She Doesn’t Like the Others (Part 7)

Title: She Doesn’t Like the Others (Part 7)

Author: newshawol a.k.a Irene

Main Cast: Lee Taemin, Kim Euna (OC)

Support Cast: SHINee

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: PG-15

Summary: Seorang gadis remaja yang gemuk dan merasa dirinya jelek (Kim Euna) berlibur ke Korea bersama temannya, sekaligus mencari beasiswa agar bisa sekolah di sana. Namun tak sangka, ia malah bisa bertemu dengan salah satu idolanya, Lee Taemin (SHINee).

Warning: Bukan warning sih… hanya saja… mm… FF ini pernah kirim ke SF3SI, tapi belum di publish. Jadi, ini bukan plagiat!😀

 

(Taemin’s POV)

   Aku melirik gadis itu untuk yang kesekian kalinya. Mulutku masih mengunyah perlahan. Pada akhirnya kami hanya memesan sup delivery. Euna sendiri tidak memesan apa-apa. Jadilah, aku makan sendiri, ia menonton TV.

   “Uhukk!” aku terbatuk keras. Dengan bodohnya aku tersedak di saat seperti ini. Bikin malu!

   Euna menoleh dengan cepat dan bergegas mengambilkan minum. “Hati-hati,” hanya itu yang diucapkannya.

   Dengan masih sedikit terbatuk, aku meminum air itu. Cairan bening itu mengalir di tenggorokkanku. Dingin. Astaga… “Ya! Kau mau membuat sakitku makin parah?”

   “Eo?” ia menoleh bingung.

   Aku mengacungkan gelas itu, “Kenapa kau beri aku air dingin begini?”

   Ia tersentak dan menepuk keningnya. “Aishh.. babo! Mianhae Taemin-ssi, aku lupa. Habis, air dingin itu favoritku,” ia meringis dan mengambil gelasku, hendak menggantinya.

   Namun dengan cepat aku menahan tangannya. Entah apa yang kupikirkan, tapi ada firasat ia akan pergi jauh. Ia menatapku bingung. Sejenak pandangan kami beradu. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Hanya menatap. Menatap mata coklatnya yang besar.

   Tampaknya Euna juga merasakan keheningan ini. Ia menarik tangannya perlahan dan meringis, “Mwo?”

   Aku berkedip-kedip canggung dan berdehem, “A-Ani…”

   Ia meringis lagi dan segera menuju dapur. “Mm… Kim Euna!” panggilku.

   “Ne?” ia menjulurkan kepalanya dari balik pintu dapur.

   “Eh… Ehm… Kau agak kurusan, ya?”

   Ia tertawa mendengarnya. “Jahat!”

   Aku meringis, “Sungguh. Aku bukan tipe orang yang suka menyanjung tanpa kenyataan yang benar. Aku serius.”

   Ia keluar dari dapur, membawa segelas air untukku. “Hm… yah… di penginapan aku makan cukup banyak, tapi makanannya mengandung sayur semua!” ia terkekeh, “Sebelumnya aku sangat benci sayur. Karena itu, sejak di sini, pencernaanku semakin baik.”

   Ia tertawa mendengarnya, “Joha! Kalau kau langsing betulan pasti manis!”

   Aku tersentak sendiri mendengar ucapanku. Apalagi Euna. Keningnya berkerut bingung dan matanya terbelalak. Hening lagi, canggung lagi. Belakangan ini tampaknya aku terikat dengan suasana seperti ini.

   Tapi Euna terlihat lebih ahli dalam urusan mencairkan suasana. Ia terkekeh dan angkat bahu. “Yah… kau orang ke sejuta satu yang bilang itu padaku.”

   Kali ini keningku yang berkerut, “Sejuta satu?”

   Ia terkekeh lagi, “Ne. teman-temanku selalu bilang begitu. Tampakanya mereka hanya punya satu alasan agar aku mau diet. Katanya aku akan terlihat manis. Padahal mereka sudah tahu kalau aku tak peduli begituan. Menguras tenaga saja,” ia mendengus. Namun selanjutnya ia kembali tersenyum, “Hajiman… kalau Taemin yang bilang begitu, aku merasa tersanjung!”

   Aku menatapnya bingung. Kaku. Canggung. Aishh… yeoja babo! Terus terang sekali!

   “Taemin-ssi!” panggilnya. Ia mengambil posisi duduk senyaman mungkin di sofa.

   “Mm?”

   “Kau ini pecinta nuna?”

   “Mwo?!”

   Ia meringis melihat keterkejutanku. “Ahaha… m-maksudku… kau hanya suka pada nuna-deul? Tipemu itu seorang nuna? Karena seingatku kau amat perhatian pada SHAWOL nuna-deul.”

   Ah… aku mengerti. “Mm… bagaimana ya? mungkin karena aku tergolong muda—tidak seperti SuJu hyung, banyak penggemar yang lebih tua dariku. Karena itu, aku juga memperhatikan para nuna. Tidak adil kan, kalau hanya dekat dengan fans sebaya? Aku pribadi suka-suka saja. Baik dongsaeng, seumuran, maupun nuna, selama dapat merebut hatiku, kenapa tidak?”

   Ia menggangguk-angguk mengerti. “Taemin-ssi!” panggilnya lagi.

   “Mm?”

   “Kau sudah sehat?”

   Bagaimana ya? Entah sejak kapan, rasa pusingku mulai hilang. Aku juga mulai merasa ringan. Bahkan aku makan cukup banyak tadi. “Kurasa begitu,” jawabku akhirnya.

   Ia mengangguk-angguk lagi, lalu kembali fokus menonton TV. Aku yang bingung harus berbuat apa memilih merapikan bekas peralatan makanku dan meletakkannya ke bak cuci piring. Tampaknya yeoja yang satu ini tak berminat untuk membantuku.

   Dasar yeoja cuek! Apa sih yang ditontonnya? Sampai senyum-senyum begitu. Aku ikut duduk di sofa dan menatap TV itu. Ah~ SuJu hyung sedang perform di MuBank.

   “Kau benar-benar penggemar berat SuJu?” tanyaku.

   “Mm!” ia mengangguk, masih fokus pada TV. Mulutnya sesekali ikut melantunkan lagu Mr. Simple itu.

   “Siapa member favoritmu? Aku lupa.”

   “Donghae!” ia menjawab yakin. Caranya menyebut ‘donghae’ lucu sekali. Tidak seperti orang Korea. Lafal huruh ‘H’ dan ‘D’-nya amat kental. Di Korea, nama Donghae dibaca cepat sehingga terdengar seperti ‘Tong-e’. Tapi yeoja ini menyebutnya ‘Dong-he’.

   “Whuaa!” ia sedikit memekik ketika penampilan SuJu berakhir. Bibirnya masih saja menyunggingkan senyum. “Donghae oppa keren sekali~!!!”

   “Lebih keren daripada aku?”

   “Ne! Beda jauh!” ia terkekeh, “Di negaraku, tiap kali temanku menanyakan orang yang kusuka, pasti kujawab ‘Donghae’. Kalau mereka menanyakan orang yang kucintai, pasti kujawab ‘Nampyeon masa depanku, Donghae’,” Ia terkekeh lagi dengan wajah yang mulai bersemu merah. “Donghae oppa neomu johahaeyo!”

   Begitukah?-_- Parahnya, aku mendapati diriku tidak menyukai kenyataan itu. Sebagus itukah Donghae hyung? Padahal seingatku, sifat kami tak beda jauh. Wajahku juga tak kalah keren. Suaraku manly sekali. Dance-ku apalagi. Lalu apa? Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Gila! Kenapa aku bisa aneh begini?

   “Waeyo?” tanya Euna. Ia menatapku bingung.

   Aku meringis salah tingkah. “Aniyo. Lanjutkan saja menontonnya!”

   Ia angkat bahu dan kembali menonton. Ia langsung bersemangat ketika melihat BEAST di TV. Dia juga suka BEAST? Siapa biasnya? Jangan bilang, si cute Yeosob yang bersuara indah itu? Aku mencibir kesal.

   “Mm… Taemin-ssi!” panggilnya tiba-tiba.

   Aku segera menormalkan posisi bibirku. Untung saja ia tak melihat. “Mm… Ne?”

   “Aku tiba-tiba berpikir mengenai suatu hal…”

   “Mm? Apa itu?”

   “Ciuman pertamamu benar-benar kau berikan pada robot?” tanyanya. Matanya masih fokus melihat penampilan BEAST.

   “Hmm… iya!” aku terkekeh. “Tapi sebenarnya itu kan main-main. Ciuman yang sesungguhnya harus dengan wanita asli. Jadi… aku belum pernah.”

   “Hmm…” ia manggut-manggut, masih menatap TV.

   “Kau sendiri? Ciuman pertamamu kau berikan pada siapa?”

   Ia menggeleng, “Eobseo…”

   Tidak ada? Belum pernah? Wuah… ia masih bersih(?)! “Ingin kau berikan pada siapa? Donghae hyung?” lagi-lagi nama itu. Babo! Untuk apa kusebutkan? Ck!

   Ia kini menoleh dan menatapku. “Donghae oppa? Ah… amin!” ia terkekeh. Amin? Ia serius? “Kalau Donghae oppa adalah suamiku nanti, maka ciuman pertamaku akan kuberikan padanya.”

   “Eo?”

   “Yah… ciuman pertamaku hanya akan kuberikan pada namja yang menikahiku nanti, di altar pernikahan, setelah melantunkan janji suci.”

   Kening berkerut, “Tapi zaman sekarang ciuman itu lazim. Hal umum. Malah aneh kalau tidak melakukannya.”

   Ia terkekeh untuk yang ke sejuta kalinya. “Jeongmal?” ia berpikir sesaat, “Aniyo… aku tidak mau menjadikan ciuman sebagai pemuas hawa nafsu. Maksudku… ya… begitu… aku juga tidak ingin sama dengan orang lain. Lagipula kalau benar-benar cinta, kita tidak akan menuntut apapun. Jadi, tidak ciuman juga tidak apa-apa.”

   “O…” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

   “Waeyo? Aku terlihat aneh? Atau malah keren?” ia mulai menyunggingkan senyum percaya dirinya.

   “Aniya! Kau yang mulai!” balasku, “Ah… jangan-jangan kau yang yang tertarik padaku, sampai-sampai membahas tentang ciuman. Suka? Kau suka padaku, kan?”

   Ia tersenyum lebar, “Ne! Neomu neomu joha!” jawabnya bersemangat.

   Aku mati kutu lagi. Aku yakin wajahku telah seutuhnya menjadi tomat. Rambutku bagai jamur, wajahku bagai tomat… lengkap sudah.

   “Siapa yang tidak menyukaimu, Taemin? Apalagi para Taemints!” tambahnya. “Aku juga cinta mati pada Donghae oppa, seperti penggemarnya yang lain.”

   Aku terdiam dan tersenyum… pahit. Entahlah… rasanya tidak enak didengar. Maksudku bukan suka begitu. Yang aku maksud itu suka sungguhan sebagai pri… tunggu! Apa tadi aku berharap Euna benar-benar menyukaiku? Ahhh!!! Gila!!!

   “Aku mau mandi!” aku bangkit, salah tingkah akibat pikiranku sendiri.

   “Eo! Kau kan masih tak enak badan!” ia berusaha menahan.

   Tapi aku sudah terlanjur kesal dan malu. “Ani! Aku sudah sembuh!” dan dengan cepat, aku berjalan menuju kamar mandi. Babo yeoja!!

~~ @ ~~ @ ~~

(Key’s POV)

   “Apa yang kau lakukan di sini, Mihyun-ssi?” tanyaku kaget. Apa yang dilakukan yeoja itu di ruang dokumantasi Soo Man Ahjussi?

   “Mm… a… mmm…”

   Ia belum sempat menjawab karena pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Soo Man Ahjussi masuk ke dalam. “Ah! SHINee!” serunya. Sesaat kemudian matanya tertuju pada Mihyun. “Aigo… Mihyun-ah? Ada masalah apa? Kenapa kau di sini?”

   “Eh??” kami berlima—aku, Minho, para hyung, dan manajer—berseru kaget. “Anda mengenalnya, Ahjussi?”

   Ia tertawa dan berjalan mendekati Mihyun, kemudian menepuk-nepuk pundak yeoja itu. “Perkenalkan, ini adalah salah satu keponakanku, Jung Mihyun.”

   “Keponakan???” kami berlima terkejut. SANGAT.

   “Ye. Saya ini 3 bersaudara. Sunny adalah anak dari adik laki-laki saya, dan Mihyun adalah anak dari adik perempuan saya.”

   “M-Mwo???” Kami benar-benar tak kuasa menahan pekikkan kaget.

   Soo Man Ahjussi tertawa lagi. “Nah, Mihyun, apa yang kau lakukan di sini?”

   Yeoja itu terlihat panic. Tangannya bergerak-gerak tak nyaman, berusaha melindungin tasnya. Ada apa di tas itu? Benda apa yang ia masukan tadi? Berkas? Berkas apa? Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang amis di sini.

   “A-aku hanya berkunjung…” balasnya kaku.

   “Berkunjung? Tumben sekali…” Soo Man ahjussi terkekeh. Namun tampaknya ia menyadari kegelisahan Mihyun dan sikap protektifnya terhadap tasnya. “Waeyo, Mihyun-ah?”

   “Ada apa di dalam tasmu?” tanyaku tak tahan. Aku yakin ia telah menyembunyikan sesuatu.

   “Ne! Aku melihatmu memasukkan sesuatu ke dalam tasmu tadi, “ tambah Minho. Ia juga salah satu penegak keadilan rupanya.

   “Mm? Jinjjaro?” Soo Man ahjussi berusaha meyakinkan. Ia melirik ke arah tas Mihyun.

   Yeoja itu mulai panic, “Ani, ani! Tidak ada apa-apa…”

   “Mm…” Soo Man ahjussi hanya bergumam seraya mengulurkan tangan, hendak meminta tas Mihyun.

   “Ahjussi…” bisik Mihyun lemas.

   “Gwaenchanha. Untuk apa panik? Aku hanya ingin periksa.”

   Mihyun tampak benar-benar pucat sekarang. Butir-butir keringat mulai mengalir di pelipisnya. Dengan tangan gemetar, diserahkannya tas itu.

   Soo Man ahjussi menerima tas itu dan memeriksa isinya. Ada sebuah berkas SME di situ. Soo Man ahjussi membuka berkas itu dan tersentak kaget. “Ige…”

   “Mph! Aku mulai mengerti apa yang telah terjadi,” bisik Manajer. Kami—aku, Jonghyun hyung, Onew hyung, dan Minho—menoleh. “Trouble Maker…” bisiknya Manajer lagi.

   Trouble Maker? Apa maksudnya?

~~ @ ~~ @ ~~

(Taemin’s POV)

   Aku mengenakan celana panjang putih dan kaus biruku. Rasanya segar sekali. Kurasa aku sudah benar-benar sembuh sekarang. Air hangat tadi membuat tubuhku nyaman. Sungguh, baru kali ini aku mandi sampai setengah jam.

   Setelah mengeringkan rambut dan menyisirnya hingga rapi, aku kembali ke ruang tamu. Langkahku terhenti ketika melihat Euna terbaring di sofa dengan posisi lengan kanannya digunakan untuk menutupi matanya. Tidurkah ia?

   Aku mendekatinya perlahan namun ia tak bereaksi. TV masih dalam keadaan menyala; menayangkan wawancara bersama Super Junior. Euna melewatkan acara ini?

   Aku terus mendekatinya dan duduk di bawah, tepat di depan sofa. “Kim Euna…” bisikku, “Ya…! Kim Euna…! Kau tidur?”

   Masih tak ada jawaban. “Kim Euna!” panggilku dengan suara normal. Ia tak bergeming. Dengan hati-hati aku mengangkat tangannya dan meletakkannya ke atas perutnya, dengan begitu wajahnya Nampak jelas sekarang.

   Aku memperhatikan wajahnya baik-baik. Mata bulatnya terpejam, hidungnya bernafas pelan, bibirnya terkatup rapat. Kembali terbersit ingatan-ingatan sebelumnya. Aku merasa seperti di drama-drama, namun ini sungguhan. Entah apa alasannya, tapi mendadak aku mengingat semua kejadian bersamanya.

   Saat pertama kali bertemu, yeoja ini sungguh terlihat babo. Tapi ia sungguh ramah dan pengertian. Ia tidak memburuku dengan berjuta pertanyaan gila. Walau begitu, ia tetap menunjukan sikap antusias yang menyenangkan. Kemudian ketika berkenalan dengannya… ia dungguh polos dan bawel. Dan rupanya, ia adalah pelari yang cukup baik. Lalu caranya menjelaskan makna ‘wanita’ sangat mengesankan.

   Kemudian saat kami ke Taman Ria… jaemisseoseo! Neomu johahaeyo! Dengan penyamaran gila yang aku kenakan, naik wahana pengocok perut, kehilangan payung, naik Biang Lala… entah apa yang merasukiku saat itu, telah membuat jantungku berdegup kencang. Hajiman… aku menyukainya.

   Aku kembali menatap wajah yeoja itu. Sedetik kemudian, sesuatu di dalam rongga dadaku kembali bergolak liar. Itu jantungku. Dan jantungku mulai berdetak lebih cepat, menimbulkan sensasi berbeda. “Ciuman pertamamu benar-benar untuk suamimu?” gumamku, terdengar seperti… penyesalan.

   Kini pandanganku terkunci padanya. Wajahnya. Hidungnya. Matanya. Bibirnya. Dorongan aneh dari dalam diriku membuat tubuhku maju secara perlahan. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Mataku sesekali melirik bibirnya yang terkatup rapat. Astaga… aku tahu ini tidak seharusnya terjadi. Tapi tubuhku tak bisa berhenti bergerak. Dan akhirnya, dengan perlahan, kusapukan bibirku ke bibirnya… lembut… berusaha membuatnya tak terbangun. Rasanya hangat… oh astaga… jantungku benar-benar melonjak sekarang. Baru kali ini aku merasakan perasaan seperti ini. Tidak lama, hanya 3 detik sebelum akal sehatku kembali.

   Aku tersentak dan menarik diriku menjauh. Tanganku reflek menyentuh bibirku sendiri. Debar jantungku masih belum mereda. Kurasakan pipiku memanas. Astaga… apa yang telah kulakukan? Mengapa aku menciumnya?

   Kulihat Euna mengerutkan keningnya—berusaha menahan sesuatu, dan bulir-bulir bening mengalir dari sudut matanya. Ia menangis?? Apa ia sudah terbangun??

   Kedua tangannya bergerak menutupi wajahnya, “Mwo… mwohaneun geoya?” tanyanya dengan suara halus, nyaris berbisik. Kudengar nafasnya mulai bergetar dan air matanya terus megalir melewati pinggir jarinya. Tak lama setelahnya ia bangkit dan menatapku sekilas… dengan air mata masih mengalir, kemudian mengambil langkah seribu menuju pintu—keluar.

   Aku tidak mencoba mengehentikannya, memanggilnya, atau bahkan bangkit berdiri. Aku masih terlalu terkejut melihatnya menangis seperti itu.

   Tepat ketika ia keluar, para hyung-ku masuk dengan wajah bingung. Mereka pasti berpapasan dengan Euna tadi.

   “Wae geurae?” tanya Key hyung, terlihat terkejut.

   Aku menatap mereka lemas dan mengacak-acak rambutku frustasi, “Aigooooooooooo!!!”

TBC

A/N:  PART 7!!!! Demi apapun!!!! Maaf ya… setelah luaaaammmmaaa nggak update, sekarang harus uspate lame chapter kayak gini -_- mianhanda!! Btw, untuk pertama kalinya, aku bikin adegan romance!!! Yeah!!! Maaf ya, ini fail romance banget. Maklum, author sama sekali nggak berbakat di bidang beginian :p hahaha.. oh ya, harap sabar menunggu part 8 yah. Soalnya part itu sebenernya merupakan gabungan part 8 dan 9, tapi aku gabung, jadi SANGAT PANJANG dan lama ngetiknya :p huehehehe.. btw, happy reading!! Oh… and give me much oxygen😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s