The Return of Mine

Cast: Onew, Kim Taeyeon

Genre : Romance

Length : Oneshot

Disclaimer : Onew (Lee Jinki) and Taeyeon belong to God, their parents and SME own him now. But this story is mine :3

Note: Pernah dilombain dan dipost di blog http://specialshin.wordpress.com/ tapi cuma jadi runner up. Dan cast awalnya adalah Sungmin-Yoonji tapi aku ganti dan aku repost :D Tulisan yang pake Italic itu flashback yah.

*          *          *

   Ketika jiwamu penuh terisi rasa bahagia, kau mungkin akan tersenyum pada segala hal. Ketika jiwamu mendapat kejutan yang menyenangkan, kau mungkin akan selalu melantunkan ucapan manis. Namun ketika semua berubah, ketika milikmu yang berharga telah menjauh, dapatkah kau tetap tersenyum dan berucap manis? Atau lebih baik menutupi segalanya, menjadi dirimu yang penuh binar bahagia, membiarkan hatimu terinjak dan terkurung dalam kepiluan?

Bahkan aku pun sering terperangkap dengan pikiran itu. Terbelit dalam pertanyaan yang menyesakkan. Mungkinkah milikku yang berharga itu kembali? Aku selalu ingat segalanya, aku ingat setiap detik waktuku bersamanya. Aku selalu ingat, betapa bahagia mendengar satu kata ajaib itu meluncur dari bibir manisnya.

   “Kau ingin boneka panda itu?”

   Aku menatap sosok di depanku dengan wajah terbaikku. Kuselipkan seutas senyum manis di bibirku, membiarkannya mengelus kepalaku dengan lembut.

   “Baiklah. Kau tunggu di sini, aku akan segera kembali.”

   Tak ada yang dapat kulakukan selain menatap punggungnya yang bergerak menjauh. Menunggunya kembali bersama boneka yang sudah lama kuinginkan. Namun pada akhirnya, ia kembali tanpa membawa apapun, bahkan sehelai bulu pun tak tampak dalam genggamannya.

   “Tutup matamu.”

   Masih sambil berusaha menutupi rasa kecewaku, kututup mataku perlahan. Kurasakan sesuatu bergerak di dekat kepalaku, di dekat leherku. Dan hanya butuh beberapa detik sebelum akhirnya sesuatu yang tipis dan dingin itu menggantung di leherku.

   “Buka matamu.”

   Aku selalu tak bisa menolak permintaannya. Maka dengan amat perlahan, kubuka mataku, langsung mengarahkan pandanganku pada leherku. Dan disanalah panda itu berada. Berukuran amat kecil, berlapis perak dengan kilau permata di tepian tubuhnya. Sebuah kalung dengan bandul panda menggantung manis di leherku.

   Kutatap sosok di depanku yang tengah tersipu malu. Namun ia menatapku lembut dan dalam. Ia kembali mengelus kepalaku lembut, mengalirkan kehangatannya. Dan dengan suara ringan yang menenangkan, kata ajaib itu mengalun dari mulutnya.

   “Saranghae…”

Bukan. Bukan berarti aku ini manusia lemah yang selalu menjebak diriku sendiri dalam kesedihan. Namun kenangan indah itu terus terekam dalam kepalaku, seperti kaset yang rusak, tidak bisa berhenti, hanya memainkan satu adegan yang sama.

“Ada apa, Kim Taeyeon?” pertanyaan Euna membuyarkan lamunanku.

Aku menatapnya kikuk dan menggeleng pelan. “Tidak ada. Aku hanya memikirkan anjingku yang sedang sakit. Ia mual-mual seperti orang hamil,” jawabku asal.

Kim Euna menatapku sesaat dan mengedikkan bahunya. “Baiklah. Selama kau tak memikirkan pria itu, kurasa kau dalam keadaan baik.”

Aku tersenyum simpul mendengar celoteh gadis berambut ikal itu. Ia memang tahu seluk beluk kisahku. Ia tahu bagaimana proses hubunganku dengan pria itu. Ia tahu mengenai kecelakaan dan kepergian pria itu. Ia tahu segalanya tentang pria itu; Onew.

“Sudah kubilang, kau hanya akan menyiksa dirimu saja,” Euna masih melanjutkan omelannya, “Melihatmu menunggunya dan memikirkannya seperti ini, sungguh membuat mataku sakit. Kau tahu, kau sangat buruk dalam berakting.” Ia sedikit mencibir dan melanjutkan, “Aku mengerti rasa bersalah atau sedih atau apapun itu yang kau rasakan, tapi jangan paksa dirimu seperti ini, menyembunyikan kegelisahanmu sendiri, padahal aku ada di depanmu, siap mendengar segalanya. Atau kau memang ingin melihatku membeku di sini tanpa berbuat apapun?”

Aku terkekeh mendengarnya. Kuaduk cappuccino di hadapanku untuk yang kesejuta kalinya. Udara dingin tampaknya sudah membuat bibirku kaku. Andai saja ia masih di sini, ia pasti akan mengomel dengan wajah bodohnya lagi.

   “Astaga, Kim Taeyeon… apa yang kau pikirkan? Pakaian apa itu?” omelnya.

   Aku mencibir. Baru saja datang, sudah marah-marah begitu. “Apa yang salah dengan pakaianku?” balasku tak kalah ketus.

   Ia balik mencibir, “Aisshhh… kau ini bodoh atau apa? Salju sudah turun dan kau tak memakai mantel? Kau pikir jaket putihmu itu bisa menahan dinginnya udara ketika bersalju?”

   Aku hanya diam menatap pakaianku sendiri. Memang, sudah dari tadi aku menggigil menahan dingin. Bagaimana tidak? Ia mengajakku bertemu di taman terbuka ketika bersalju, dan bahkan sempat-sempatnya datang terlambat. Mantelku belum kering sehabis dipakai hujan-hujanan kemarin. Kemudian, yang dilakukannya sekarang hanya mengomel?

   Masih sibuk dengan pikiranku, sebuah benda cokelat tiba-tiba menghalangi pandanganku. Mantel?

   “Pakai ini.” Onew menggoyangkan mantel cokelatnya di hadapanku. Ia membuang muka, tak mau menatapku. Tapi aku bisa melihat semburat merah di wajahnya. Apakah ia kedinginan? Atau ia malu?

   Aku terkikik melihatnya. “Ada apa? Mengapa kau tak mau menatapku? Kau malu?” godaku. Kutarik tangannya, berusaha membuatnya menatapku.

   Tapi wajahnya malah makin memerah. Ia menarik tangannya dan kembali membuang muka. “T-Tidak. Tentu tidak. Aku kedinginan,” elaknya kikuk. “Cepat pakai! Dasar bodoh!”

   Aku tak kuasa menahan tawa. Melihatnya merona begitu saja sudah membuatku cukup hangat.

“KIM TAEYEONI!!” teriakan Euna kembali menarikku ke alam nyata, meninggalkan lamunan indahku. “Kau ini kenapa, sih? Apa musim dingin selalu mengingatkanmu padanya?”

Musim dingin? Tentu. Musim dingin adalah waktu dimana kami menghabiskan banyak waktu bersama, mengukir berjuta kenangan manis yang kini malah menjadi pisau yang tajam.

Aku menggeleng pelan, “Tidak juga. Aku hanya memikirkan Daegeum. Kasihan kalau anjing kecil itu terus mu—”

“Taeyeon-ah…” Euna memotong ucapanku. “Berhentilah mengelak. Sudah lebih dari setengah tahun kau melakukan ini. Jangan menekan dirimu dan menyimpan semuanya sendirian. Ayo, cerita saja. Aku tak keberatan mendengar cerita yang sama untuk yang kesejuta kalinya.”

Kutatap gadis di hadapanku itu. Aku jarang mengakui semua ini—kecuali padanya, tapi sekarang rasanya aku memang harus menumpahkan pikiranku lagi. “Dia amat istimewa—tentu. Dia yang selalu menemaniku mengerjakan semua tugasku. Dia yang akan mengiringiku bernyanyi. Dia yang bernyanyi untukku ketika suaraku serak. Dia yang sering menatapku dengan matanya yang teduh. Dia yang tak pernah berhenti menyunggingkan senyum manis di bibir tipisnya. Aku tak bisa melupakannya begitu saja. Kau tahu, kejadian naas itu berlangsung di depan mataku… mungkin, aku ini penyebabnya…”

Kini Euna menatapku kasihan. Ia tersenyum sedikit dan mengelus bahuku lembut. “Jangan bicara begitu, Taeyeon-ah… Bukan kau yang menabraknya. Jangan bertingkah seperti ini. Sekarang ia pergi, mungkin demi kesehatannya, juga demi kau. Agar kau tak terlilit dalam perasaan bersalah…”

Aku menghela nafas panjang. “Aku sendiri tak mengerti, Euna-ya… Aku merasa… Entahlah… Aku yang menyuruhnya datang dengan cepat… tapi… Ahhh… aku bahkan belum menjenguknya. Ketika aku datang ke rumahnya, tetangganya bilang ia sudah pindah ke luar negri. Aku makin merasa tak enak…”

Euna kembali mengelus bahuku. “Aku tahu kau menderita dengan perasaan bersalahmu. Tapi aku akan selalu membantumu. Kau harus kembali seperti dulu, bagaimanapun caranya.”

Aku menatapnya lembut. “Gomawo…”

*             *             *

   “Eomma! Aku pergi dulu!” seruku seraya mengambil roti di meja dengan kasar. Tanpa menunggu jawaban dari ibuku, aku segera bergegas keluar.

Hari ini tepat 3 tahun sejak aku bertemu dengan Onew, nyaris 2 tahun sejak kami memiliki hubungan khusus, dan tepat 8 bulan sejak ia mengalami kejadian naas itu. Aku selalu melakukan rutinitas ini setiap bulan. Datang ke tempat kenangan kami. Tak ada kata terlambat! Ya, terlambat sedikit saja akan membuat waktu terpotong. Padahal aku harus berkunjung ke banyak tempat.

Kakiku melangkah cepat menuju halte bis, menyusuri trotoar yang ditutupi salju tipis berwarna kelabu. Tempat pertama yang harus kudatangi adalah bis. Ya, bis adalah tempat dimana kami tertidur dengan bodohnya.

Bis hijau yang kumaksud datang dengan cepat. Untunglah kali ini bis agak sepi, jadi lebih leluasa untuk bernostalgia.

Aku duduk di pojok belakang. Di sini, setahun yang lalu, aku dan Onew pulang malam dari pesta perpisahan kelas 3. Rasa lelah yang teramat sangat membuatku jatuh tertidur. Kemudian, ketika aku terbangun, aku mendapati Onew—yang duduk di sebelahku—tengah tertidur dengan kepalanya meyandar di bahuku.

Saat itu aku agak panik, takut ia terbangun karena degup jantungku. Tapi pada akhirnya ia dibangunkan oleh supir. Kami telah sampai di perhentian terkahir. Itu tandanya, kami telah kelewatan 3 halte. Ini terjadi gara-gara kami ketiduran saat itu.

Aku masih sibuk dengan kenangan manis itu ketika bis yang kunaiki berhenti di halte berikutnya. Namun aku masih belum mau turun. Kupandangi jalanan di luar yang penuh salju. Kuperhatikan tiap-tiap pejalan kaki yang lewat. Dan mataku terpaku pada sesosok pria bermantel cokelat. Ia memakai topi hitam dan syal abu-abu. Pria itu… Onew?

Aku menggeleng, berusaha menolak pikiranku sendiri. Tidak mungkin itu Onew. Ia seharusnya berada di luar negeri sekarang. “Taeyeon bodoh! Begitu besarkah rasa sukamu padanya? Bahkan kau berhalusinasi di siang bolong begini,” gumamku pelan.

Selanjutnya aku berkunjung ke restoran kimbab di dekat Myeong-dong. Restoran ini kecil namun ramai oleh pengunjung. Kimchi dan kimbab di sini memang luar biasa. Enak, banyak, dan murah.

Aku kembali mengingat segalanya. Disinilah Onew membuatku malu setengah mati. Ia tersedak tiga kali dan tertawa terbahak-bahak untuk menutupi kecanggungannya. Ia sok memesan kimchi tambahan untuk megalihkan kekikukkannya. Tapi sialnya, ia meninggalkan dompetnya di rumah. Saat itu semua pengunjung benar-benar menatap kami dengan pandangan merendahkan.

Aku mendesah pelan ketika ingatan itu mampir di pikiranku. Onew… kau benar-benar telah membuat ingatan yang tak terlupakan.

Aku terus berkeliling, mendatangi sekitar sepuluh tempat kenangan. Tempat kesebelas yang kudatangi adalah NST—N Seoul Tower. Tak ada warga Korea yang tak mengenal tempat ini. Di menara inilah terdapat pagar gembok cinta.

“Tofu Onew! Kau harus selalu bahagia. Jaga kesehatanmu…” gumamku, seraya menuliskan kata-kata itu pada kertas pink yang akan kusematkan di gembokku.

   Onew menatapku dan menuliskan sesuatu di kertasnya. Aku berusaha melihatnya, namun ia terus menghindar. “Setahun lagi, kalau kita ke sini lagi, baru kau boleh melihat pesanku.”

   Aku mencibir, “Kau curang! Padahal aku sudah membacakan pesanku!”

   Ia terkikik,” salahmu sendiri. Aku tak pernah memintamu membacakannya!” balasnya.

   Aku tak berkutik. Memang, aku sendiri yang dengan bodohnya membacakan pesanku. Dan akhirnya, setelah ia menyematkan pesannya, kami mengunci gembok kami bersama-sama dan membuang kuncinya ke bawah. Sebenarnya ada tulisan “DON’T THROW YOUR KEY”, tapi siapa peduli? Kebudayaan harus dijaga, bukan?

Aku menatap gembok pink yang masih terkunci rapat di salah satu sudut pagar. Gembok bulat besar ini dipasang di sudut yang agak kosong sehingga mudah ditemukan.

Kutatap pesan dari Onew: “Nae kwiyeopda Taeyeonnie, yeongwonhi saranghalge”. Onew mencintaiku selamanya… aku tak bisa menahan senyumku. Tepat setahun setelah kami memasang gembok ini, Onew terkena demam sehingga aku terpaksa mengintip pesan ini sendirian.

Aku selalu bahagia melihat pesan ini. Namun kali ini seperti ada sesuatu yang menyodok paru-paruku, membuatku merasa sesak. Aku berusaha menahan air mataku agar tak mengalir turun, membiarkannya menggenang di pelupuk mataku.

Aku mengangkat kepalaku, berusaha mendapat udara segar agar lebih tenang. Dan ketika aku menoleh, aku mendapati seorang pria berdiri tak begitu jauh dariku; hanya sekitar 6-7 meter. Lagi-lagi… Pria itu… Onew? Benarkah itu Onew?

Aku kembali menggelengkan kepalaku. Air mataku pastilah sudah membuyarkan pandanganku, membuat semua pria terlihat seperti Onew. Mengapa hari ini aku banyak berhalusinasi?

Dengan langkah berat, aku segera keluar, menuju tempat terakhir yang harus aku kunjungi. Memang cukup jauh dari NST, tapi aku harus datang ke tempat ini.

Bis hijau yang mulai penuh ini membawaku ke wilayah Gangnam-gu. Aku kemudian berhenti di halte dekat persimpangan. Kembali dengan langkah berat, aku menyusuri trotoar dan berhenti di tepi jalan, di depan zebra cross, tepat di persimpangan yang kumaksud. Persimpangan yang cukup besar namun tak begitu ramai.

Dan fuala! Ingatan itu kembali melayang dalam pikiranku.

   “Mangkanya, datang lebih cepat! Kau pikir aku tidak lelah menunggumu?” omelku pada Onew melalui ponsel yang tengah kugenggam.

   “Ya, ya… aku sudah ada di sekitarmu. Aku ada di sebrang. Kau bisa melihatku?” balasnya.

   Aku segera mengarahkan pandanganku ke sebrang jalan. Di sanalah pria aneh itu berdiri, dengan sweater bergambar ayam goreng dan topi putih, ia melambaikan sebelah tangannya. “Kau lihat aku? Aku sedang melambai. Tunggu di sana…”

   Aku terkikik melihat caranya menengok kiri-kanan. “Cepat, cepat… atau aku akan pergi…” ujarku, masih melalui ponsel.

   Aku bisa melihat tawa di bibirnya. “Ya, ya… hanya empat meter la—”

CKIITTT…

 BRUGH!!!

   Aku tak kuasa menggerakan tubuhku pada detik-detik pertama. Perkataan Onew terpotong ketika sebuah bis melaju dengan amat cepat dari jalan simpang, menghantamnya tanpa ampun.

    Kulihat dengan jelas, tubuhnya terpelanting keras. Ponselnya terseret dan terlindas roda bis sial itu. Air mataku mulai menggenang, mengiringi langkahku yang penuh gemetar hebat.

   “ONEW!!!”

   Kurasakan sesuatu mengalir di pipiku. Aku tak bisa menahannya. Melihat sosok yang amat kucintai terbaring di aspal keras itu… aku… aku…

Oh Tuhan… apakah ini salahku? Berjuta kali aku menanyakan ini. Apa karena aku memaksanya bergerak cepat? Saat itu dia masih hidup. Dia masih bernafas. Ambulans datang dengan cepat, memberikan pertolongan padanya. Bahkan ketika aku hendak menjenguknya di rumah, tetangganya pun telah menjelaskan kalau ia masih hidup. Tapi sungguh, bagaimana keadaannya sekarang, aku jugatak tahu.

“Yeong…won…hi… Sa…rang…hal…ge…”

Bisikan terakhir yang kudengar darinya kembali terngiang-ngiang di kepalaku. Andai aku bisa melihatnya… bisa mengetahui kondisinya…

Dan sial memang. Pandangan kaburku membawaku kembali melihat sosok laki-laki di sebrang jalan. Laki-laki yang mirip dengan Onew.

Aku segera melangkah pergi. Tidak bisa. Kalau aku terus berdiri di situ, aku akan merusak mataku dan mengacaukan pikiranku. Bayangan itu terus datang, membuatku makin gila saja.

Setelah lelah berjalan dan menangis dengan gamblangnya, aku memutuskan untuk beristirahat di sebuah kafe. Aku memilih tempat di tepi jendela, agar bisa leluasa memandang jalan. Setelah cappuccino favoritku dan moon-cake cokelat pesananku datang, aku segera mencicipi semuanya. Makan dan minum seperti ini sering membuatku merasa lebih tenang.

Masih sambil mengunyah moon-cake-ku, aku kembali melempar pandanganku ke luar jendela. Dan mataku segera bertabrakan dengan sepasang mata di luar sana. Mata cokelat tua yang menatapku dengan pandangan sendu.

Mata itu milik pria bertopi hitam yang dari awal telah menggangu pengelihatanku. Aku kembali menggeleng dan mengusap mataku lelah. Namun ketika aku kembali menengok, sosok itu masih berdiri di sana. Nyata.

Aku segera bangkit dan keluar, menghampiri pria itu.

Ia masih menatapku dengan matanya yang sendu. Ia tak berkata apapun, hanya diam dan menatap. Air mataku kembali mengalir tanpa dapat kutahan. “Onew…” bisikku lirih. Aku yakin pria dihadapanku ini adalah milikku yang pernah hilang.

“Onew…” panggilku lagi. Ia masih berdiam diri, tak menjawab panggilanku. “Onew-ya… mianhae…” tangisku benar-benar pecah sekarang.

Dan dalam hitungan detik, tubuh ramping di hadapanku itu menarikku ke dalam pelukannya, merengkuhku dengan kuat, seakan tak mau aku pergi.

“Bogosipeo…” bisiknya dengan suara rendah yang serak.

Aku terhenyak sebentar ketika mendengar suaranya. “Ya! Onew… apa kau baik-baik saja?” tanya sambil melonggarkan pelukannya.

*             *             *

(Onew’s POV)

Aku nyaris tak mempercayai mataku sendiri ketika aku melihat seorang gadis berambut panjang yang tampak familiar sedang berdiri di NST. Aku pikir aku hanya sedang berimajinasi, berhalusinasi, atau apapun itu namanya. Namun gadis itu nyata. Di sana ia berdiri, dengan mata sendu, menatap gembok bulat yang tergantung di sudut pagar. Sesaat ia menatap ke langit, mungkin untuk menahan air matanya.

Dan saat itulah ia menengok ke arahku. Pandangan kami bertemu untuk beberapa saat. Namun ia segera membuang muka dan pergi.

Aku bukan orang buta. Aku bukan seorang pelupa. Aku bisa melihatnya. Aku bisa mengenalinya. Aku ingat semuanya. Aku ingat debar jantungku yang sulit dikontrol tiap aku sedang bersamanya. Aku ingat betapa malunya aku ketika menawarkan mantel padanya. Aku ingat betapa gemetar tubuhku ketika memakaikan kalung panda padanya. Aku bahkan ingat, terakhir kali aku berada dalam pelukannya, di atas aspal yang dingin, aku melihatnya menangis untukku.

Kim Taeyeon…

Sungguh, aku tak dapat mengontrol degup jantungku setiap melihatnya. Melihatnya tersenyum, tertawa, bahkan marah sekalipun. Dan aku merasa tak nyaman, sakit, dan sedih ketika melihat sinar di matanya hilang, melihatnya mendesah, melamun, atau bergumam sendiri. Bahkan sampai saat ini, ketika aku akhirnya bisa kembali menatapnya, aku ingin segera masuk dan memeluknya, menghilangkan pandangan sendu itu darinya.

Namun kini, ketika ia berdiri di hadapanku dengan mata merah, ketika ia berbisik lirih, ketika ia memanggil namaku dengan pilu, aku tak dapat menjawabnya. Haruskah kubuka mulut sialku ini dan menyuarakan suara parau yang tak jelas?

Aku takut… aku takut ia akan membenciku ketika melihat perubahanku. Aku takut ia akan menjauhiku ketika aku tak dapat bernyanyi lagi untuknya. Aku takut ia akan menghilang selamanya ketika aku bahkan tak dapat mengiringinya dengan gitarku.

Aku takut… Aku…

Ah! Persetan dengan semua itu!

Kutarik tubuhnya ke pelukanku dan kurengkuh seerat mungkin. Aku tak peduli seberapa besar ketakutan yang aku rasa. Sudah cukup melihatnya menderita dan menangis begitu. Sungguh, aku tak kuat mendengar isak tangisnya ketika memanggilku.

“Bogosipeo…” bisikku sekecil mungkin, berharap ia tak mendengar suara kacauku. Meski aku tak berniat memamerkan suara parauku, aku tak dapat menahan lidaku sendiri untuk mengucapkan kata mutlak itu. Satu kata yang menggambarkan perasaan yang kutahan cukup lama. Ya, aku merindukannya.

Ia mendongak dan melonggarkan pelukannya kemudian bertanya, “Ya! Onew… apa kau baik-baik saja?”

Aku menatapnya dalam-dalam, masih bergumul dengan pikiranku. Kim Taeyeon… bisakah kau tetap di sini meski aku bukanlah Onew yang dulu? Bisakah kau tetap berada dalam pelukanku meski aku tak bisa mengalunkan melodi indah untukmu?

“Onew-ya… ada apa denganmu? Kau flu? Sakit tenggorokan?” tanyanya lagi.

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Flu? Sakit tenggorokan? Apakah tepat jika menanyakan hal polos begitu ketika sedang bertemu kekasihmu yang sudah tepisah beberapa tahun?

“Apa kau baik-baik saja? Kau sudah sehat? Kemana saja kau selama ini? Apa kau ‘kehilangan’ sesuatu?” ia terus bertanya dengan nada yang semakin khawatir. Ditatapnya seluruh tubuhku, memastikan tak ada organ yang hilang.

Aku tergelak sesaat. “Aku baik-baik saja,” jawabku singkat, masih berusaha menutupi suara parauku.

Aku yakin, Taeyeon ingin bertanya lebih jauh. Tapi ia mengundurkan niatnya. Ia menatapku dan memelukku lagi. “Aku tak tahu harus bagaimana sekarang. Aku senang kau ada di sini lagi…”

Aku kembali tertawa. Kubelai kepalanya lembut dan kulepaskan pelukkannya. Kutatap mata almond-nya yang telah mendapatkan kembali sinarnya. “Ayo ke dalam,” ajakku, dan kutarik ia kembali ke dalam kafe.

“Onew-ya… mianhae…” ulang Taeyeon ketika kami sudah berada di kursi kami. “Gara-gara aku memaksamu bergerak cepat, kau jadi mengalami kejadian menyedihkan itu. Sungguh, aku tak bermaksud jahat. Aku benar-benar tak menyangka akan ada bis gila yang menabrakmu seperti itu,” ia berhenti sesaat, berusaha mengatur nafasnya dan kembali melanjutkan, “Kau tahu, saat melihatmu terbaring tak berdaya begitu, hatiku benar-benar terkoyak. Onew yang kuat dan ceria, berbicara pun susah. Onew yang lembut namun lincah, bangkitpun tak kuat. Karena itu… maafkan aku… aku janji, aku tak akan menjadi bebanmu lagi.” Ia mengulurkan kelingkingnya.

Kulihat Taeyeon tengah memaksakan senyumnya. Namun matanya sudah kembali memerah. Aku balas tersenyum dan menarik tangannya. “Jangan salahkan dirimu. Yang penting, aku masih di sini, di hadapanmu, masih lengkap.”

Taeyeon terkikik sedikit mendengar kata-kata terakhirku. Namun wajahnya kembali serius. “Lalu, luka parah apa yang kau derita? Mengapa harus ke luar negeri segala? Mengapa kau tak memberitahuku? Mengapa kau tak menghubungiku? Dan, mengapa kau sakit lagi sekarang? Apa kau mendadak jadi tak kuat udara dingin? Suaramu bermasalah, Onew.”

Aku tersenyum mendengar semua pertanyaan yang ia lontarkan. “Tak ada yang parah. Hanya gegar otak ringan, keretakan pada tulang belikat dan telapak tangan, pergeseran sendi di lutut, luka-luka ringan… yah, begitu saja. Aku sudah baik-baik saja sekarang.” Aku mengedikkan bahu dan mendesah pelan.

Taeyeon melebarkan matanya. “Kau bilang itu ringan? Oh, sungguh… berterimakasihlah, Onew… kau bisa bebas dari semua itu. Lalu, bagaimana dengan pertanyaanku selanjutnya?” ujarnya lagi, seakan kami sedang dalam penyelidikan.

“Aku ke luar negwri agar bisa sembuh dengan cepat. Terutama karena masalah ini,” aku menunjuk leherku dan melanjutkan, “Kudengar bahwa pita suaraku bermasalah. Ketika dokter di sini berusaha mengoperasi, tampaknya sudah terlambat, aku kehilangan suaraku. Namun orang tuaku tak rela melihatku bisu. Maka mereka membawaku ke Jepang. Eh, Jerman. Mm… atau USA? Mungkin ketiganya? Entahlah, aku tak peduli. Aku hanya memikirkan suaraku… dan kau.

“Aku panik saat itu. Berjalan susah, menggerakan tangan sulit, kepala selalu pening, dan parahnya, tanganku sudah tak mampu memainkan gitar sebaik dulu. Lalu, apa aku harus kehilangan suaraku juga? Tapi yah, Tuhan memang baik. Beberapa dokter terpercaya yang ada di negara itu ikut menanganiku. Dan entah dengan alat atau bantuan apa, aku mendapatkan kembali suaraku. Suara ini. Suara parau yang rendah dan mengganggu.

“Aku berusaha lega dan bersyukur. Setidaknya aku masih dapat bicara. Dan aku masih hidup. Tapi kemudian aku kembali teringat olehmu. Bagaimana jika kau membenciku, menjauhiku, meninggalkanku, atau pergi selamanya karena aku tak bisa menemanimu bernyanyi? Aku mungkin tak bisa hidup normal lagi. Saat itu aku sungguh tak berani menghubungimu. Setidaknya, birapun kita jauh, aku berharap kita terpisah ketika kau menyayangiku. Maaf jika aku egois. Aku sendiri sudah sadar. Karena itu aku kembali. Apapun yang terjadinya, aku akan ambil konsekuensinya. Aku tak mau menjadi pecundang yang egois lagi.

“Sekarang, setelah kembali melihatmu, jujur saja, aku tak ingin melepaskanmu lagi. Tapi kemudian aku berpikir, kalau menjauhiku adalah hal terbaik untukmu, maka pergilah dan berbahagialah. Meski sulit, aku yakin, aku pasti bisa berbahagia melihat kepergianmu. Karena kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Dan kau perlu tahu, aku akan selalu mencintaimu kapanpun dan dimanapun kau berada.”

Aku berhenti dan berpikir sejenak. Dalam bayanganku muncul wajah Taeyeon yang bersedih dengan air mata menggenang di pelupuk mata. Taeyeon tampak tak rela namun terlihat tersentuh. Bayangan melankolis yang membuatku yakin akan pilihan jawabanku.

Namun yang kutemukan di depanku adalah Kim Taeyeon yang tengah menatapku dengan senyumnya yang lebar, nyaris tertawa. Terang saja aku bingung. Dikiranya aku bercanda?

Tampaknya ia mengerti pandanganku. Jadi ia berusaha menjelaskan, “Onew babo!” cecarnya. “Aku tersentuh mendengarnya. Tapi kau sungguh bodoh. Kau pikir aku ini wanita macam apa? Tak mungkin aku meninggalkanmu hanya karena suara dan gitar,” ia menepuk-nepuk punggung tanganku. “Tangan ini memang tampak sangat indah ketika sedang memetik gitar dengan merdu. Yah, mungkin sekarang tak bisa bermain seindah dulu. Tapi tangan ini selalu memiliki kehangatan yang sama. Tangan ini dapat merengkuhku dengan erat, sama seperti dulu. Tak ada yang benar-benar berubah.”

Aku menatapnya, masih terdiam. Ia kemudian mengarahkan telunjuknya ke mulutku dan melanjutkan, “Kemudian, dari mulut itu memang selalu mengalir suara merdu yang menenangkan. Tapi dari situ juga-lah keluar kata-kata indah, tak peduli bagaimanapun suaranya. Kau tahu, aku tak peduli bagaimana suaramu. Selama masih bisa melihatmu di hadapanku, bahkan mendengarmu bicara romantis begitu, aku sungguh tak dapat menahan senyumku. Onew-ku yang konyol telah kembali. Onew bodoh yang amat kusayang…”

Ah! Bikin malu! Wajahku memanas sekarang. Aku melihat senyum hangatnya yang tulus, membuatku kembali salah tingkah. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. “Jadi, kau tidak akan meninggalkanku?”

Ia kembali tersenyum. “Menurutmu?” ia tertawa sedikit, “Tentu tidak. Sudah cukup kegilaanku ketika milikku yang berharga hilang. Sekarang milikku itu sudah kembali. Bagaimanapun kondisinya, aku tak mungkin melepaskannya.”

Aku tak kuasa menahan senyumku. Debar jantungku kembali tak dapat kukontrol, perutku bergolak senang, dan wajahku kembali memanas. Kim Taeyeon bodoh. Apa sepanjang hidupnya ia harus terus membuatku gemetar dan malu?

Kulihat gadis itu bangkit dan mengahampiri salah satu petugas kafe. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah gitar di tangannya. Ia menyodorkan gitar itu padaku. “Mainkan satu lagu untukku,” pintanya tegas.

Aku meraih gitar itu tanpa segan. Aku sudah tak peduli lagi. Kupetik senarnya sebaik mungkin. Sejelek apapun hasilnya, toh, Kim Taeyeon masih tersenyum mendengarnya. Ia masih mau mendengarkan permainanku yang penuh kesalahan. Tangan kaku ini rasanya tak menjadi masalah lagi.

Dan yah… suaraku pun bukan masalah. Aku masih punya Taeyeon dengan suara indahnya. Taeyeon yang mulai menyanyi mengikuti alunan lagu yang kumainkan terlihat jauh lebih baik dibandingkan aku menyanyi mengikuti petikanku sendiri. Kutatap lagi dirinya yang selalu membuatku salah tingkah. Dirinya yang juga membuatku bahagia, membuat masalahku bagai angin lalu saja.

Ya, aku ini milik Kim Taeyeon. Dan pada akhirnya, aku kembali ke sisinya. Bukankah ini akhir yang baik?

**END**

 

Another notes: Well, agak geli yah baca cerita 100% romance plus diksi sok puitis? Sama, aku juga. Tapi yah, pasrah aja. Hahaha Well, I decided to change the character buat my classmate, sebut aja Pepes. Pes, biarpun aneh, semoga ga mengecewakan banget yah😄 Teehee!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s