingin tahu. Kau berbakat dan polos. Kau juga ramah dan tidak menolak berbicara dengan orang asing–penggemarmu. Siapa yang tak tertarik? Bukankah itu definisi wanita yang menarik di mata pria? Kau seperti itu… mangkanya kubilang seperti wanita,” lanjutnya.

   Aku terpaku mendengar penjelasannya. Caranya menjelaskan keren sekali. Meski bahasa Koreanya patah-patah, hatiku tetap melayang dipuji seperti itu. Rasanya, kalau definisi wanita yang menarik memang seperti itu, aku pun mau dibilang seperti wanita. Hahaha >.<

   “Butuh bantuan?” tanya Euna tiba-tiba.

   “Eh? Waeyo?”

  “Kau tersenyum-senyum sendiri. Siapa tahu ada saraf otakmu yang putus… biar kubantu panggilkan dokter…”

   Sial! Dia menghinaku! Aku mencibir dan ia tersenyum puas. Oke, ternyata senyumnya memang tidak buruk kok. Ah! Aku jadi ingat! Kami masih dalam kondisi tersesat. Aku segera merogoh celanaku, mencari letak ponselku. Astaga! Celana ini tidak ada kantungnya! Aku tidak membawa ponsel! Matilah aku!

   “Annyeong haseyo, Ahjussi! Ne, jeoneun Euna-yeyo!” aku segera memutar kepala ketika mendengar Euna berbicara. Ia punya ponsel! “Ne! Di dekat… mm… Dojo’s Bakery, dekat mini market. Ah… molla~” ia cemberut sedikit. “Andwae! Mm? Ne!” ia mengangguk bersemangat. “Dekat toko roti dan mini market, ada gang yang dihiasi patung kelinci. Ne!” ia terlihat makin gembira. “Arasseo! Gamsahamnida, Ahjussi… Annyeong!” dan pembicaraan berakhir.

   “Kau bicara pada pemilik penginapan?” tanyaku langsung.

   Ia mengangguk. “Untunglah… setelah dijelaskan, ia ternyata tahu tempat ini. Aku tinggal tunggu dijemput.”

   Astaga… tinggallah aku di sini… sepi… sendiri… suram… “Mukamu aneh! Agak mendramatisir!” ia tertawa. “Mana ponselmu? Tidak minta dijemput? Atau mau pinjam?” ia meyodorkan ponselnya.

   Aku diam sesaat kemudian meringis malu. Tanganku bergerak perlahan mengambil ponsel itu. “Gomawo!” ujarku. Ia tersenyum lagi. Aku segera menghubungi nomor Key. “Hyung!” seruku bergembira. “Ne! Aku tersesat! Tadi ada paparazzi dan aku langsung kabur! Aishh… molla~… mm? Hmm… ne… Dojo’s Bakery… Mini market… ah! Oke! Gomawo, hyung! Saranghae~!” seruku bahagia, mengakhiri pembicaraan.

   Aku mengembalikan ponsel itu lagi padanya. “Sekali lagi… jeongmal gomawo!” ia mengagguk dan menerima ponselnya. Dan ah! Aku ingat! Aku menelepon ke nomor ponsel Key hyung! Bagaimana kalau nanti Euna membocorkan nomor itu? Bisa gawat!

   “Tenang saja…” ujar Euna tiba-tiba. Ia menyodorkan ponselnya di depan wajahku. Tertera nomor Key hyung sebagai nomor panggilan terakhir. “Aku bukan orang jahat…” lanjutnya lagi. Ia menekan tombol di tengah dan muncul pilihan: DELETE / CANCEL. Ia menekan lagi sekali dan nomor itu terhapus.

   “Eh?”

   Ia tersenyum ringan. “Tenang! Sekarang nomornya lenyap tak berbekas. Aku tak akan mengganggu kalian,” ujarnya masih sambil tersenyum.

   Aku agak tercengang. Ternyata ia memang anak yang baik. Bagaimanapun, siapa yang dengan santainya akan menghapus nomor seorang Kim “Key” Kibum SHINee? Berarti, memang otak anak ini yang agak bermasalah.

   “Bisa bertemu dan berbicara secara pribadi denganmu saja sangat menguntungkan. Aku bahkan belum pernah sekali pun membeli tiket konser. Baguslah aku bisa berkenalan langsung denganmu. Kau bahkan memegang ponselku…” ia tersenyum penuh semangat.

   “Ahahaha… ne…” balasku kikuk.

   Tepat sedetik kemudian sebuah van putih yang agak penyok di belakangnya berhenti di depan kami. Jendela terbuka dan terlihat dua orang gadis melongokan kepala mereka.

   “Eun—“ seruan mereka terhenti begitu melihatku. “Taemin SHINee?!?!?!?!?!” mereka terlihat shock. Bodoh. Harusnya aku sembunyi dulu.

   “Annyeong haseyo…” sapaku sambil membungkuk. Kedua gadis itu menjerit kegirangan.

   “Aku juga ingin menjerit sih… tapi di rumah saja sebaiknya…” ujar Euna dengan senyum jahilnya. Ia membuka pintu, naik, dan melambaikan tangan. Mobil mulai bergerak perlahan. “Gamsahamnida, Taemin oppa!!! Saranghae~!” serunya kencang.

   Deg!

   Aku selalu tidak tahan dengan kata indah tersebut. Apalagi kalau teman sendiri yang mengucapkannya. Bagaimana pun, Euna sudah menjadi temanku, kan?

   TIN TIN! TINNN! Klakson mobil terdengar keras. Aku menutup kuping dan menoleh. Itu mobil milik Minho. Ia mengeluarkan kepalanya dari jendela. “Kau terpikat atau malah jijik?” tanyanya.

   “Eh?”

   “Kau bahkan tak sadar mobil ini sudah di sini beberapa saat setelah van itu datang. Apa yang kau pikirkan, sih? Gadis gemuk itu?” tanya Minho setelah aku masuk mobil.

   “Mm…” agak jahat kalau terus terang bilang dia gemuk. Terdengar agak jelek. “Hyung ini! Sudahlah, lupakan saja!”

   “Teman baru? Tanya Jonghyun hyung tiba-tiba.

   “Atau penggemar? Agak berbeda ya, dari gadis lain…” tambah Onew.

   Aku mencibir, “Lupakan saja. Itu hanya teman baru. Cepat kita pergi!”

   Minho tertawa mendengarnya, “Arasseo!” ia mulai menjalankan mobil.

   “Wajahmu merah…” ujar Jonghyun.

   Eh?

   “Uwa~ ada apa ini?” goda Key hyung. Tampaknya, ia memang mendadak gila. “Ah… kau memang banyak penggemarnya! ‘Gamsahamnida, Taemin oppa! Saranghae~!!!!” seru Key menirukan Euna, dengan wajah yang menjijikan. “Taemin-ssi sudah dewasa!” serunya lagi. Aisshhh…!

TBC

Gimana? Udah aku panjangin dikit~ hahaha.. maaf ya, ceritanya udah mulai bikin ngantuk, mata merah, hidung gatal, tenggorokan perih… halah… please give me your footstep or oxygen so I can fix my mistakes😀 gomawo!!! *bow*

2 thoughts on “She Doesn’t Like the Others (Part 3)

  1. huehehehehe.. makasih ya, udah mampir dan ninggalin jejak :’) *terharu* *terisak* *guling-guling* (?)
    hahahaha.. iyaaaaaaaaa.. silakan…………… terusin❤❤❤ hehehehe.. wuahhhhh.. kamu flames :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s