She Doesn’t Like the Others (Part 5)

Title: She Doesn’t Like the Others (Part 5)

Author: newshawol a.k.a Irene

Main Cast: Lee Taemin, Kim Euna (OC)

Support Cast: SHINee, Jung Seorin (OC’s friend)

Length: Sequel (belum tau kapan tamatnya)

Genre: Romance

Rating: PG-13

 

(Taemin’s POV)

Entah apa yang aku pikirkan, tapi aku benar-benar mengajak Euna jalan-jalan. Padahal kita hanya teman baru yang belum saling kenal dengan baik. Dan lagi, saat ini sedang hujan! Aku terus bertindak tanpa berpikir, seakan aku menyukai tindakkanku itu.

“Bagaimana kalau kita pergi ke Taman Ria saja?” usulku. Lagi-lagi kalimat itu terlontar tanpa dapat kukendalikan.

“Hm?” Euna menoleh dan berpikir sejenak. “Taman Ria? Hujan-hujan begini?”

Nah kan, aku lupa sedang hujan -.- “Ne… malah bagus. Taman Ria akan sepi kalau hujan. Balli!” ajakku. Hanya itu alasan yang ada di otakku.

Kami bergegas menaiki bus. Dengan cepat kami menjadi pusat perhatian. Awalnya aku agak panik, takut ketahuan. Tapi setelah kupikir lagi, mungkin mereka hanya bingung melihat pasangan gadis asing gemuk bersama pria lusuh yang kencan di tengah hujan dengan naik bus.

Akhirnya setelah berjuang melawan padatnya penumpang bus, kami tiba di Taman Ria. Benar saja, taman itu SANGAT sepi. “Kaja! Ini kesempatan kita!” ajakku.

Euna mematung di tempatnya dan meringis, “Kau bawa uang? Aku tidak bawa cukup uang…”

Aku tergelak. “Tak mungkin aku membiarkanmu bayar sendiri! Ini kan ideku. Ayo!” balasku di sela tawaku. Aku segera menariknya dan menuju loket.

Ia terkikik dan bergumam pelan, “Neomu kwiyeopda~!” Wajahnya terlihat gemas dan ia menepuk-nepuk pundakku senang.

Aku menepis tangannya jengkel. “Tega sekali kau mengatai aku ‘kwiyeopda’ dengan wajah seperti itu. Aku ini MANLY!” tukasku.

Ia tertawa lagi, “Ara~”

Selanjutnya, atas usulan Euna, kami menuju loket Roller Coaster. Menurutnya, wahana ini adalah wahana pemanasan. Kami menitipkan payung kami dan menaiki keretanya. Hanya ada kami! Yah… orang bodoh mana yang nekat naik wahana mematikan begini di tengah hujan??

Kereta mulai bergerak perlahan. Aku melantunkan doa agar selamat. Sedangkan Euna tampak senang bukan main. Hidungnya sampai kembang-kempis begitu. Sontak saja tawaku pecah.

“Aigoo~ ini pertama kalinya aku naik Roller Coaster!!” serunya sambil memegangi rambut ikalnya yang tertiup angin.

“Jeongmal? Aku sudah pernah, dan langsung mual. Kali ini kalau aku muntah, kau yang tampung!” balasku iseng dengan seringai lebar.

Ia mencibir, “And-DWAEEEEEE~!!!” jawabannya berubah menjadi jeritan, karena kereta mulai meluncur tajam.

Menikung… berputarrr… menikung lagi… menanjak cepat… terjun lagiii…

“AHHH~!!!” aku ikut-ikutan berteriak. Dengan susah payah aku menahan topi dan wig-ku agar tidak terbang. Akibat kecepatan kereta, air hujan jadi terasa menampar-nampar wajahku.

“WHOAAA~!!!” Euna menjerit lagi pada tikungan ketiga, ketika kereta dalam posisi miring 91 derajat. Dan yah… teriakanku juga tak kalah nyaring.

Akhirnya… selesai… Mataku berputar. Perutku bergolak. Rasanya ingin kumuntahkan lagi teh blackcurrant buatan Key hyung tadi.

“Parah. Sungguh parah. Tapi memuaskan!” Euna tersenyum puas dalam posisi membungkuk. Aku yakin, semua isi perutnya juga nyaris keluar.

“Baiklah. Sekarang giliranku. Aku mau naik itu!” seruku sambil menunjuk wahana Flying Dutchman; perahu besar milik Flying Dutchman yang diayun-ayun.

Lagi, perut kami terkocok. Perahu itu diayun SANGAT cepat! Dan berkal-kali! Maju… mundur… maju… mundur… AHHH!!! Hentikan~ Hentikan dulu sebentar~ Aku mau muntah~~

“Mphh…” Euna membungkuk cepat begitu turun dari wahana itu.

Aku menatap gadis gembul itu. “Kau mau muntah?” Yah… aku sediri saja mau muntah.

Ia mendongak dengan wajah kuyu dan mengangguk. Tapi sedetik kemudian ia bangkit dan bergumam yakin, “Ini baru yang kedua. Lanjutkan!”

Aku tak kuasa menahan senyum melihat tingkahnya itu. Rasa mualku mendadak berkurang. “Coba naik Crazy Swing (*semacam Untang-Anting di DUFAN) saja!” usulku.

Euna menoleh ke arah wahana yang kumaksud. “Ah… Joha! Pasti agak menenangkan.”

Tapi ternyata ini tetap pilihan yang salah! Meski putarannya tak terlalu kencang, dalam keadaan begini, tetap saja menambah mual. Apalagi topi, wig dan celanaku sudah basah. Rasanya jadi dingin sekali.

Berbeda dengan Euna yang tampak sangat menikmati. Ia menoleh dan meingis, “Lumayan… pendinginan…”

~ ~ ~

“Aigoo…” desahku begitu bokongku menyentuh kursi kafe. Setelah menaiki total 5 wahana gila—Roller Coaster, Flying Dutchman, Crazy Swing, Arung Jeram, dan Indiana Boat (*sejenis Niagara-gara di DUFAN)—aku bisa istirahat di tempat aman. Aku sendiri heran, kami berhasil bertahan tanpa memuntahkan suatu apapun.

Euna ikut menghempaskan tubuhnya ke kursi. Ia menatapku dengan mata sayu, “Eomo~! Kau basah sekali~ Dingin tidak? Aishh… Taemin oppa… Jeongmal mianhae~” wajahnya tampak menyesal.

Aku tersenyum, “Gwaenchanha. Kau juga basah semua!” Ya… jaketnya, jeans-nya, dan bahkan rambut ikalnya terlihat tidak begitu ikal lagi. “Kau pakai ini saja,” ujarku spontan seraya melepas dan menyodorkan mantelku.

Ia menggeleng, “Jangan. Nanti kau yang basah.”

“Pakaianku masih kering.  Basah sedikit tak apa. Kau pakai ini saja. Bagian dalamnya masih kering kok! Lagipula ini ukuran pria, pasti muat,” aku bersikukuh dan terus menyodorkan mantel itu, “Pria sejati tidak takut basah. Ambil ini!”

Ia menatapku ragu dan tersenyum kecil. Akhirnya dengan gerakan perlahan ia mengambil mantel itu. “Jeongmal gomawo!” ujarnya dengan suara halus. Ia membungkuk dalam-dalam.

“Cheonma… huatchi!!!” Astaga… aku bersin. Flu? Selemah itukah aku?

“Aduh… kau jadi flu… mianhae oppa…” Euna kembali memasang wajah menyesal. “Ah… kau pesan kopi saja. Setidaknya akan menghangatkan tubuhmu.”

Aku mengangguk dan bagkit berdiri. “Kau mau pesan apa?”

Ia malah tercengang. Sesaat kemudian ia tersenyum penuh semangat, “Es krim!”

“Es krim?”

“Ne!”

Akhirnya aku memesan kopi, es krim cone, dan 2 buah donat. Euna menggigit donatnya dengan penuh semangat. “Ah, Taemin oppa! Ayo kita naik… mm… Biang Lala!” ia mengucapkan sesuatu dengan bahasa yang tak kukenal.

Biang Lala?”

Ia meringis, “Apa bahasa Koreanya, ya? Hmm… itu! Naik itu!” ia menunjuk ke luar.

Aku menatap ke luar, melihat sesuatu yang ditunjuknya. A~ maksudnya Biang Lala. “Oh… itu Biang Lala. Mm… Ya! Kau mau menggodaku?” candaku.

Ia tampak terkejut. “Aniyo! Geunyang… mm… ini kenang-kenangan! Jarang-jarang aku pergi ke Taman Ria. Apalagi di Korea! Kau tahu, mungkin saja kita tidak bisa bertemu lagi, bukan?”

Melihat wajahnya yang merah begitu membuatku tak tega untuk menolak keinginannya. “Ara,” ujarku seraya membungkus sisa donat dan bangkit berdiri. “Kaja!”

Ia mendongak bingung. “Eh?”

“Aishh… kau sendiri yang minta naik Biang Lala!”

Ia menepuk keningnya dan ikut berdiri. Ia juga membungkus donatnya dan menyiapkan payungnya. “Mana payungmu?”

Astaga! Aku lupa payungku! Aku tersenyum hambar, “Mmhh… ketinggalan… di wahana Roller Coaster…”

Ia tergelak, “Gurae… kita naik Biang Lala, lalu ambil payungmu. Kita pakai payungku saja.”

Akhirnya kami menuju wahan itu dengan posisi aku memgang payung; memayungi kami berdua, dan cankir-kertas kopi. Euna memegang bungkusan sisa donat dan terus menjilati es krim cone-nya.

“Wuahhh! Puasnya~!!” seru gadis di hadapanku semangat, ketika kami sudah berada di dalam wahan ini. “Ini juga merupakan pengalaman pertama naik Biang Lala! Di Korea! Bersama Taemin!!

Aku menggigit donatku, “Berbahagialah. Kau wanita pertama—selain ibuku—yang naik Biang Lala denganku!” ujarku, bahkan ikut menyebut Biang Lala dengan bahasa asing itu.

Wajahnya memerah lagi, “Ne! Nan… Jeongmal haengbokhanda! Gomawo!” ia tersenyum.

Magnet.

Aku  ikut tersenyum bagai terkena magnet. Pria mana yang taha melihat senyum tulus wanita? Sejelek apapun, segendut apapun, sebawel apapun, kalau seorang wanita tersenyum tulus sepenuh hati, pasti terlihat manis.

“Kau tersihir, tidak?” pertanyaan Euna memecah lamunanku.

“Mwo?” aku mengerutkan kening tidak mengerti.

Ia mencibir, “Ah~ padahal aku sudah berusaha terlihat manis. Tapi tampaknya kau tidak terpengaruh.”

“Eo?”

“Bercanda!” ia terkekeh dan menggigit donatnya lagi.

Babo! Dengan santainya ia berkata begitu tanpa tahu pengaruhnya. Pipiku terasa memanas. Aku memang tidak menyukainya secara spesial, tapi kata-katanya tadi terlalu… aisshh! Orang cuek seperti apapun pasti akan kaget dibuatnya.

“Taemin oppa?” panggilnya.

“Hm?”

“Boleh tidak, kupanggil ‘Taemin’ tanpa ‘oppa’?”

Haduh! Terus terang sekali! Aku menggigit donatku kikuk, “Hm. Terserah saja.”

Ia tersenyum senang, “Taemin-ssi…”

“Hm?”

Ia menggeleng pelan, “Hanya mengecek.”

Nahkan!

“Taemin-ssi…”

“Apa lagi?”

Can I take a picture with you?” pintanya dalam bahasa Inggris, “The last. This is the last. For today. Aku tidak tahu kapan bisa bertemu lagi denganmu.”

“Mphh…” hampir saja kumuntahkan donat ini. “Kau kan bisa datang ke konserku. Atau… apalah…”

Ia menggeleng pelan, “Aniyo. SME pasti jera mendatangkanmu ke negaraku. Dan kalaupun kau konser, tiketnya pasti mahal. Lagipula orang tuaku tak akan mengizinkan. Karena itu… You will take a picture with me, won’t you?”

Aku tertegun mendengar perkataan halusnya. Ia mengucapkannya begitu penuh perasaan. Sebagai artis professional, aku bisa membedakan mana yang serius butuh, mana yang hanya ingin saja.

Aku mencondongkan tubuhku; mendekat padanya. Tapi ia malah tertegun. “Mwoya? Kita duduk berhadapan, jadi harus dalam posisi seperti ini,” jelasku.

Ia mengangguk pelan dan menyiapkan kamera ponselnya. Ia ikut mencondongkan tubuhnya sedikit dan mengambil gambar. “Ahhh…” desahnya begitu melihat hasil potetnya. “Wajahku besar sekali, kepalamu hanya terlihat setengah begitu!” ia mendesah lagi, “Lagipula…”

Ia kembali tertegun ketika aku secara tiba-tiba pindah ke sampingnya. “Ha!” ujarku.

Ia tersenyum kaku dan menunjuk kepalaku—wig-ku. Oh iya, aku dalam kondisi menyamar. Dengan cepat aku menanggalkan semua penyamaranku dan ia kembali memotret. Kali ini hasilnya cukup memuaskan.

“Gomawo, Taemin-ssi!” ia berseru riang, masih menatap hasil potretnya.

“Cheonma… huatchi!!!” lagi-lagi bersin.

“Tampaknya kau benar-benar flu… Gwaenchanhayo?” Euna kembali khawatir.

Aku mengangguk menenangkannya, “Gwaenchan… hatchi!” dan kembali bersin. Tapi sudahlah, hari ini sudah cukup menyenangkan. Flu sedikit juga tak apa.

TBC

(Ahhh… akhirnya selesai sampai part 5 :D Gimana?? Masih ga jelas dan bikin bosen? Maaf banget… hehehe… ada bahasa Korea yang aneh?

Ara/Arasseo=mengerti, Eoddeokhae=apa yang harus kulakukan, Mianhae=maaf, Aigoo=astaga, Nugu=siapa, Jeongmal&Jinjja=benarkah/benar-benar, Ne/Ye=iya(inf/form), Gomawo=makasih, Ya=hei, Cheonmaneyo=sama-sama, Gwaenchanha=baik-baik saja, Babo=bodoh, Saram=orang, Mwo=apa, Wae=kenapa, Oppa=kakak (perempuan ke laki-laki), -ssi=partikel panggilan Korea yang menyatakan rasa hormat.

Ga ada yang sulit kan? Kalian sih pasti udah pada afal ;D Hahaha… oh iya, jangan lupa.. give much and much Oxygen ;*

2 thoughts on “She Doesn’t Like the Others (Part 5)

  1. hahahaha.. iya.. author badannya gede sih.. jadi boros oksigen :p huehehehehe.. makasih gasnya.. alhasil.. badan author malah menggelembung (?) huahahaha
    ayo ikutttt (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s