She Doesn’t Like the Others (Part 8 – END)

Title: She Doesn’t Like the Others (END PART)

Author: newshawol a.k.a Irene

Main Cast: Lee Taemin, Kim Euna (OC)

Support Cast: SHINee

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: PG-15

Summary: Seorang gadis remaja yang gemuk dan merasa dirinya jelek (Kim Euna) berlibur ke Korea bersama temannya, sekaligus mencari beasiswa agar bisa sekolah di sana. Namun tak sangka, ia malah bisa bertemu dengan salah satu idolanya, Lee Taemin (SHINee).

Warning: Bukan warning sih… hanya saja… mm… FF ini pernah aku post di blog pribadiku yang sepi kayak hutan (?) di https://godsstar.wordpress.com jadi… ini bukan hasil plagiat 

Preview: Kini pandanganku terkunci padanya. Wajahnya.Hidungnya.Matanya.Bibirnya.Dorongan aneh dari dalam diriku membuat tubuhku maju secara perlahan.Kudekatkan wajahku ke wajahnya.Mataku sesekali melirik bibirnya yang terkatup rapat.Astaga… aku tahu ini tidak seharusnya terjadi.Tapi tubuhku tak bisa berhenti bergerak.Dan akhirnya, dengan perlahan, kusapukan bibirku ke bibirnya… lembut… berusaha membuatnya tak terbangun.Rasanya hangat… oh astaga… jantungku benar-benar melonjak sekarang.Baru kali ini aku merasakan perasaan seperti ini. Tidak lama, hanya 3 detik sebelum akal sehatku kembali…

***

   Terik matahari bersinar tanpa henti, membasahi jalanan Seoul yang tak pernah lepas dari hiruk-pikuk kegiatan orang-orang yang menetap di sana. Taemin menggerakan kakinya malas menuju mobil dan membukanya dengan kasar, mengambil beberapa hadiah dari para fans, dan membawanya naik ke dorm.

  “Aku kembali!” serunya lemas seraya membuka pintu dorm.

  Keempat hyung-nya menoleh sesaat, balas menyapa, kemudian kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

  Taemin melangkah masuk acuh-tak acuh. Ia meletakan bungkusan hadiah dari para fansnya asal dan melangkah menuju kamar. Dihempaskannya tubuhnya ke kasur empuk yang baru saja dirapikan oleh hyung-nya. Tangannya berusaha meraih ponsel putihnya dari kantung celana, kemudian ia membuka galeri foto di ponselnya.

   Dilihatnya gadis manis berambut ikal yang sedari tadi memenuhi kepalanya tersenyum manis. Foto itu diambilnya di taman bermain beberapa waktu lalu. Foto yang seharusnya membuatnya tersenyum atau bahkan terkekeh geli, kini malah menjatuhkan mood-nya.Ia rindu senyum itu. Juga tawa renyahnya yang penuh percaya diri.

  Berjuta penyesalan kembali membayangi dirinya.Taemin babo! Kau kehilangan semuanya hanya karena satu hal itu! Hanya karena kau tidak bisa mengontrol diri! Gila!! Rutuknya dalam hati.

  Kejadian tempo hari itu kembali terbersit di benaknya. Rangkaian kejadian yang merusak pertemanannya, membuatnya jauh dari gadis yang kini memenuhi relung hatinya. Ia ingat dengan jelas bagaimana Euna, gadis itu, menangis setelah ia cium. Ia ingat betapa sedih dan kecewanya wajah gadis itu. Hatinya nyeri mengingat itu. Di saat ia mulai mengenali “perasaan” yang menghantuinya, di saat ia mulai bisa menggapai apa yang dicintainya, ia malah menghancurkan segalanya. Hanya dengan kecupan selama 3 detik.

  Taemin mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia ingat bagaimana sosok yang disayanginya itu bergerak menjauh ke dalam bandara, menghilang dari hadapannya, dan entah kapan akan kembali. Atau mungkin malah tak akan kembali.

  Pintu kamar terbuka perlahan dan wajah Onew hyung terlihat mengintip di baliknya. “Taemin-ah… Boleh aku masuk?” pintanya pelan, mengerti keadaan Taemin yang sedang kacau.

  Taemin menoleh sesaat dan mengangguk lemah.Ia memang butuh teman cerita. Tepat setelah ia mempersilahkan Onew hyung masuk, ketiga hyung-nya yang lain ikut mengintil masuk dengan cengiran besar di wajah mereka. Taemin mengedikkan bahu tanda tak keberatan.

  “Bagaimana perjalanananmu ke bandara? Sukses? Kau bertemu dengannya? Sudah diperjelas?” sembur Jonghyun hyung tak sabaran.

  Taemin menghela nafas sesaat. Hari ini ia memang pergi ke bandara untuk mengejar Euna yang terburu-buru kembali ke negaranya tiga hari setelah insiden ciuman itu. Tapi semuanya sia-sia karena Taemin terlambat. Gadis itu sudah masuk ke ruang tunggu pesawat tanpa menoleh, meskipun Taemin telah berteriak memanggilnya.

  “Gagal, hyung.Aku terlmbat,” jawab Taemin singkat.

  “Ia sudah berangkat?” mata Minho hyung melebar.

  Taemin menggeleng. “Sebenarnya ia memang sudah bergerak menuju ruang tunggu. Tapi aku sudah memanggilnya dengan keras—cukup keras sehingga ia harusnya bisa mendengar—bahkan sampai menarik perhatian orang-orang di bandara.”

  “Ia menoleh tidak? Ia kembali? Ia masih marah?” sela Key hyung lebih tidak sabar.

  Taemin kembali menggeleng.“Menoleh pun tidak. Bagaimana mau kembali?” desahnya. “Ia malah mempercepat langkahnya dan tak menjawab apapun. Alhasil, yang datang ke arahku malah fans-fans wanita yang dengan sigap membeli hadiah untukku,” Taemin menunjuk ke luar kamar dengan dagunya. “Tapi aku sedang tidak mood menerima hadiah.”

  Keempat hyung-nya mengangguk mengerti. Mereka bisa merasakan kesedihan maknae mereka itu. Untuk pertama kalinya ia mengenal ‘cinta’, ia malah dihadapkan dengan kasus seperti ini.

  “Hyung…” gumam Taemin, membuat keempat hyung-nya kembali fokus. “Sepertinya aku terlalu banyak menonton film cinta-cintaan, ya? Di film yang kutonton, pasangan-pasangannya selalu berakhir bahagia setelah mereka berciuman.Tapi wanita di dunia nyata yang aku temui malah kabur sambil menangis. Film percintaan itu telah menipuku mentah-mentah hyung. Aku merasa konyol.”

  Keempat hyung-nya tertawa mendengarnya. Taemin memang selalu konyol. Bukan karena film. Tapi memang karena Taemin sendiri terlalu polos dan belum bisa mengontrol diri. “Sudahlah, ini pengalaman pertama. Dengan begini, ciuman pertamamu jadi terasa spesial bukan?” sahut Jonghyun hyung dengan cengiran lebar menghiasi wajahnya.

  Taemin mencibir, “Apanya yang spesial? Ahhh… Aku galau…” Taemin kembali mengacak-acak rambutnya.

  Onew hyung berusaha menunjukkan wibawanya dan menepuk-nepuk lengan Taemin perlahan. “Kalau kau memang jodoh, kalau kau mencintainya dengan tulus, kau pasti bertemu lagi dengannya. Kalian pasti bisa bersatu.”

  Taemin menatap hyungnya sesaat dan mengangguk pelan.Ia harap begitu. Ia harap ia akan memiliki kesempatan untuk memperjelas segalanya. Kalau beruntung, ia malah ingin bisa menghabiskan sisa waktunya bersama gadis itu. Ya… Kalau takdir mengizinkan.

***

   “Apa yang terjadi denganmu?” tanya seorang gadis berambut hitam panjang kepada seorang gadis berambut ikal yang tengah termenung menatap ponsel di tangannya.

   Gadis ikal itu tersentak dan mematikan ponselnya dengan cepat, kemudian menjawab, “Ah… Tidak ada. Memangnya kenapa?”

  Temannya mencibir, “Kau yakin? Kau jadi aneh sejak kembali dari Korea. Kau sedih karena tidak bertemu dengan Donghae oppa? Wajahmu selalu cemberut, seperti kekasih yang ditinggalkan. Dan lihat! Kau bahkan kurusan. Turun berapa kilo? 5? 8? 10? Kau diet?”

  Gadis ikal itu mengerucutkan mulutnya kesal dan mencubit pelan pipi sahabatnya. “Kau tidak tahu apa-apa, jadi jangan macam-macam!” ancamnya sambil mencibir.

Ia kemudian kembali sibuk dengan pikirannya. Berharap semuannya kembali. Berharap saat itu ia tidak kabur dan menangis. Berharap saat itu ia pasrah dengan perasaannya. Perasaan yang tumbuh cukup dalam. Dan kenyataan bahwa ia telah benar-benar jatuh cinta pada pria kurang ajar yang merebut ciuman pertamanya.

Ia harap, setidaknya sekali saja, ia bias bertemu pria itu lagi. Memperbaiki segalanya.

***

1 year later

  Seorang pria berambut coklat terang melangkahkan kakinya keluar dari van hitam yang terparkir rapi di pinggir jalan. Kaca mata hitam bertengger di hidungnya, nyaris menutupi sebagian besar wajahnya. Masker putih dan scarf coklat ikut mengaburkan wajahnya sehingga sulit untuk mengenali sosok di baliknya.

  “Hyung! Kau yakin ini sekolahnya?” tanya pria itu pada pria lain yang ikut keluar dari van.

  Pria tersebut mengangguk. Pakaiannya tak jauh beda dengan pria pertama. “Aku sudah melacak sedetil mungkin. Tidak mungkin salah. Seharusnya sebentar lagi bel pulang berbunyi, kita tunggu di sini saja.”

  Pria bermasker putih itu mengangguk setuju. Sesungguhnya ia benar-benar tak dapat menahan diri untuk tidak menyeruak masuk ke dalam sekolah dan mencari orang yang ditunggunya sendiri. Ia sudah menunggu sekiaannn lama untuk bisa datang ke Negara ini, bahkan mendapat kesempatan untuk menemui orang tersebut.

  “Hei, Taemin-wajah-tak-santai! Tenang sedikit, kau akan segera bertemu dengannya. Percayalah,” sahut seorang pria lain yang ikut menunggu bersama dua pria tadi.

  Pria bermasker putih yang dipanggil ‘Taemin’ itu meringis kaku dan mengangguk.Ya. Ia tahu bahwa ia akan segera bertemu dengan yeoja bernama Kim Euna yang sudah cukup lama mengambil potongan hatinya. Ia juga tahu bahwa hyung-hyungnya telah membantu amat banyak dan sangat bisa dipercaya. Hanya saja, perasaan seper…

TING TONG TING TONG….

  Bunyi bel dari dalam sekolah memotong pikiran Taemin. Bel usai sekolah! Sebentar lagi gerombolan murid akan keluar. Lantas, apa yang harus ia lakukan? Tetap berdiri di pinggir jalan begini? Atau mendekat ke gerbang sekolah? Atau menunggu di dalam mobil saja? Bagaimana kalau ternyata ia sudah berubah dan sulit dikenali? Bagaimana jika ia malah balik tak mengenali Taemin? Bagaimana kalau ternyata banyak SHAWOL di sini?

  Taemin dan keempat hyung-nya segera memperketat penyamaran dan berusah sebisa mungkin untuk tidak tampil mencolok.Dengan amat teliti, mereka memperhatikan tiap-tiap murid yang keluar dari sekolah. Namun setelah setengah jam mengamati, mereka tak melihat sosok Euna berjalan keluar sekolah.

   “Ah hyung… bagaimana kalau ternyata ia naik motor dan pakai helm, sehingga tadi kurang kita perhatikan?” bisik Taemin mulai merasa kecewa. Ia sungguh tak ingin kehilangan kesempatan satu-satunya.

  “Mungkin saja. Tapi menurut data yang sudah aku dapat dia itu tidak bisa…” ucapan Onew hyung tertahan ketika matanya menangkap sosok gadis yang berjalan riang bersama kelima temannya.

  Gadis berambut ikal dengan mata besar. Suara tawanya yang renyah dan nada bicaranya penuh ketegasan. Ia berjalan riang dengan tas belang-belang tersampir di pundaknya. Kim Euna. Masih mudah dikenali. Hanya saja ia terlihat lebih…. Kurus.

  “Itu dia!” pekik Taemin dengan suara tertahan. Ia dapat merasakan desiran hangat di dadanya ketika melihat senyum gadis itu. Kim Euna kembali hadir di hadapannya. Tapi tak urung, kepanikan dan ketakutan ikut berkelebat di kepalanya. Bagaimana kalau Euna benar-benar membencinya? Bagaimana kalau Euna menganggapnya pria aneh yang cepat jatuh cinta? Bagaimana kalau teman-temannya anti K-Pop dan mendoktrin pikiran Euna? Bagimana… bagaimana…

“Kau tidak menghampiri dia?” suara Minho memecah pergumulan di kepala Taemin. “Mereka semakin jauh, loh…”

 Masih ragu, Taemin berdiri mematung. Ia juga sadar kalau sosok yang dirindukannya itu bergerak semakin menjauh. Tapi ia masih bingung harus berbuat apa setelah sekian lama—

“Sana, cepat!” Jonghyun mendorong tubuh dongsaengnya tak sabar. Cepat, sebelum kita kehilangan jejak. Well, sebelum kau benar-benar kehilangan dia…”

Taemin menelan ludah, bimbang. Namun pada akhirnya, ia melangkah pelan, berusaha terlihat tidak mencurigakan, mulai mendekati Euna. Ketika jarak mereka semakin dekat, ia memperlebar langkahnya dan menjulurkan tangan, hendak menepuk bahu gadis itu.

Tapi salah satu temannya sudah terlanjur menengok kebelakang—menyadari keberadaan orang asing di belakang mereka. “Oh!” pekik gadis itu kecil. Ia sedikit tersentak, diikuti pandangan teman-temannya—termasuk Euna—menatap aneh ke arah Taemin.

Panik, Taemin menarik kembali tangannya dengan gelagapan. “Ah… Euna…” desisnya seraya menunjuk ke arah Euna dengan dagunya.

“Euna?” salah seorang gadis berambut panjang terurai memiringkan kepalanya bingung. Orang yang ditunjuk hanya diam dengan raut yang sulit terbaca.

“Ahh… no… no problem… nothing…” balas Taemin kalap. Ia meringis dan berbalik pergi.

Tidak bisa. Ia terlalu takut. Dan bingung. Tak memperdulikan apapun, ia bergegas masuk kembali ke vannya. Keempat hyungnya duduk tegak menatapnya dengan tatapan tajam.

Onew menghela napas kesal, “Kenapa kabur, sih? Payah!” cecarnya.

Yang lain ikut mencibir. Taemin mendesah bingung. Ia sendiri tidak mengerti, mengapa keberaniannya menguap begitu saja.

“Ahjussi, ikuti anak itu dong,” pinta Taemin pada supir mereka. Ia menunjuk Euna dan teman-temannya. Sang supir mengangguk dan mengikuti kendaraan umum yang dinaiki keenam gadis yang dimaksud.

Perjalanan sekitar 1 jam mereka tempuh sebelum akhirnya gadis ikal yang mereka kejar turun dari kendaraan umum tersebut dan berjalan pelan memasuki sebuah perumahan. Atas perintah Taemin, van hitam yang ia naiki mengikuti gadis itu perlahan.

“Sesungguhnya, kalau aku adalah Euna, aku akan seratus persen sadar ada van yang mengikutiku,” ujar Minho, masih menatap keluar jendela.

Taemin angkat bahu, “Sebenarnya aku juga berpikir begitu. Tapi ya sudahlah…”

Pembicaraan tidak dilanjutkan karena Euna tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah. “Ini rum—” Taemin tidak sempat melanjutkan kata-katanya ketika Euna dengan gerakan kilat menoleh ke belakang dan mengambil langkah cepat mendekati van.

Ia berdiri tepat di depan van. Menatap dalam diam. Benar-benar hanya berdiri dan menatap. Tidak tahan, Taemin kemudian turun tanpa menggunakan penyamarannya.

Berbagai imajinasi berkelebat di kepalanya. Rangkaian pertemuan setelah setahun berpisah, layaknya yang ia tonton di TV. Euna akan menangis, ia menjelaskan semuanya, Euna berusaha kabur, ia kejar, Euna menangis lagi, ia peluk, kemudian—

Long time no see!” suara Euna memecah keheningan. Jauh di luar perkiraan Taemin. “How’s life?

Taemin tercengang mendengarnya. Euna menyapanya benar-benar seperti tak pernah ada yang terjadi di antara mereka. Seperti tak pernah ada insiden di dorm SHINee. Seperti ia terkena amnesia. Seperti—

“Well, dari yang kulihat, kau tampak baik-baik saja, bukan?” tanyanya, terlihat santai.

Taemin menelan ludah bingung. Kecewa.

“Kau…”

Euna meringis sedikit, “I really miss that voice…

Taemin mengerjap-ngerjap tidak percaya. Berujung pada kekesalan, ia berseru geram, “Ya! Apa-apaan ini! Setelah beberapa lama tidak bertemu dengan cara yang dramatis, kau sekarang menyapaku seperti tak pernah ada apapun yang terjadi? Kau lupa padaku?”

Taemin merasa, imajinasi dramanya hilang sudah. Kalau begini ceritanya, malah terkesan Euna-lah pria yang tak bertanggung jawab, dan Taemin adalah wanita korban harapan palsu. Hal ini jelas membuat Taemin keki.

Euna terkikik geli, “Tentu saja tidak. Kalau aku lupa, mana mungkin aku menanyakan kabarmu?”

Taemin menganga tak percaya. Bahkan Onew, Minho, Key, dan Jonghyun yang mengawasi dari dalam van bergeming melihat Euna. “Hebat,” Onew bertepuk tangan pelan, “Memang dia itu anak aneh, atau dia ahli mengatur emosi? Bagaimana mungkin ia bisa bicara sedatar itu?”

Jonghyun meringis, “Pilihan kedua. Tampaknya ia memang jago akting.”

Masih dengan cengiran khas-nya, Euna kembali bertanya, “Bagaimana kau bisa ada di sini?”

“Menguntitmu,” jawab Taemin cepat, dengan perasaan yang campur aduk.

Gadis berambut ikal itu malah tertawa, “Babo! Maksudku, di sini, di tempat ini,” ia menghentak-hentakan kakinya, sama seperti dulu, ketika Euna dan Taemin bertemu dalam hujan di depan dorm SHINee setahun lalu.

Taemin mengehela napas. Ia jelas ingat kenangan itu. Raut wajahnya kembali menunjukan penyesalan. “Maaf,” bisiknya. Satu kata inilah yang seharusnya ia ucapkan dari dulu.

Kini ganti Euna yang tercenung mendengar bisikan itu. Susah payah ia mengatur perasaan dan ekspresinya. Akhirnya runtuh juga hanya dengan satu kata itu. Namun, bukannya menangis, ia malah mencibir kesal dan membuang muka.

“Kau tahu,” ia terdiam sesaat, kemudian kembali menatap Taemin. “Ternyata tidak mudah melupakan kejadian itu. Kupikir aku akan sangat membencimu. Tapi ternyata, menghapus fotomu saja aku tidak tega,” ia mengacungkan ponselnya sesaat dan tersenyum hambar. “Dan sejujurnya, aku sangat-sangat-sangat terharu ketika melihatmu di sekolah tadi. Dengan penyamaran konyol—”

Taemin tak membiarkan kata-kata Euna selesai. Ia melangkah cepat dan merengkuh Euna dalam pelukannya. “Bogosipeo…” tandasnya.

Tidak berusaha melepaskan diri, Euna mengangguk-angguk pelan, “Aku tahu,” ia terdiam sesaat kemudian menambahkan, “Aku juga.”

Taemin melonggarkan pelukannya dan menatap gadis di hadapannya, berusaha menelaah isi kepalanya. “Kau… tidak marah?”

“Yah… awalnya jelas aku marah. Tapi lama-lama aku malah sedih kalau ingat SHINee, Korea, atau apapun itu. Aku merasa, aku juga jahat, tidak berusaha memikirkanmu. Eng, maksudku, aku yakin kau pasti merasa tidak enak, jadi yah…” Euna mengedikan bahu dan meringis pelan.

Taemin kembali menatap gadis dihadapannya. Benar-benar di luar dugaannya. Kini ia bingung harus senang—karena Euna tampaknya tidak marah, atau kecewa—karena Euna tidak memberi respon dramatis seperti yang ia harapkan.

“Ah, ada satu hal,” lanjut Euna, kini tampak agak canggung, “Aku ingin tahu, kenapa kau harus jauh-jauh kesini, dan kenapa kau… ng…” ia berhenti sejenak, wajahnya sedikit bersemu ketika ia melanjutkan, “Kenapa kau… melakukan itu… dulu…”

Paham apa yang dimaksud, Taemin meringis, juga dengan wajah yang mulai memerah. Masih dalam pelukan longgar, ia menjawab, “Tentu saja karena aku menyukaimu, Bodoh!”

Kedua pasang mata itu bertemu dalam diam. Masing-masing menyadari sesuatu di rongga dada mereka berdegup lebih cepat. Merasa wajahnya terlalu panas, Taemin kembali mendekap Euna erat. “Bisa tidak, jangan tanyakan hal yang membuatku malu begitu?”

Euna tersenyum simpul dan mengangguk. Ia mengangkat kepalanya dan kembali menatap Taemin, “Tau tidak?”

“Hmm?”

“Aku terlalu senang. Saking senangnya, aku tidak bisa menangis. Aku bahkan masih merasa ini mimpi.”

Taemin melepaskan pelukannya dan mengetuk pelan puncak kepala Euna. “Ini nyata,” ia berkacak pinggang menatap gadis polos di depannya, “Dan percaya tidak, aku awalnya berharap pertemuan kita akan seperti di drama-drama. Kau menangis dan semacamnya. Ternyata setetes air mata pun tidak ada. Kau bahkan dengan santainya menyapaku.”

Euna terkekeh sesaat, “Apa boleh buat. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan bertingkah berlebihan seperti dulu itu. Saat itu aku menangis Karena kupikir kau bermain-main dengan ciuman tolol itu. Dan sudah kubilang, aku ingin melakukannya di altar pernikahan.”

“Tapi aku bersungguh-sungguh. Kalau main-main, untuk apa aku ke sini?” Taemin kembali mengetuk kepala Euna. “Intinya…” ia mengehela napas sesaat, “Nae kkeo haejulae?”

Euna terdiam sesaat, kembali bersemu, sebelum akhirnya tertawa dan mendorong pelan tubuh Taemin. “Cih. Sangat tidak romantis!” tapi kemudian ia mengangguk-angguk sebagai jawaban atas pertanyaan Taemin.

Melihat gadis di depannya tersenyum malu-malu begitu sungguh membuat Taemin gemas. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya, menatap wajah gadis itu dari dekat, “Kalau begitu, setidaknya sekali lagi saja, aku boleh melakukan ini, kan?”

Euna mengerutkan alis, “Apa?”

Taemin tersenyum sesaat, “Te amo!” bisiknya. Kemudian dengan gerakan super cepat, ia mengecup kilat Euna, tepat di posisi dimana ia mengecup gadis itu setahun lalu.

Sebelum dihajar, Taemin segera melarikan diri dan tertawa puas, menjauh dari Euna yang masih tertegun kaget. Detik ketika Euna berhasil mengumpulkan kesadarannya, ia beranjak dari tempatnya, mengejar Taemin yang masih terkekeh-kekeh.

“LEE TAEMIN!!! KEMARI KAU, DASAR SIAL!!”

***

“Aigoo… aku tak menyangka mereka akan berakhir begini,” Minho menggelengkan kepalanya, memperhatikan Taemin-Euna yang masih kejar-kejaran.

Key memperbaiki posisi duduknya dan meringis takjub, “Aku juga. Aku tak menyangka akan jadi sesimpel ini. Tapi sungguh, kupikir akan ada tangis-tangisan. Ternyata malah ditutup kecupan nakal dari maknae kita yang sudah dewasa.”

Onew tersenyum simpul melihat ulah dongsaengnya. “Dia yang cuek dan terus terang seperti itulah yang disukai Taemin. Berharap ada adegan romantis seperti di TV? Hahaha…”

Jonghyun mengangguk setuju, “Well, dia memang berbeda dari gadis lain. She’s indeed Kim Euna,” tandasnya.

 

*END*

                                

a/n: BAHAHAAHAHA Hai semua. Maaf telah membuat kalian menunggu setahun :’) Dua kali aku bikin part ini, dan selalu berujung pada laptop rusak dan data keformat. Akhirnya aku membuat sedikit twist effect pada pertemuan mereka. Maaf kalau jadinya fail, agak maksa, dan freak abis. I’ll do better next time. Jangan lupa comment :’D Hahahahaha THANKS A LOT<3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s